Submitted by lanskip on

Suatu hari Lancip mengecam seorang pengendara mobil. Awalnya cuma satu pengendara mobil, tapi kemudian ia mengecam semua pengendara mobil. Bukan karena ia belum mampu beli mobil. Bukan juga karena ia tidak bisa naik mobil. Dan bukan karena ia ditabrak atau diserempet mobil. Tapi karena ia terpaksa “belok kiri ikuti lampu”, padahal papan perintah yang terpampang di tiang lampu lalu lintas di depannya bertuliskan “Belok kiri jalan terus”.



Bicara soal papan yang biasa terpampang di tiang lampu merah, Lancip dan pacarnya sering membuat lelucon berkaitan dengan perintah yang ada di papan itu. Biasanya ada dua jenis perintah. Satu, “Belok kiri jalan terus”. Dua, “Belok kiri ikuti lampu”. Sering kali, Lancip dan pacarnya itu bingung dan heran dengan polisi atau entah siapa yang membuat perintah itu. Untuk perintah “Belok kiri jalan terus”. Ini perintah aneh, masa kita mau belok kiri malah disuruh jalan terus …. Nanti kalau kita jalan terus beneran, ujung-ujungnya ditilang, dan yang lebih parah, tabrakan …. Lalu untuk perintah yang kedua, “Belok kiri ikuti lampu”. Perintah ini lebih aneh lagi, masa kita mau belok kiri malah disuruh ikuti lampu. Nah lampu lalu lintas kan bergeming, diam terus di tempatnya, ngga ke mana-mana, koq malah kita disuruh ikuti lampu. Aneh ‘kan?!



Yach begitulah lelucon Lancip dan pacarnya soal papan perintah yang biasa nyangkut di tiang lampu merah itu. Aku cuma bisa berkata dalam hati, “Gila ni orang,” sambil senyam-senyum ngga jelas saat si Lancip menuturkannya.



Oke, kembali ke masalah si Lancip mengecam semua pengendara mobil. Saat itu, Lancip yang sedang akan melalui sebuah perempatan dengan motornya, sebenarnya bisa langsung belok kiri tanpa harus menunggu lampu hijau menyala. Tapi karena ada satu mobil di sisi kiri jalan, jadilah si Lancip tidak bisa langsung belok dan harus menunggu lampu hijau menyala. Lancip jengkel setengah mati. (Catatan: Lancip memang orangnya tidak sabaran). Ia menunggu sambil celingak-celinguk mencoba melihat si pengendara mobil yang ada di depannya. Tidak lama kemudian, lampu hijau menyala dan akhirnya si Lancip dapat melanjutkan perjalanan.



Karena itulah mengapa akhirnya Lancip mengecam semua pengendara mobil. Ya okelah, sebenarnya ngga semua pengendara mobil. Spesifiknya, pengendara mobil yang memakai mobil hanya untuk dua sampai tiga orang saja, apalagi satu orang dan untuk jarak yang relatif dekat. “Mengapa harus pakai mobil kalau yang memanfaatkannya hanya tiga orang, dua orang, dan bahkan satu orang saja, apalagi jarak yang akan ditempuh juga dekat. Kan bisa naik motor … dasar … sudah makan banyak tempat, boros bensin lagi,” begitu kira-kira perkataan si Lancip.



Untuk lebih jelas, aku akan coba rincikan pengendara mobil yang bagaimana yang dikecam Lancip, dalam bentuk poin-poin.



Pengendara mobil yang bagaimana yang dikecam Lancip?



1. Pengendara mobil yang mengangkut satu orang saja (pengendara itu sendiri/supir)

2. Pengendara mobil yang mengangkut dua orang saja (Pengendara mobil dan satu orang dewasa atau anak kecil*/bukan bayi)

3. Pengendara mobil yang mengangkut tiga orang:

    a. Pengendara mobil, satu orang dewasa, dan satu anak kecil/bayi

    b. Pengendara mobil dan dua orang anak kecil/bukan bayi.

4. Pengendara mobil yang isi angkutannya adalah poin 1 atau 2 atau 3 yang menempuh jarak relatif dekat. (Dan mungkin membawa barang-barang yang sekiranya masih dapat difasilitasi oleh sepeda motor.)

*) Anak kecil di situ maksudnya adalah anak yang sudah mengerti bagaimana seharusnya membonceng sepeda motor dan belum harus memakai helm saat membonceng sepeda motor.



Menurut Lancip, seharusnya mereka semua menggunakan sepeda motor saja, tidak perlu menggunakan mobil. Menurut Lancip, keempat situasi di atas dapat dipenuhi kebutuhannya oleh sepeda motor, jadi mengapa harus memakai mobil yang jelas-jelas makan bahan bakar dan tempat yang lebih banyak daripada sepeda motor.



“Bukankah penghematan bahan bakar akan membawa dampak positif bagi kelangsungan hidup kita sekarang dan anak anak cucu kita di masa mendatang, serta bumi tempat kita berpijak?!” kata si Lancip menutup kisahnya.