Submitted by Inge Triastuti on

Anita,

ketika kutulis surat ini gerimis sedang menebar tirai sutera di atas kotaku. Titik airnya menjentiki dedaunan di kebun. Bunga mawar di depan jende­la kamarku meliuk gemulai bermain air. Batang-batang bambu kuning bergesekan menyiulkan lagu seolah ingin mengiringinya.

 

Ah, kau tentu tersenyum membaca kalimat itu dan berkata: "Cinta selalu membuat orang bodoh menjadi penyair dadakan." Namun apabila kau terin­gat nama kekasihku pasti kau akan berdecak dan menggerutu, "Pembatas cinta dan benci setipis kulit bawang."

 

Ita, kau tentu ingat siapa Andreas teman kita di SMA dulu. Tubuh kerempengnya seperti orang berpenyakitan. Komentarnya yang menyakitkan hati tak pernah absen bila kita bertanding melawan kelas lain di lapangan bola voli. Ceriwisnya melebihi perempuan. Pembicaraan apa saja di mana saja oleh siapa saja menjadi kacau bila ia ikut berorasi tanpa permisi. Kesinisan pandangan mata dan ucapannya membuat tidak ada seorang gadis di kelas kita yang menyukainya. Bahkan aku sampai berkata kepadamu: "Daripada menikahi Andre lebih baik aku hidup menemani kakekmu, Ita." Ya, gadis manakah yang mau membayangkan sebuah pernikahan dengan lelaki ini?

 

Ita, pernikahan ayah dan ibuku diteguhkan di gereja. Tentu kau tahu apa artinya ini. Aku lahir dalam sebuah keluarga Kristen. Sejak kecil aku diajar berdoa. Setiap Minggu aku digiring Ibu ke Sekolah Minggu. Sering kurasakan kehadiranku di kebaktian adalah suatu kewajiban rutin belaka. Kebosananku sebentar terobati manakala bersamamu aku ikut melibatkan diri dalam organisasi gereja. Sebentar, karena kemudian aku melihat banyak hal yang membuat hatiku makin sakit. Yang namanya penjilat, si gila hormat, pendengki, pembual, pelagak, si hitam lidah membuat aku ingin muntah. Gereja kita brengsek sekali, itulah yang pernah kau katakan kepadaku. Ketika kau kembali ke kota asalmu, aku tak tahan lagi berada di dalamnya. Aku pergi ke gereja lain. Aku membohongi ibuku dengan mengatakan sedang membujuk seorang temanku pergi ke gereja. Aku harus menuruti ke gereja mana yang ia inginkan. Selama setengah tahun aku berganti-ganti gereja.

 

Sebuah gereja kutinggalkan karena di sana aku bertemu temanku yang mengeluh gerejanya begini begitu. Juga yang lain hanya kukunjungi sekali saja karena aku melihat jemaat­nya tidak bersikap hormat dalam kebaktian. Yang lain kutinggalkan karena pendeta menteror jemaat melalui kotbah-kotbahnya untuk menyetor persembahan persepuluhan.

 

Pada suatu hari Ibu meminta aku pergi mengunjungi tetanggaku. Ia seorang perem­puan berumur hampir 40 tahun. Tinggal seorang diri tanpa sanak keluarga. Saat itu ia terbaring sakit di rumah. Ia ingin aku berdoa untuk kesembuhannya. Kata Ibu hatinya lebih mantap apabila yang mendoakannya seorang pendeta, majelis atau aktivis gereja. Ah, seandainya ia tahu apa yang sedang terjadi dalam diriku pasti tak sudi ia mengundangku. Karena Ibu terus mendesak akhirnya menjelang senja yang mendung aku ke rumahnya seorang diri.

 

Ia berusaha tersenyum melihat kehadiranku di kamarnya. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan kecuali bertanya apa sakitnya dan sudahkah ia ke dokter. Pertanyaanku habis terjawab dalam sekian menit. Ya Tuhan, apa yang harus kukatakan lagi? Kuedarkan pandanganku. Kamar yang sempit berdinding kayu. Bungkus-bungkus obat berserak di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Andai ada setangkai bunga di dalam vas kecil di atasnya, ah ia begitu miskin. Lagi­pula tak patut aku membicarakan bunga di sini.

 

Akhirnya aku mengajak ia ber­doa. Aku tak ingat apa yang kuucapkan sore itu. Doa yang rutin, seperti yang selalu kita ucapkan di awal rapat ini dan itu. Ketika aku membuka mataku, kulihat perempuan itu menangis. Kali-kali kecil mengalir di pipinya.

 

Digenggam erat tanganku. "Siska, saya ingin sekali pergi ke gerejamu. Saya sangat kecewa kepada pendeta saya, kepada majelisnya juga. Sudah dua minggu saya sakit, tetapi tidak ada yang menengok. Malahan Siska yang dari gereja lain mau menyempatkan diri ke mari. Saya tahu saya ini miskin. Tapi apakah hanya karena kemiskinan ini mereka tidak bisa menemui saya? Mengapa hanya nama orang-orang kaya yang disebut dalam doa syafaat di kebaktian? Kapankah mereka yang tak punya apa-apa namanya disebut dalam doa pendeta? Kapankah? Saya tidak akan kembali ke gereja itu lagi. Gereja munafik! Saya akan pindah ke gereja Siska."

