Submitted by Purnomo on

Saya menghindari berada di lokasi yang penuh sesak dengan manusia seperti di pasar atau mol karena bila mendadak ada belati masuk ke perut, saya tidak bisa menengarai pelakunya. Juga saya minta istri saya berwaspada. Anak-anak ke sekolah diantar-jemputnya walau jaraknya dari rumah tidak jauh. Saya tidak menemui pendeta saya untuk menjelaskan latar belakang munculnya surat kaleng itu. Bila ia tidak mendoakan kami, apa lagi yang bisa saya harapkan darinya? Lagipula bila saya bersih mengapa harus risih?

  

o –
          Atasan saya yang berkantor di Jakarta lewat telepon menasihati untuk lebih banyak ke luar kota dalam mengantisipasi surat ancaman itu. Saya menolak karena itu berarti saya tidak bisa menjaga keluarga saya. Saya memberikan selembar fotokopi surat itu kepada Lusi karyawan distributor yang merupakan tangan kanan bos mudanya.
          “Lus, kalau aku dibunuh orang kamu siap-siap saja dipanggil polisi karena nama selingkuhanku di surat ini Lisa dan dari semua karyawan perempuan di sini namamu saja yang paling mirip.”
          Dia mengamuk. “Bagaimana aku bisa selingkuhan sama kamu jika setiap bertemu pasti ramai bertengkar menetapkan tanggal pelunasan hutang? Kalau suami aku baca surat ini, aku bisa dicerai!” teriaknya.
          “Kalau begitu berikan saja surat ini kepada bos mudamu untuk direnungkan,” jawab saya.
 
          Dari kantor distributor saya pergi ke Perumnas Kenten untuk mencari alamat pengirim surat itu. Nama jalan ketemu. Nomor gangnya ada. Nomor rumahnya? Di surat tertulis nomor 27 tetapi kenyataannya nomor rumah terbesar di gang itu 26. Pasti sebelumnya si pengirim telah menyelidiki gang ini. Ia tidak berani mempergunakan nomor rumah yang ada. Mungkin takut dicari oleh penghuni yang nomor rumahnya disalahgunakan. Ia bodoh. Seharusnya ia memakai nama jalan yang tidak ada di Palembang. Dengan caranya ini saya memperkirakan si pengirim tinggal dalam perumnas ini dan kebetulan ada seorang salesman distributor berdomisili di sini. Ia telah dijadikan korban.
 
          Saya tidak melanjutkan pelacakan karena tidak melihat manfaatnya. Urusan hutang distributor sudah dapat diatasi dengan penyerahan dokumen 3 rumahnya. Konsep surat pemutusan hubungan kerja telah dikirim dari Jakarta. Namun demikian saya tetap bersikap waspada. Saya menghindari berada di lokasi yang penuh sesak dengan manusia seperti di pasar atau mol karena bila mendadak ada belati masuk ke perut, saya tidak bisa menengarai pelakunya. Juga saya minta istri saya berwaspada. Anak-anak ke sekolah diantar-jemputnya walau jaraknya dari rumah tidak jauh. Saya tidak menemui pendeta saya untuk menjelaskan latar belakang munculnya surat kaleng itu. Bila ia tidak mendoakan kami, apa lagi yang bisa saya harapkan darinya? Lagipula bila saya bersih mengapa harus risih?
 
          Tetapi ada sesuatu yang terus mengganggu pikiran saya. Setiap malam selalu saja saya teringat saat seorang diri mengunjungi Oom Tan dirumahnya. Lelaki tua itu menangis ketika saya menjelaskan tidak sanggup lagi membantu anaknya menyelamatkan perusahaannya yang dulu dirintis dari nol. Anaknya tetap bersikeras mengalihkan modal perusahaan ke berberapa usaha patungan dengan teman-temannya yang tidak jelas prospeknya. Pengalihan modal ini membuat perusahaannya defisit. Atasan saya berbaik hati dengan tidak menghentikan pasokan barang dengan harapan bisa membantu menyehatkan keuangannya. Tetapi keuntungan dari hasil penjualan barang ini tidak untuk mengurangi hutang, tetapi lagi-lagi dialihkan ke usaha patungan itu. Saya perlu jaminan untuk menutup hutang yang makin membengkak berupa surat kepemilikan properti.
 
          “Saya memulai kerjasama bisnis ini dengan baik,” katanya. “Karena itu saya ingin mengakhirinya dengan baik pula. Membangun nama baik tidak bisa dilakukan dalam waktu satu hari. Saya tidak ingin nama baik saya hancur pada waktu kerjasama ini berakhir.”
      Ia meletakkan surat-surat rumah dan tanah yang dimilikinya di atas meja. Ia meminta saya memilih sendiri. Saya menanyakan properti mana yang tidak bermasalah dan mudah dijual. Ia menyodorkan 3 surat rumah, termasuk rumah yang ditinggalinya. Harga jualnya cukup untuk menutup seluruh hutangnya.
 
           “Ambil dan bantu saya menjualnya.”
           “Lalu Oom nanti tinggal di mana?”
          “Saya bisa pindah ke desa menanam semangka. Saya lebih memilih naik sepeda tetapi setiap orang di Palembang tetap menyapa saya dengan hormat daripada tinggal di rumah besar ini tetapi setiap orang mencibirkan bibir waktu menyebut nama saya.”
            Nanar saya memandangnya. Tubuhnya sudah renta dan rapuh. Ia berjalan tertatih-tatih. Tetapi ia tetap teguh memegang prinsip hidupnya dan kehormatannya. Komunitas pengusaha di kota ini memujinya sebagai pedagang yang bisa dipegang bicaranya.
 
