Submitted by y-control on

"Hii, Nanang tadi diantar Boneng.." Seorang anak di sebuah TK berteriak menuding temannya. Anak bernama Nanang itu malu. Pulang sekolah ia mengadu tidak mau lagi diantar oleh Tatang, staf ayahnya yang giginya memang tidak pernah bisa disembunyikan itu. Tatang sendiri sudah biasa dengan cemoohan itu. Sejak kecil ia sering diejek. Ia pernah beberapa kali berkelahi karena dihina anak-anak lain dengan berbagai sebutan terkait struktur giginya. Setelah dewasa, Tatang masuk sekolah teologi. Ia tentu harus banyak bicara di depan publik. Di awal, banyak orang mentertawakan atau mencibir karena gigi Tatang yang tonggos. Mereka mungkin merasa Tatang lebih pantas menjadi pelawak atau harus rela menjadi pelawak yang gembira jika ditertawakan. Namun, seiring waktu, barulah orang-orang bisa melihat Tatang lebih dari gigi atau mulutnya, tapi apa yang keluar dari mulutnya.

Kenapa dengan gigi tonggos? Gigi tonggos menjadi 'masalah' terutama karena sering dikomedikan. Ada iklan tentang cumi alias cucah mingkem. Memang, dalam dunia komedi (Indonesia), saya kira ada 4 bahan lawakan yang seakan selalu diusahakan ada untuk menjamin tawa penonton. Pertama, pelawak dengan gigi tonggos. Kedua, pelawak bertubuh subur (apalagi kalau wanita), ketiga, peran banci, dan terakhir pelawak dengan dialek khas (yang sering adalah dialek ngapak-ngapak Banyumasan, Jawa Tengah, Batak, Sunda, Padang, Madura, Cina, Arab, dan yang keinggris-inggrisan). Nomor satu sampai tiga biasanya dijadikan objek celaan secara langsung, sedang yang keempat biasanya tidak langsung. Pelawak tonggos yang paling legendaris sejauh yang saya tahu adalah Diding Zeta (dikenal sebagai Boneng karena perannya di sinetron Rumah Masa Depan) atau yang dari Malaysia ada Mr. Os. Selain itu, ada juga Dono Warkop, trio bersaudara Mandra, Omas (wanita), Mastur. Untuk yang lain ada Tukul Arwana, Malih Tong Tong, Narji Cagur, Kiwil, alm. Triman, dll. Lawakan seputar gigi tonggos yang klise misalnya adalah gigi terbentur pintu atau tembok. Tapi seperti sudah disinggung, para pelawak itu tentunya memang dengan sengaja menjadikan gigi tonggosnya sebagai bahan lawakan. Jika tidak, pelawak seperti Tarsan, Indro Warkop, Akri Patrio, Joe Project P, alm. U'uk Jayakarta, alm. Nanu Warkop tidak akan terluput dari guyonan tentang gigi maju.

Saya belum mencari informasi tentang penyebab gigi tonggos dan dampaknya menurut ilmu kesehatan gigi. Pernah mendengar kalau bentuk wajah yang berpipi kempot sehingga membuat gigi terlihat kebesaran dan nongol keluar mulut adalah karena kurang gizi. Tapi, belum ketemu referensi tentang itu. Apakah para pelawak terkenal tadi kurang gizi atau mungkinkah Ronaldo yang gempal dan atlet itu kurang tercukupi gizinya? Bagaimana juga dengan saya? Gigi saya sendiri bagian atasnya lebih maju dari yang bawah, sehingga bisa dikategorikan tonggos juga. Meski saat ini sudah agak jarang orang bilang saya tonggos, tidak begitu ketika saya masih SD. Waktu itu, gigi saya besar dan agak maju sementara badan kecil dan kurus. Sekarang, meski masih kurus tapi gigi tidak terlalu kelihatan setonggos dulu lagi. Sebagai orang yang mengalami sendiri, saya rasa pengaruh gigi tonggos terhadap kesehatan tidaklah signifikan. Gigi tonggos memang kadang dapat membuat mulut susah terkatup. Apakah ini membuat gigi cepat kotor atau terkena korosi? Saya kira tidak, karena orang yang giginya sering terpapar angin, debu, dan cahaya akan otomatis menjilat, membasahi atau membilas giginya. Tidak mungkin orang rela membiarkan giginya kering terkena angin begitu saja karena rasanya tidak akan nyaman. Paling-paling yang agak menjadi masalah adalah mulut yang susah tertutup membuat air liur menetes keluar. Karena itu, saya kira orang yang gigi atasnya lebih maju dari yang bawah biasanya kalau tidur ngiler (seperti saya).

Struktur gigi sama-sama kurang sempurna, tonggos tidak seperti gigi ompong atau rahang agak maju (bhs jawa: nyakil). Orang bergigi tonggos kebanyakan tidak punya masalah dalam intonasi bicara. Lihat saja Sammy vokalis Kerispatih atau Tika Panggabean yang tetap dapat menyanyi dengan merdu. Bahkan, kalau melihat Ronaldinho, gigi tonggos malah membuat orang terkesan selalu tersenyum. Ini mungkin kebalikan dengan saya. Gigi tonggos Ronaldinho membuat ia kelihatan selalu tersenyum, sedangkan tersenyum membuat saya kelihatan gigi tonggosnya (karena itu saya agak pelit senyum). Keuntungan lain sudah kita bahas di atas, yaitu bahwa gigi tonggos dapat membawa rezeki bagi para pelawak.

