Submitted by Purnomo on
Ketika satpam gereja mengantar seseorang menemui saya, saya tertegun. Lelaki itu berumur sekitar 40 tahun dan mengepit 2 kruk di kedua ketiaknya karena kedua kakinya cacat sejak lahir. Ia membutuhkan uang 790 ribu rupiah untuk memasukkan puterinya ke sebuah SMK. Betapa mengharukan melihat seorang ayah yang berkeliling kota dengan kondisi tubuh seperti itu demi kelangsungan pendidikan anaknya. Setelah 15 menit kami berbincang-bincang, ia meninggalkan gereja dengan kecewa. Ia tidak mendapatkan apa yang ia harapkan.

 

--o--

Teman saya adalah seorang DBD, Diaken Bayangan Dadakan, yang “proyek-proyek”nya membutuhkan tenaga dan dana besar. Ia tidak bisa melihat orang lain menderita. Karena itu ia sering dimintai pertolongan oleh jemaat gereja kami. Bahkan pendeta-pendeta sering mengirim orang yang kesulitan keuangan ke rumahnya.

 

Kemarin ia menelepon saya. Ia akan menolong seseorang yang butuh biaya untuk memasukkan puterinya ke SMK. Ia Kristen, tidak bekerja, isterinya berjualan gorengan. Ia meminta saya memberikan masukan apa orang ini perlu dibantu atau tidak. Saya minta ia menyuruh orang itu menemui saya di gereja dengan membawa surat dari SMK itu yang menyatakan ia harus membayar sumbangan wajib sebanyak Rp.790.000,- dan fotokopi rapot anaknya selama di SMP. Hanya saja ia tidak memberitahu orang ini cacat kedua kakinya sehingga membuat saya tertegun ketika bertemu dengannya. Bukankah orang seperti ini sudah pasti harus ditolong? Mengapa saya harus mewawancarainya?

 

Saya mempersilakan ia duduk. Saya tanya ia berjemaat di gereja mana karena selama ini saya tidak pernah melihatnya di gereja saya. Ternyata gerejanya satu denominasi dengan gereja saya dan saya kenal pendeta yang membaptisnya. “Apakah Bapak tidak meminta bantuan diakonia atau beasiswa kepada gereja Bapak?” tanya saya.

 

Ia sudah berkirim surat ke gerejanya. Sudah lebih satu tahun tidak ada tanggapan. Waktu ia bertanya kepada penatua, jawabnya masih dirapatkan. Selama ini untuk nafkah sehari-hari diperoleh dari hasil kerja isterinya yang menjual gorengan. Tetapi sekarang isterinya tidak berjualan karena harga minyak goreng naik tinggi dan minyak tanah sulit ditemukan keberadaannya. Sekarang ia bingung karena harus mencari uang Rp.790.000 agar puterinya bisa meneruskan sekolahnya. Padahal anaknya pandai, selalu rengking satu waktu SMP.

 

Sementara ia bercerita saya melihat-lihat dokumen-dokumennya sekilas pintas sambil berpikir mengapa gerejanya tidak menyantuninya. Saya tahu gerejanya menyantuni 100 anak lebih. Mendadak mata saya terhenti pada tabel angka yang menjelaskan untuk apa saja uang 790 ribu rupiah itu. Angka-angka itu tidak punya tanda koma desimal, dan rata ke kiri, bukan ke kanan. Apakah pegawai TU sekolah ini tidak dimarahi Kepseknya atas ketidak-rapiannya ini sementara SMK ini punya jurusan manajemen yang mengajar siswanya mempergunakan komputer menulis surat dengan rapi? “Cek font!” mendadak insting saya memberi alarm.

 

Cepat saya meneliti kembali fotokopi rapot anaknya selama 6 semester. Dan, saya memandangnya dengan sedih. “Sekarang Bapak pulang saja. Biar saya yang membereskan masalah ini,” kata saya.

Dia bertanya bagaimana caranya. “Fotokopi ini saya bawa. Saya mau ke gereja Bapak untuk memarahi penatua dan staf kantornya. Bila perlu memaki-maki mereka. Gereja besar itu harus malu tidak memperhatikan anggota gerejanya yang menderita. Setelah itu saya ke SMK ini untuk minta Bapak dibebaskan dari sumbangan. Entah bagaimana caranya saya belum tahu. Yang penting, Bapak tidak usah mengeluarkan uang. Setelah itu saya akan ke rumah Bapak untuk mengantarkan surat pernyataan dari sekolah bahwa anak Bapak diterima masuk di situ tanpa harus membayar apa-apa lagi.”