          Ingatan ini terus menyiksa saya dan membuat saya bergumul dalam doa mohon Tuhan memberitahu apa yang harus saya lakukan. Suatu hari saya menulis imel panjang kepada atasan saya dengan tembusan kepada presiden direktur. Saya menjelaskan pengakhiran hubungan kerjasama dengan Oom Tan bisa menjadi awal kehancuran bisnis kami di propinsi ini. Tidak ada pedagang yang tidak setuju dengan prinsip setiap hutang harus dilunasi. Tetapi tidak akan ada pedagang – terutama yang datang dari etnis Tionghoa – yang tidak mengelus dada bila demi prinsip ini kami membuat seorang teman yang sudah berjalan beriringan selama 40 tahun dalam masa panen dan masa paceklik terlempar keluar dari rumahnya untuk kemudian tinggal di rumah kontrakan dan makan beralaskan piring plastik. Bila ini tetap dilakukan, para pedagang di seluruh pelosok propinsi ini tidak akan lagi bergairah memajang produk kami. Lalu, kami akan bangkrut menyusul Oom Tan.
 
          Gara-gara imel ini saya diperintahkan terbang ke Jakarta menghadap presiden direktur. Saya diberi waktu 30 menit untuk menjelaskan lebih rinci apa yang saya maui. Doa pendek saya ucapkan dalam hati sebelum masuk ke kamar kerjanya, “Tuhan, tolong kirim malaikat-Mu untuk mendampingi saya.” Sampai saya selesai mengeluarkan semua unek-unek, beliau tidak berkomentar satu kata pun. Ya Tuhan, apa ia tidak mengerti bahasa Inggris saya yang berlepotan ini? Yang ia katakan hanya, “Okey Pur, saya akan membawa idemu dalam rapat dewan direksi. Hari ini juga kembalilah ke Palembang dan usahakan serah terima antara distributor lama dengan yang baru berjalan lancar.”
 
          Seminggu menjelang berakhirnya kerjasama dengan Oom Tan, atasan saya datang ke Palembang. Ia mengajak saya ke rumah beliau. Setelah setengah jam berbasa-basi atasan saya berkata, “Oom ingin apa yang dimulai dengan baik diakhiri juga dengan baik, bukan? Dewan direksi kami juga punya keinginan yang sama.”
          Dari tas kerjanya ia mengeluarkan surat pemberitahuan berakhirnya masa kerjasama yang ditandatangani oleh presiden direktur. Lalu sebuah piagam penghargaan. Kemudian, “Tentunya kerjasama yang hampir 40 tahun itu tidak bisa dilupakan begitu saja. Dewan direksi menitipkan sebuah cidera mata untuk Oom Tan yang kami harap bisa membuat kita tetap mengenang masa-masa kebersamaan kita tanpa perasaan terluka.”
          Ia mengambil sebuah map surat. Saat ia membukanya di depan Oom Tan saya nyaris berteriak. Itu surat kepemilikan rumah yang ditinggali Oom Tan! “Dengan pernyataan tertulis yang bermeterai secukupnya, dewan direksi menyatakan mengembalikan surat rumah ini dan surat kuasa menjualnya kepada Oom Tan sebagai tali asih.”
 
          Saya kuatir Oom Tan jatuh pingsan ketika memeluk atasan saya sambil tersedu-sedu. Rumah itu bukan rumah murah. Setidaknya sekarang bernilai sekitar 1 milyar rupiah. Berapa juta rupiah komisi yang saya terima dari Oom Tan? Tidak serupiah pun. Tetapi jiwa saya dipenuhi rasa syukur yang luar biasa. Saat itulah saya merasakan betapa nikmatnya menngecap kebaikan Tuhan. Terima kasih Tuhan, terima kasih. Inilah berkat terbesar yang saya terima selama bertugas di kota ini. Bagi saya berkat adalah keberhasilan melakukan sesuatu yang menyenangkan Tuhan.
 
          Peristiwa itu begitu cepat tersiar. Pengembalian satu dari tiga surat rumah itu malah makin mengharumkan nama Oom Tan. Melalui tindakan ini sebuah perusahaan besar telah menyatakan hormatnya kepada beliau. Waktu saya memperkenalkan distributor baru di Pasar 16 Ilir seorang pedagang sambil memandang saya dan menggeleng-gelengkan kepala berkata, “Ternyata orang Kristen itu baik, ya.” Saya hanya meringis mendengar keheranannya.
 
          Saya bukan orang baik sehingga tidak mampu berbuat baik tanpa pertolongan-Nya. Malaikat yang Tuhan kirim mendampingi saya ternyata tidak hanya melindungi saya dari ancaman pembunuhan tetapi juga untuk menyemangati saya menulis imel panjang demi kebahagiaan Oom Tan di hari tuanya.
 
 

(end of session)
* semua nama telah disamarkan.
 
Kisah-kisah mistis.
bag 8: Tanda kehadiran utusan Allah - 2.

bag 9: Malaikat menyanyi memberi solusi.