Mengapa orang bisa bergigi tonggos? Melihat dari trio bersaudara Mandra, Omas, Mastur, bisa jadi itu karena keturunan. Tapi, kalau tidak salah ada yang bilang itu bisa karena masalah kalsium (entah bercanda atau tidak). Sementara untuk saya sendiri, kalau ingin menyalahkan, biasanya saya menyalahkan Papa. Alkisah, alm. kakek berprofesi sebagai pembuat gigi palsu. Ia juga membuka praktik pemasangan dan pencabutan gigi. Dari situlah diwariskan beberapa alat pencabut gigi dari besi, bentuknya seperti tang. Sejak kecil, Papa yang menjadi 'dokter gigi' saya. Ketika ada gigi susu yang sudah sangat goyang, Papa akan memanggil saya. Lalu, seperti mencabut paku, tang dicengkeramkan ke gigi, digoyang-goyang sedikit, lalu TEP.. gigi saya dicabut. Setelah itu saya disuruh berkumur, segumpal kapas ditempelkan sebentar sampai darahnya berhenti mengalir, sementara Mama menyuruh saya membuang gigi atas ke bawah ranjang (dengan kaki rapat) dan gigi bawah dibuang ke atas genteng. Jadi, gigi tonggos mungkin bisa juga karena kesalahan waktu mencabut gigi susu.

Gigi tonggos tidak hanya membawa rezeki bagi pelawak. Industri behel (kawat gigi) dan dokter yang memasangnya juga mendapat berkah darinya. Memakai kawat gigi sebagai bagian dari gaya katanya dimulai oleh Tom Cruise. Dialah yang mula-mula dengan percaya diri memakai behel di usianya yang sudah dewasa dan meski giginya tidak tonggos juga. Jika melihat di film-film Hollywood, kawat gigi (dan pipi berbintik atau jerawatan atau kacamata botol) biasanya identik dengan keluguan. Tapi, kini orang dewasa tidak malu lagi memasangnya. Alih fungsi kawat gigi juga terjadi. Dulu, orang biasanya memakai kawat gigi untuk mengatur struktur giginya (terutama untuk anak yang mulai tonggos). Kini, orang dewasa bisa memakai kawat gigi untuk diet. Tentunya kawat gigi zaman ini juga beda dengan kawat gigi zaman dulu. Ada kawat gigi yang berwarna-warni, berornamen, ada hurufnya, dll. Ironisnya, setelah memakai behel, orang-orang yang sebenarnya tidak tonggos itu malah tampak tonggos dan susah mengatupkan mulutnya. Bahkan bukan hanya susah mengatupkan mulut atau ngiler, memakai behel juga sering membuat selilitan. Bahkan, seorang teman ada yang tidak bisa makan daging lagi. Tapi demi badan lebih kurus atau demi tren, hal seperti itupun tidak masalah. Karena menjadi bagian dari tren inilah kemudian lebih banyak orang bergigi tonggos tidak merasa malu memakai behel.

Mungkin ketidaksukaan orang pada gigi tonggos adalah seperti 'ketidaksukaan' orang pada kulit tubuh yang kelihatan. Gigi adalah organ tubuh yang lebih baik disembunyikan. Gigi seharusnya tidak terus terlihat, begitu pikir orang-orang. Apakah karena gigi itu jorok? Tidak, karena di lain waktu orang menganggap senyum memperlihatkan gigi itu indah. Mungkin begitulah pada dasarnya peradaban. Semua hal tidak boleh selalu diperlihatkan, hanya di saat-saat tertentu saja. Gigi tonggos tidak disukai karena mungkin dalam ingatan purbanya, gigi (hewan) adalah sesuatu yang dapat melukai. Gigi melambangkan sesuatu yang liar. Mitologi Jawa memiliki gambaran Buto alias raksasa jahat yang digambarkan gondrong, matanya melotot, giginya besar-besar sehingga tampak menyeramkan. Sementara itu di film komedi, tokoh yang menjadi bulan-bulanan karena gigi tonggos biasanya kebagian peran karakter udik, norak, miskin, dan juga penjahat. Gigi seperti halnya tubuh, dianggap harus ditutupi sebaik mungkin. Tonggos dianggap seperti ketelanjangan. Karena itu, behel bisa diartikan sebagai produk budaya seperti pakaian. Bedanya, gigi menimbulkan ketakutan sedangkan tubuh menimbulkan birahi, dua jenis perasaan yang dapat membuat manusia merasa lemah, tak berdaya karenanya.

Meski saya belum pernah tinggal di negara Barat dan meski gigi tonggos sebagai bahan olok-olok sepertinya tidak terlalu populer di sana (jika dilihat dari film), namun ada kalanya itu tetap terjadi. Stereotipe penggambaran tentang kelompok minoritas di Barat (atau Amerika khususnya) kadang melibatkan gigi tonggos. Orang Cina atau Asia Timur lain misalnya sering digambarkan (dalam bentuk komik atau karikatur) dengan stereotipe mata sipit, rambut lurus, kacamata, dan gigi tonggos. Di sini mungkin yang menjadi olok-olok bukan gigi tonggosnya tapi etnisnya. Jika memang tonggos itu jelek atau bahkan diakibatkan kurang gizi, stereotipe itu jelas sangat merendahkan (lagipula jarang ada stereotipe yang tidak merendahkan).

Wah, bisa panjang juga membahas gigi tonggos. Saya sudah coba googling dan agak sulit mencari pembahasan yang serius tentang gigi tonggos. Mungkin tonggos memang bukan sebuah masalah yang harus dibahas secara serius. Atau mungkin tonggos itu sendiri kurang menarik untuk dibahas serius. Sekarang, apakah Anda masih mengira gigi tonggos dan topik lain yang sepertinya kurang penting itu tidak penting?