Memikirkan engkau,
satu-satunya hal yang tak pernah terbayangkan olehku,
apalagi bermimpi berbicara tentang kehidupanku dan kehidupanmu
Mengasihimu,
Bagiku seperti makan makanan hambar tanpa rasa.
Melukiskanmu di benakku,
Seperti melukis sosok ‘alien’ di bayanganku
Menyentuhmu, memelukmu…
seperti halnya sebuah angan yang mustahil untuk terjadi.
Hatiku berkata ingin menemuimu dimanapun kau berada.
Namun pikiranku mengatakan itu kesia-siaan, tanpa guna.
Aku tak pernah mengenalmu lebih dalam. Tak pernah.
Meskipun aku ingin mencintaimu dan mengenalmu, tapi tak pernah kau ijinkan itu terjadi
Kita hanya sesekali saling bicara, tak pernah lebih...
Ingatanku tentangmupun hanya seperti seberkas awan yang tertiup angin, kadang melintas, kadang lenyap.
Nyata atau tidak, meski samar,
Kau ada dekat, meski jauh.. tak tersentuh olehku
Kita ada, tertali ikatan darah.
Ayah kandung kita.
Kakak…
Entah mengapa sore ini engkau berpikir tentangku,…
Menelponku, memintaku mendoakanmu sungguh-sungguh
Kau ingin serius mendekat pada Yesus
Kau sadari usahamu meraih dunia
Kau sadari kekosongan kedalaman jiwamu diantara gemilangmu
Kakak, dari kedalaman jiwaku aku berharap
Seperti aku diampuni, dikasihi, ditebus, dibebaskan
Aku berharap seperti itu juga engkau…
Di sana…
Di suatu tempat…
Diantara samar kenanganku.
Aku ingin bisikkan,
Pengampunan, doa, dan kasih dari kedalaman hati
Adikmu…
Didedikasikan kepada kakak laki-lakiku
yang belum pernah bisa tersentuh olehku
4 Maret 2009