derap kaki kuda gemuruh roda kereta
tinggalkan kota tersayang istri tercinta
berkepul debu gemuruh makin jauh
dihantar senyum puas sang baginda di atas menara
terpadam gelisah hati seorang perempuan istri perwira
uria, uria
dadanya begitu tegap berlapis lempeng baja
tertempa gemerincing pedang segala perang
terdera gelora rindu dekapan seorang perempuan
namun baginya tersimpan tekad lelaki perkasa :
- tanpa menang tiada kata pulang
tergenggam erat surat perintah raja mulia
tersemat kata mati seorang perwira
tertulis atas nafsu hitam gelegak dosa
menderap kaki-kaki kuda kereta perang dua arah bersilang
kilatan ujung-ujung baja telanjang
berlomba koyak daging merah segar mentah
ringkik mulut kuda penuh busa
pesta pora sadap darah dari dada-dada terluka
uria, uria
tubuhnya bagai para* bergetah
berhias kuntum-kuntum kembang merah
sehari tercecap sudah pada lidah
betapa pahitnya rasa darah
tertebah perut bumi roda-roda kereta musuh mendera
dalam satu putaran dia terpagar
semua tentaranya surut ke belakang
tanpa tanda genderang !
uria, uria
deras hujan anak panah membuat luka empat liang
ketika kilatan pedang merobek pinggang
dia terguling rebah di tanah
pada angin tersisa bisiknya lemah :
- betseba, betseba istri tercinta
untukmu kusimpan cinta suci di lubuk hati
- baginda, baginda kekasih Allah
untukmu kusimpan belati musuh di dada kiri
di atas istana angin terjun ke kamar raja
terpantul pada jendela balik ke rahim langit
tinggalkan desau pilu menyebar ke lima benua :
- betseba, betseba istri perwira perkasa
pasrah tenggelam di lubuk nafsu paling dalam
lumat tertindih birahi raja dua belas negeri
di atas tabut sayap-sayap kerubim menggeletar
gemerisik memilu ketika dalam senyap
para malaikat pengemban murka Allah turun melayang
dengan pedang telanjang mata berlinang
lenyap dalam kepekatan malam kota raja
sayap-sayap kerubim makin erat menutup mata
bagai enggan melihat mentari esok karena
pendar sinarnya tak ‘kan lagi menguapkan harum bunga
namun hanya anyir darah para putera raja
* para = pohon karet