Doa puasa itu jamak. Puasa senin-kemis, banyak. Naa, kalau yang ini, puasanya berhubungan sama nilai. Jangan salah. Bukan nilai moral. Bukan nilai kemanusiaan. Yang ini nih, nilai sekolah.
Ira (anak klas 1 sd) yang gemuk plus lucu punya mami yang perhatiaaan banget. Asupan makanannya hasil olahan si mami sendiri, biar terjamin gizi n kebersihannya. Bubar sekolah si mami masuk antrean para penjemput setia. Ada kejadian appa aja di kelas si mami tau sampai ke titik koma. Soal pelajaran, ibu-ibu lain belum baca si mami dah hapal luar kepala. Jadi guru privat semua mata pelajaran pun si mami semangat. Pokoknya apa aja deh, beres, buat si anak.
Tapi siang itu masakan olahan si mami utuh. Padahal Ira dah pulang sekolah dari tadi. Ira pun gak sakit, nafsu makan bagus, malah perutnya dah teriak-teriak dari tadi minta diisi. Anehnya Ira cuma diam, sambil sesekali meringis menahan lapar. Padahal jam dinding dah nunjuk pukul tiga sore. Si mami pun masih bangun kok, gak ketiduran.
"Rrrasain!" sergah si mami geram. Untuk kesekian kalinya. Setelah tangannya capek cubat-cubit badan anaknya. "Siapa suruh remidi! Sekarang ndak ussahh makan kamu ya?! Biar kapok! Lain kali gitu lagi ya?!"
Ternyata nilai ulangan mat Ira kurang dari 65, hingga dia harus mengikuti ulangan remidi. Maka atas kebijakan si mami, puasalah Ira kecil selama empat jam. Dan masakan mami yang melambai-lambai di meja makan mesti menunggu sampai murkanya si mami luruh jadi belas kasihan.
Ternyata ... UMR berlaku juga di rumah.
(kejadian beneran, namanya saja yang diubah)