Percaya atau tidak, sebuah peristiwa sepele bernama macet itu dapat menunjukkan sosok sesungguhnya para pengguna jalan. Kemacetan sudah menjadi keseharian di kota-kota besar seperti Jakarta atau Surabaya. Namun, di kota kecil nan tenang tempat saya bermukim, penyakit lalu lintas satu ini amat jarang terjadi. Jarang bukan berarti tidak pernah sama sekali. Bila ingin menemuinya, coba saja melintas di Jalan Jenderal Soedirman di pagi hari saat pasar tumpah dibubarkan.Niscaya, ia akan menyapa Anda dan siap menyingkap pribadi demi pribadi yang mencoba menembusnya.
Bagi penduduk Jakarta, misalnya, padatnya lalu lintas di jalur menuju tempat kerja saya itu mungkin belum disebut macet -- hanya sedikit padat merayap. Namun tetap saja, para pengendara kendaraan bermotor yang berlomba menuju ladangnya masing-masing kadang hilang kesabaran dan dengan demikian semangatnya menekan klaksonnya berulang-ulang. Beruntung, tidak semua berlaku demikian. Ada yang demikian sabar menunggu kepadatan itu perlahan mencair, sementara beberapa yang lain mencari jalur alternatif.
Ternyata, satu masalah yang sama dapat memancing kemungkinan pemecahan yang berbeda. Bila diperhatikan cara-cara yang berbeda itu mencerminkan kualitas yang beragam pula; yang sabar berkualitas, yang berang temperamental, ataupun yang kreatif dan pantang menyerah. Benarlah kiranya, ujian tidak hanya berupa soal tes yang luar biasa memelintir otak, ataupun kesulitan amat sangat. Ujian juga bisa muncul dalam bentuk perkara-perkara yang sering kita anggap sepele. "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar."