Adalah ibu Atin, nama seorang peminta-minta di KRL Kota-Bogor/ Bogor-Kota. Wajah sederhananya dapat ku ingat. Dulu, ketika kuliah menggunakan transportasi rakyat yang murah, cepat plus banyak copet, aku acap kali melihat ia menyapu lantai gerbong kereta. Banyak mahasiswa yang memberinya coin Rp. 500,- untuk aksinya menyapu lantai gerbong.
Dulu, aku tidak tahu namanya. Aku hanya suka melihatnya di sabtu pagi saat aku naik kereta dari di stasiun Manggarai menuju Depok. Yang mudah diingat dari wajahnya adalah dua gigi kelinci yang lucu miliknya terlihat saat ia mengucapkan "terimakasih" ketika seseorang memberinya uang.
Setahun belakangan baru aku tahu ia bernama Atin, tinggal di bawah kolong jembatan Cawang Atas, sepanjang kali Ciliwung.
Kemarin, kami membagikan sembako di sana. Nama Ibu Atin, ku daftarkan dalam list beberapa hari sebelumnya. Pada hari H, aku yang merekam jalannya acara, melihat ada yang tersendat di bagian registrasi. -He he he, terlalu aneh menggunakan kata registrasi, karena sebenarnya, mereka hanya mencocokkan kupon yang telah mereka miliki kepada "voluntir" dengan list data yang dimiliki oleh "voluntir"- beginilah cara prosedural yang kami cipta dalam membagikan sembako.
Kututup lensa cameraku, dan berjalan mendekati meja registrasi. Irna, voluntir cantik asal Bogor, menerangkan padaku, ada ibu yang kehilangan kuponnya karena kupon yang dimilikinya dicuri adiknya.
Begitu sampai di meja, aku terpesona. Ibu Atin memberiku senyum, dan memperlihatkan kedua gigi kelincinya. Tentu saja senyum itu membuat hatiku tentram, dan ingin melayaninya sebaik mungkin.
Ia pun menceritakan hal yang pada intinya sama seperti yang dilaporkan Irna kepadaku. Hanya saja, cerita pendukung yang ditambahkan Ibu Atin kepadaku membuahkan satu rasa haru lain.
"Adik saya, tadinya tinggal di Citayam, karena ga mampu sekarang tinggal bareng serumah dengan saya. Eh, kupon saya diambil dia. Boleh ga saya dapet, tapi ga punya kupon."
Bukan masalah besar bagiku,jika aku memberinya bingkisan sembako, walau akan menyalahi aturan. Jika tidak ku beri, nurani ini ingin sekali mengabulkan permintaannya. Namun aku tak ada waktu untuk mempertimbangkan semua itu dengan 24 jam, tidak juga dalam 1 jam.
Ia hanya boleh dan berhak mendapatkan sembako dengan menukarkan kupon. Itulah aturan permainannya. Keputusan ku ambil untuknya.
Ia hanya berhak mendapatkan 5 kg beras, 1 kg detergen, 1 kg gula, 5 mie kemasan, 1 botol sardin, dan 1 kg minyak goreng, jika ada kupon ditangannya, sama seperti semua orang.
Bu Atin menerima keputusanku. Dengan menyesali diri, ia menerima kenyataan bahwa kupon miliknya telah diserobot adiknya. Kemudian ia pergi meninggalkan keramaian.
Hatiku pedih melihatnya berlalu dengan tangan kosong. Bukankah aku yang mencantumkan namanya dalam list? Ibu Atin pasti sangat membutuhkan sembako itu. 5 Kg beras gratis! gula, minyak goreng?? Siapa yang ga butuh semua itu sekarang ini!. Rasanya, aku bahkan lebih kecewa dari kekecewaan yang dirasakan oleh Ibu Atin.
Acara selesai hanya dalam kurun waktu 45 menit. Data yang kami miliki cocok dengan kupon-kupon yang kembali. Hanya satu hal tersisa menggangguku. Otakku yang baru tersengat terik matahari ini mengingat perumpamaan yang diajarkan Yesus mengenai "pelajaran menunggu dan berjaga-jaga"
Di Matius 25: 1-13 dengan judul perikop: Gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh.
Dalam menunggu saatnya tiba, kita harus mengetahui aturan permainan yang diberlakukan. Dalam menunggu saatnya tiba, kita harus siap sedia. Jangan sampai kita tidak menikmati pesta perjamuan, atau ditolak dan bahkan jangan sampai kita tidak dikenal sama sekali hanya karena keteledoran kita sendiri.