 

Langit pun ikut menangis. Air matanya gemerincing memukuli atap seng di atasku. Kugigit bibirku. Ya Allah, aku harus merobah keputusanku. Kemantapan untuk menetap di sebuah gereja lain, yang ternyata di dalamnya perempuan ini menjadi anggotanya, harus kuhancurkan. Aku tak mau membunuh jiwa perempuan ini. Suaraku menggeletar ketika aku berusaha mencegah niatnya.

 

"Kak, anggota gereja kakak hampir tiga ribu orang jumlahnya. Bisakah para majelisnya yang hanya sekian orang itu mengetahui sejelas-jelasnya keadaan satu-persatu anggotanya? Saya yakin apabila mereka tahu kakak terbaring sakit, mereka akan berseg­era kemari. Siska akan memberitahu kantor gereja kakak tentang keadaan kakak. Percayalah, gereja kakak bukan gereja munafik, tetapi gereja yang belum sempurna. Janganlah meninggalkannya. Ke mana pun kakak pergi hanya kekecewaan yang kakak dapat. Di dunia ini tidak ada gereja yang sempur­na. Kelak manakala Tuhan Yesus datang menjemput, kita akan dibawa-Nya ke sebuah gereja yang sempurna."

 

Syukur kepada Tuhan, ia mau mengerti. Tetapi kepada siapa aku tadi berbicara? Di dinding dekatku tergantung sepotong kecil cermin. Di dalamnya kulihat wajahku. Sayu dan letih.

 

Aku terpana di depan pintu gereja. Hujan turun melebat. Becak-becak berebut penumpang di halaman. Aku tak bisa menyapainya tanpa berbasah-basah dalam hujan sederas ini.

 

"Sewa payung, Mbakyu? Seribu rupiah saja," seorang menyapaku dari belakang, dan

"Andre! Sejak kapan kau jadi pengunjung gereja ini?"

"Sejak musim hujan, Mbak. Mari saya payungi. Kamu ini makin besar makin cantik sekaligus makin bodoh. Masakan musim hujan begini tidak bawa payung."

"Waktu berangkat tadi langit terang benderang."

"Mana bisa? Tadi di muka rumah, sepatuku dikencingi anjing tetangga. Itu sudah cukup menunjukkan sebentar lagi hujan turun. Apa anjingmu kamu biasakan kencing di kloset sampai-sampai kamu tak mendapat tanda semacam itu?"

 

Aku berpayung bersamanya mencari becak. Tapi ia menolak ketika kuajak pulang bersama walaupun rumahnya searah. Katanya, "Dengan pakaian seperti ini aku takut dikira sedang menculik puteri pejabat untuk mendapatkan tebusannya."

 

Andre yang sekarang adalah Andre yang dulu juga. Lengannya kurus, tulang pipinya menonjol, sinar matanya mengejek, dan ceriwisnya selangit. Ia senang memancing orang masuk dalam obrolan yang santai dengan mata kekanak-kanakan. Disanjungnya orang itu setinggi mungkin. Pada saat orang itu melambung dengan pongah, mendadak saja ia membantingnya sampai remuk.

 

Pernah kebetulan aku duduk di belakangnya dalam kebaktian. Ia tidak membawa Alkitab dan buku nyanyian. Ia memang selalu begitu. Dengan ramah ia menegur tante di sebelahnya untuk kemudian membonceng buku. Telaten sekali ia melayani tante itu memperbincangkan puteranya yang belajar di Fakultas Ekonomi semester terakhir. Di akhir kebaktian sanjungannya tiba-tiba berbalik drastis. Tante itu tersentak ketika ia berbisik, "Tapi payahnya saat ini banyak sarjana yang menganggur. Semoga kelak anak tante tidak menambah jumlah pengangguran dengan titel sarjananya itu di negeri ini."

 

Ita, aku tidak pernah menegur perbuatannya. Untuk apa? Dan apa kepentin­ganku? Andre adalah Andre, dan Siska adalah Siska. Kami melangkah sendiri-sendiri.

 

Pada suatu hari ia menungguku di gerbang gereja. Ia menemani aku berja­lan pulang. Ini akhirnya menjadi kebiasaan untuk pulang bersama dari kebaktian sore. Bila aku membawa sepeda motor, ia ikut membonceng. Waktu berjalan terus dan sesuatu telah terjadi di antara kami. Kami merasa saling membutuhkan. Aku tak ingat lagi kapan kencan kami yang pertama, atau mana yang patut disebut cium pertama kami. Baiklah, untuk meringkas kisah klasik menjadi lebih singkat. Kami tumbuh dalam cinta, yang dalam dan suci.

