Submitted by Benia Herawati on

 

Desember dua tahu lalu, aku sedang sendirian, berpikir-pikir tentang perjalanan hidup aku, dia juga ada di dalamnya.

Aku mencintai dia, keluhku berulang kali, mengapa aku harus jatuh cinta sama dia, sebenarnya aku tidak ingin jatuh cinta sama dia, itu sungguh berat untuk dijalanin, dipikirkan saja sungguh berat, tapi begitu saja aku menyayanginya, begitu saja namanya, wajahnya, suaranya mengambil tempat di ruang-ruang hatiku, sampai kadang-kadang aku merasa sesak, bertahun-tahun

Ah, coba kamu tanya hatimu yang terdalam kata pikiranku.

Kamu MENCINTAI dia atau hanya MERASA MENCINTAI dia?

emang ada bedanya?

Aku menghapus airmataku dan ingus yang ikutan menyesakkan saluran pernafasanku, emang ada bedanya merasa mencintai dan mencintai?

Merasa mencintai...

Mencintai..

Aku terdiam cukup lama memikirkan jenis perasaanku padanya, iya jangan-jangan aku hanya merasa mencintai saja, bukan benar-benar mencintai dia, bukankah aku sudah memboroskan begitu banyak hidupku untuk merasa mencintai? Kalo aku mencintai dia apa yang sudah kulakukan untuknya?

Aku menangis sejadi-jadinya, rasa-rasanya perasaanku sama dia seperti perasaanku pada ortuku, sodara-sodaraku, kasih sayang yang tidak bisa hilang dan terbantahkan, seperti cinta kepada Tuhan, tidak bisa aku melarikan diri.

Aku ingin memilih dia untuk dicintai...

bahkan aku memaksa,


"Jangan mencintai manusia lebih dari Tuhan." hati kecilku berbisik

Maafkan aku, teriakku sedih, bukan maksudku mengabaikanMU tapi tolong jangan marah kalo aku mencintai dia, bukan hanya merasa, tapi aku sungguh-sungguh, mungkin melebihi cintaku padaMU, tolong jangan menghukum atau mengutuk aku, aku tidak sanggup menghadapi kemarahanMU, aku bilang seperti biji besi terhadap magnet, aku tidak bisa melepaskan diri dariMu, aku tidak bisa melarikan diri dari jangkauanMU, tapi seperti aku tidak bisa lari dari cintaku terhadap keluargaku, aku juga tidak bisa melarikan diri dari perasaanku terhadapnya.

Aku memaksa lagi...

lagi dan lagi di dalam doa dan doa...


Sekarang Desember  baru saja berlalu
Apakah waktu punya gorong2 untuk membawa hilang semua keinginan itu?
Yang tertinggal hanya kenangan


Melepaskan semuanya dan tidak ada sisa luka, bagaimana bisa?
Tuhan juga tampaknya masih berdiam
Masih tegar dengan mauNYA
Namun masih seperti hari2 lalu, seperti biji besi terhadap magnet, aku tidak sanggup melepaskan diri dariNYA

dan Dia tidak memerlukan pilihanku