Kecenderungan setiap orang adalah takut dan kuatir untuk memberikan sesuatu jika ia berada dalam kondisi kekurangan. Bahkan tidak segan- segan untuk mengatakan bahwa ia tidak memiliki apa-apa. Kenyataan tersebut berbeda dengan apa yang dilakukan oleh janda di Sarfat terhadap Elia, hamba Allah. Meskipun dalam kondisi serba kekurangan, dia tetap menurut dan percaya, serta berlaku jujur terhadap Elia dan dihadapan Tuhan.
Keberanian janda di Sarfat untuk memberi adalah karena ia percaya terhadap pemeliharaan dan janji Tuhan sebagai jaminan dalam hidupnya (I Raja-raja 17:14). Ia tidak takut meskipun persediaan makanan yang di milikinya hanya cukup untuk dirinya dan anaknya, sehingga Tuhan menggenapi janjinya melalui hambanya Elia.
Dari kisah ini kita dapat belajar, pertama, setiap orang tentu pernah mengalami kekurangan. Firman Tuhan saat ini mengajar kita untuk belajar dari iman janda di Sarfat, dimana ia mau memberi dengan suka cita dari kekurangannya dan mempercayai janji Allah sebagai jaminan hidupnya. Kedua, masih banyak orang di sekeliling kita yang mengalami kekurangan lebih dari kekurangan yang kita alami. Beranikah kita memberi dari kekuraangan kita?
Taatilah dan lakukanlah apa yang Allah perintahkan untuk kita lakukan. Jika Ia memerintahkan kita menolong mereka yang membutuhkan, maka Ia akan memberikan apa yang kita butuhkan, di kala dunia tidak mampu memberikan jaminan kehidupaan kepada kita. Tuhan memiliki waktuNya sendiri dan Ia tidak pernah terlambat
Submitted by
novi
on