Hah. Ini nge-tes apa ya? Baru juga pacaran, sudah ngomongin soal warisan. Memangnya aku perempuan mata duitan? Sengaja aku tak menanggapi. Biar saja dia menjelaskan sendiri.
Ada jeda cukup panjang sebelum dia kembali bersuara, "Selama ini aku yang menanggung uang sekolah Gendik. Kalau aku balik ke kotaku, maukah kamu meneruskan?"
Gendik. Gadis kecil pendiam dengan secercah panu di pipi. Ia salah satu murid sekolah minggu di TPI (Tempat Pembinaan Iman) kami. Tak disangka, pacarku yang duitnya pas-pasan selama ini menanggung uang sekolahnya.
Tanpa pikir panjang aku langsung mengiyakan. Aku ini mahasiswi semester empat. Uang saku, kalau kiriman lancar, ya lumayan. Tapi kalau lagi tersendat, sehari sebungkus nasi harus cukup dimakan dua kali.
Modal nekad. Begitu pacarku balik ke kotanya, aku langsung nyemplung. Saat itulah aku berhadapan dengan satu keluarga berisi tujuh kepala yang berjejalan di gubug reyot yang disekat menjadi dua ruangan. Sang kepala keluarga sudah renta. Tak bekerja. Istrinya tak tetap penghasilannya. Putra sulung merantau ke Jakarta. Putra kedua bekerja sebisanya. Masih ada empat putri yang menjadi tanggungan mereka. Aku cuma bisa membiayai SPP seorang saja.
Sejak saat itu, bila ada kelebihan uang, kusisihkan untuk membeli susu barang satu-dua kaleng buat keluarga itu. Bila kiriman uang tak kunjung datang, aku membeli setengah porsi nasi untuk sehari. Sebagian kumakan jam sepuluh pagi, sisanya buat jam empat sore. Tak apa sesekali begini. Anak yang kubiayai malah lebih sering lagi mengalami.
Ketika Gendik lulus dari SMP, kami berboncengan ke sana kemari mencari sekolah lanjutan untuknya. Setelah kenyang berputar-putar selama dua hari, ia menyatakan harapannya untuk memasuki sebuah SMEA. Dalam proses tawar-menawar uang gedung, aku menggandeng seorang guru SMP kenalanku. Akhirnya kesampaian juga mimpi Gendik mengenyam pendidikan SMEA.
Ketika tiba giliranku meninggalkan kota Yogya, tiap bulan uang SPP kutitipkan pada seorang mahasisiwa teologia yang bertugas weekend di TPI itu. Kusertakan pula uang buku bila sedang diperlukan.
Walau nilai-nilai Gendik biasa-biasa saja, tak pernah ia tinggal kelas. Tak pernah pula ada keluhan dari pihak sekolah. Segera setelah merampungkan pendidikan, Gendik menyusul kangmas-nya ke Jakarta.
Setahun kemudian, saat aku menjenguk keluarga Gendik di sebuah kampung dekat pasar Demangan Baru ... aku bertemu gadis itu. Tambah ayu dia. Masih dengan gaya yang sama. Pendiam dan malu-malu. Sorot matanya berbinar kala kupancing untuk bercerita tentang tempatnya bekerja. Tentang uang lembur yang ditabungnya. Tentang cuti seminggu yang diambilnya untuk pulang kampung. Aku bahagia melihatnya. Tak pernah kubayangkan, sebagian uang yang kusisihkan tiap bulan bisa membawa perubahan begitu besar bagi masa depan seorang anak.
Tak ada yang mengetahui kisah ini selain pacarku (kini suamiku), aku, serta pihak-pihak yang terkait (o iya, plus pembaca blogspotku di mana tulisan ini kuunggah seminggu yang lalu). Kini, kisah ini kubagi di sini agar kita bisa belajar bersama. Seperti perkataan Purnomo,
"Jika cita-cita itu masih menyala-nyala, lebih baik lakukan sekarang sebelum nyalanya meredup dingin. Menyekolahkan 1 anak sama dengan membuat sekolah gratis bagi 1 anak itu."