 

Ita, setelah aku mencintainya ia tetap berlengan kurus, tulang pipinya masih menonjol dan ceriwisnya tidak berkurang. Namun pergaulan akrab yang sekian lama itu telah membuat aku dapat melihat sesuatu yang lebih dari seke­dar kekurangannya itu. Dalam cintaku ia tidak lagi kurus. Ia kuat. Terasa sekali bila tangannya menggenggam lenganku. Aku merasa aman dalam pelukannya. Keceriwisannya bukanlah sekedar lidah yang menganggur. Kini aku tahu cerewetnya itu akibat ia terlalu memperhatikan orang-orang di sekelilingnya. Sebuah sifat yang tak pernah kumiliki! Namun apabila ia berhadapan dengan orang-orang sombong maka ia akan berusaha meremukkan keangkuhan itu habis-habisan. Kini tak ada lagi yang tinggal sama di antara kami. Cintaku dan cintanya telah merubah diri kami. Kasih kami saling melengkapi.

 

Mungkin dengan surat ini aku telah menjawab dua pertanyaanmu, “mengapa kamu mencintai Andre” dan "mengapa kamu masih betah berada dalam gereja munafik itu."

 

Ita, apa dan siapa yang membuatku mual masih bercokol dalam gereja itu. Tapi setelah aku membukakan hati semuanya tampak berubah. Gereja bagiku bukan lagi sekedar bangunan megah, kumpulan majelis konservatip, kebaktian membosankan, organisa­si acak-acakan, sistim pembukuan keuangan warung tenda. Aku melihat sesuatu di belakang itu semua, yaitu Roh Kudus yang sedang bekerja! Aku mencintai karena aku kini merasa ada di dalam­nya, menjadi satu dengannya dan saling membutuhkan. Tentu saja perubahan ini tidak seketika terjadi.

 

Setelah kunjungan kepada tetanggaku yang sakit itu, aku masih enggan menerima keadaan gerejaku. Pada suatu hari ketika aku membersihkan gudang, dalam sebuah majalah tua kulihat sebuah lukisan. Sebuah kapal abad pertengahan dengan latar belakang kegelapan. Di dalamnya tergambar beberapa orang bertelanjang dada sibuk memperbaiki kerusakan. Wajah mereka tegar, angkuh dan tidak saling mempedulikan. Di tiang utama tersisa carikan layar yang kusam dan tali-temali yang berjuntaian di sana-sini. Ita, aku telah menemukan sesuatu. Inilah gamba­ran gerejaku. Jelek, berantakan, kusut, kotor dan menjijikkan!

 

Tapi sebentar, Ita. Kegelapan di belakangnya sangat menyeramkan. Ya, itulah topan dahsyat yang baru saja melumatkannya. Ketika aku melihat seluruh bagian dari lukisan itu mendadak kapal jelek itu tampak perkasa. Ia bagai tentara yang datang dari medan perang dengan luka-luka menganga di tubuhnya. Luka yang menjijikkan itu tidak membuat aku mual lagi karena aku tahu apa yang terjadi di balik borok itu. Lambat laun aku ingin berada dalam kapal itu. Ikut berjuang memperbaiki kerusakannya dan kemudian ikut berlayar ke pelabuhan terakhir. Mungkin kami akan menemui topan yang lebih dahsyat, bahkan yang mahadahsyat seperti yang dinubuatkan dalam Alkitab sehingga kami akan hilang digulungnya. Kalaulah itu terjadi kami akan mati syahid karena kami mati dalam iman kami kepada Sang Putera.

 

Ita, aku tak akan mencari kapal yang indah tak bercacat-cela. Tak akan kutemui di laut karena kapal yang sedemikian hanya ada di darat, yang tidak pernah mencercah gelombang, yang tak pernah menempuh topan, sebab ia tak pernah mencoba berlayar.

 

Kita tak mungkin mencintai seseorang bila hanya bentuk luarnya saja yang kita lihat. Kita harus mendekatinya sehingga kita tahu apa yang menarik dalam dirinya. Sesuatu yang tak kita miliki tapi kita rindukan. Apabila kita sudah saling mengerti maka kita bisa saling memaafkan untuk kemudian melangkah bersama dan saling melengkapi.

 

Andre adalah Andre, tak ada seorang pun yang sama dengannya. Aku menerima seluruh keberadaannya, seluruh hidupnya. Kelebihan dan kekurangannya, kekuatan dan kelemahannya telah membentuk manusia Andre yang kucintai. Ia adalah pribadi yang unik. Demikian juga Gereja. Hidup tak akan tetap sama setelah cinta tumbuh. Semuanya akan menjadi makin indah di dalamnya. Begitulah hidupku bersama Andre, dan juga kesatuanku dengan Gerejaku.

 

Ita, aku merindukan kamu ada di sebuah kapal untuk berlayar ke Negeri Bapa. Ayolah Ita, jangan tetap berada di darat sia-sia menanti kapal yang indah tak bercacat cela. Sebuah kapal membutuhkan kehadiranmu untuk memper­baiki dirinya. Sebaliknya kau pun membutuhkannya untuk sampai ke seberang sana.

 

Salam sahabatmu,

Siska –