Tapi, bisa tidak kalau fotokopi ini biar saya saja yang membawanya?” dia bertanya.

Saya perlu fotokopi ini karena harus saya tunjukkan kepada pengurus gereja Bapak dan orang kantor SMK itu.”

Saya mau fotokopi itu dikembalikan sekarang kepada saya,” katanya sambil mengulurkan tangan membuat saya terkejut.

Begini saja. Karena Bapak perlu dan saya juga perlu, Bapak tunggu sebentar di sini, saya mau buat fotokopinya di seberang jalan.”

Tidak usah.”

Kalau saya tidak membawa fotokopi, berarti saya tidak bisa membantu membereskan masalah Bapak.”

Tidak apa-apa,” jawabnya. Dan saya mengembalikan dokumen itu kepadanya padahal di balik beberapa halaman saya telah membuat beberapa coretan, mencatat alamatnya dan tahun berapa ia dibaptis. Saya tahu ia kecewa. Tetapi ia tidak tahu, saya lebih kecewa.

 

Ada yang aneh di rapot anaknya,” kata saya kepada teman saya lewat hape. “Semua nilai rapotnya ditulis dengan tulisan tangan yang rapi dengan gaya yang sama dari tahun ke tahun! Memangnya selama 3 tahun wali kelasnya tidak ganti? Memangnya setiap akhir semester orang TU yang menuliskan rapot untuk seluruh siswa di SMP itu yang jumlahnya pasti ratusan? Lihat buku rapot anakmu. Di tengah ada halaman kosong. Lepas dari staplesnya lalu kamu fotokopi. Dari blangko fotokopi ini kamu tulis sendiri nilai yang kamu maui. Lalu dari mana kamu mendapatkan stempel sekolahnya? Fotokopi lagi halaman rapot yang sudah terisi. Potong bagian bawah yang ada stempelnya. Lekatkan di lembar rekayasamu. Rubah tanggalnya. Lalu fotokopi lagi. Rapikan kembali buku rapotnya. Selesai. Nah, di sinilah orang itu terpeleset. Di dekat stempel itu ada nama wali kelas dan tandatangannya. Ia lupa merubahnya sehingga selama 3 tahun anak ini punya wali kelas yang sama. Untuk tahu apakah kecurigaanku ini benar, kamu ke rumahnya, lihat rapot aslinya.”

 

Beberapa hari kemudian waktu bertemu di gereja teman saya bercerita. “Bagaimana bisa rengking satu selama 3 tahun, kalau anak itu idiot.”

Kamu ke rumahnya?”

Tidak. Dulu dia pernah ke rumahku bawa anaknya minta uang. Aku tawari kerjaan, jaga gudangku dan mencatat jumlah barangnya. Dia tidak mau. Kelihatannya dia lebih senang meminta-minta daripada bekerja.”

 

Teman saya seorang wirausaha di bidang bangunan. Tetapi ketika ada mantan tukang las minta pekerjaan, ia mendirikan bengkel las. Ketika ada mantan tukang kayu minta kerjaan, ia menyuruh orang itu tinggal di gudangnya yang semula menganggur untuk membuat furniture. Bila saja ada mantan koki minta kerjaan, pasti sekarang dia sudah punya restoran. Atau kalau ada mantan pendeta cerita betapa kecilnya gaji hamba Tuhan, bisa-bisa dia sewa ruko agar pendeta itu bisa berkarya lebih optimal.

 

O, o, aku ngeh sekarang. Kamu mau menolak orang itu pakai tanganku biar tanganmu tidak kotor. Kamu tetap dikenal sebagai orang baik. Iya ‘kan?”

Kamu seorang salesman. Pertimbanganku, kamu lebih luwes untuk mengurusi masalah-masalah yang rawan konflik.”

Pertimbangan ngawur! Kamu sudah melakukan taktik seperti yang di filem-filem, ‘good cop and bad cop’. Dan aku kebagian peran jadi polisi jahatnya.”

--o—

Gereja adalah tempat orang-orang baik,” begitulah orang-orang berpendapat. “Jika belum baik, ya orang-orang yang selalu berusaha berlaku baik.”

Karena itu para pengurus gereja bingung ketika menghadapi masalah yang butuh konflik untuk membereskannya. Orang Kristen tidak boleh bertengkar, apalagi menyakiti hati orang lain. Kalau pengurus gereja tidak menolong orang yang datang meminta-minta, apa kata dunia nanti? Kalau aktivis gereja tidak merelakan uangnya dikemplang saudara seimannya, bukankah imannya harus dipertanyakan palsu tidaknya?

 

Karena itu bila ada masalah yang bisa menjungkir-balikkan pendapat ini, orang gereja akan mengambil strategi yang dapat mempertahankan rasa aman dan rasa nyaman bagi dirinya.

 

Pertama, menghindar.

Contoh kasus yang mudah didapat adalah bila ada jemaat menemui seorang penatua dan mengutarakan keinginannya untuk meminjam uang. Setiap penatua tahu bahwa gereja sebagai organisasi tidak meminjamkan uang kepada anggotanya. Tetapi untuk menghindari ia dianggap jahat oleh jemaatnya, ia tidak mau menjelaskan ketentuan ini atau langsung menolaknya.

 

Yang sering dilakukan adalah ia mengatakan urusan meminjamkan uang gereja itu bukan bidangnya, tetapi si Anu dan jemaat ini dipersilakan untuk menemui si Anu itu.

Bila ia tidak bisa berkelit lagi, maka ia akan mengatakan permohonan jemaat ini akan dibicarakan dalam rapat penatua. Lalu seminggu kemudian ia akan memberitahu, “Rapat penatua memutuskan gereja tidak bisa memberikan pinjaman kepada Saudara.” Itu pun belum tentu penatua yang sama yang menyampaikan berita duka itu. Lebih sering ia akan membujuk “bad cop” untuk menyampaikannya dengan alasan ia sibuk, atau mau keluar kota.

 

Kedua, mengalah.

Di gereja saya santunan beasiswa bisa diambil oleh siswa yang bersangkutan atau orang-tuanya. Suatu ketika ada desas-desus seorang siswa sebetulnya sudah setahun lamanya tidak mau sekolah. Tetapi ibunya tetap saja setiap bulan mengambil santunan itu. Saat itu belum ada peraturan yang mengharuskan penerima menunjukkan bukti pelunasan SPP bulan sebelumnya.

 

Tetapi Komisi Beasiswa tidak menanggapi desas-desus itu dengan, misalnya, mengunjungi sekolah siswa itu. Akhirnya beberapa tetangganya yang juga menerima beasiswa membisiki para petugas pembagi santunan. Mereka begeming, tidak bergerak. Walaupun bisik-bisik itu makin keras terdengar dan makin melebar, mereka menulikan telinga. Bahkan tanpa risih mereka berkomentar, “Berbohong itu dosa. Dan yang berbohong itu ‘kan dia, bukan kami.” Yang risih malah yang bersangkutan.

Maka, suatu saat ketika ibu ini mengambil santunan, ia mengaku. Ia tidak akan mengambil santunan lagi. Sebagai gantinya ia minta gereja membantunya merehab pagar rumahnya dengan memberinya uang 4 kali santunan yang biasa ia terima. Para petugas dengan tulus langsung memberikan uang itu. Kasus selesai, kasus ditutup.

 

Mendengar kisah ini yang diceritakan dengan bangganya oleh petugas, saya bertanya, “Pagar rumah siapa yang mau direhab? Saya pernah ke rumah orang itu. Rumahnya tidak punya pagar karena mepet sekali dengan jalan. Omong-omong, apa sekarang Komisi Beasiswa dapat job des tambahan merehab rumah jemaat?”

Sudah, biarlah, daripada ia ribut. Kamu ga usah cerewet,” katanya.

 

Ketiga, menunda.

Dengan menunda-nunda penanganan masalah maka para petinggi gereja berharap ia bisa menghindari konflik sampai masa jabatannya selesai. Yang kasihan adalah para penggantinya yang langsung berhadapan dengan tumpukan masalah lama. Ini namanya semangat berbagi. Berbagi masalah, maksud saya.

--o--

Itulah keadaan gereja saya. Saya dibaptis di sini ketika duduk di kelas 2 SMA. Saya meninggalkannya waktu saya harus pergi merantau mencari nafkah. Ketika kembali ke kota kelahiran, saya kembali berjemaat di sini karena senang bisa bertemu dengan teman-teman lama. Biar gereja saya banyak masalah, saya tidak pindah gereja karena seperti banyak orang bilang di gereja mana pun masalah itu ada walaupun bentuknya tidak sama. Kalau kamu mencintai gerejamu, tinggallah di gereja itu dan bantulah para pengurusnya memperbaikinya.

 

Sebetulnya, belum 6 bulan berada di gereja ini saya sudah merasa tidak nyaman. Ada seorang pemuda yang setiap bicara selalu menyelipkan kata-kata makian dalam kalimatnya, walaupun tidak untuk memaki lawan bicaranya. Istilah kerennya “swearing”, yaitu menyisipkan kata makian atau kata cabul untuk menimbulkan kesan akrab. Dan ia melakukannya juga ketika sedang berbicara kepada orang perempuan atau orang sepuh. Apakah gereja telah menegurnya? Sudah. Tetapi bagaimana ya, sudah wataknya, tidak bisa dirubah. Orang-orang memaklumi kok. Begitu informasi yang saya dapat. Tetapi kuping saya tidak tahan.

 

Suatu hari Minggu selesai ibadah, saya berkumpul dengan beberapa orang di belakang gereja berbincang-bincang santai sambil menikmati makanan dan minuman di kantin. Kebetulan pemuda itu berjalan melintas. Saya menghampirinya dan mengajaknya ke dapur karena ada urusan sedikit. Wajahnya berbinar. Sehari-hari ia berjalan kaki berkeliling kota menjajakan roti. Tetapi bila bertemu dengan orang yang dikenalnya, ia menadahkan tangan meminta uang. Ia pikir saya akan memberinya uang di dapur seperti yang sering dilakukan oleh jemaat lain. Lima menit kemudian kami keluar dari dapur dan saya kembali ke gerombolan saya.

 

Mulai saat ini, orang itu tidak akan memaki lagi dalam kawasan gereja,” kata saya. “Itu janjinya kepadaku.”

Ributlah teman-teman menanyakan bagaimana cara saya membuat ia bertobat. Ada juga yang menuduh saya berbohong karena kelakuan jeleknya sudah berlangsung hampir 2 tahun. Pendeta saja tidak bisa merubahnya. “Begini,” kata saya. “Aku tidak mau cerita apa-apa sampai terbukti dalam sebulan ini ia tidak memaki satu kali pun. Karena itu harap Bapak-Ibu-Saudara-Saudari ikut memantaunya. Kabari aku bila tahu ia memaki agar aku tahu teknikku gagal.”

 

Mereka setuju. Koster gereja yang ada dalam kelompok itu terbahak-bahak. “Ember,” katanya. Tetapi koster sepuh ini belum seminggu sudah membujuk-bujuk saya membuka rahasia. “Kamu ngomong apa sama dia? Dia itu kalo ari kerja pagi sampe siang kan nongkrong di poliklinik gereja. Aku perhatikan, ia tidak maki-maki lagi. Waktu aku tanya di mana makiannya, dia marah-marah. Tapi dia tidak memaki. Aku bilang, aku kangen sama makianmu. E, dia langsung angkat kaki pergi sambil ngomel. Kamu apakan dia? Jangan-jangan kamu tiup mukanya? Orang Kristen tidak boleh pake jampi-jampi lho.” Saya cuma tertawa tanpa cerita.

 

Saya sudah lupa janji saya kepada teman-teman. Tetapi mereka tidak. Pada minggu ke-5 saya diseret bergabung dengan sekelompok jemaat dan penatua di kantin. Saya diminta membuka rahasia karena mereka tidak lagi mendengar orang muda itu memaki. “Ini sebuah prestasi yang harus diteladani,” kata mereka. Saya mengambil jus buah di meja kantin. Ketika saya sibuk mencari uang pas dari dompet, seorang penatua mengeluarkan uangnya. “Biar aku yang bayar,” katanya. “Kamu cerita sambil minum.” Weleh, saat itu saya seperti seleb sampai diservis segala.

 

Aku mau cerita tapi jangan disela sebelum selesai. Kalau disela, aku tidak mau meneruskan biarpun aku ditraktir makan stik.” Mereka mengangguk-angguk setuju. Saya mengedarkan pandangan mata saya. Mereka segera merapikan duduknya, seperti anak TK menunggu cerita Putri Salju.

 

Begini. Begitu masuk ke dapur, aku keluarkan uang 50 ribu, aku letakkan di atas meja dan menindihnya dengan gelas. Orang muda itu senyum-senyum. Aku bilang kepadanya, aku sudah tidak tahan mendengar makianmu. Aku kepingin meninju mulutmu, tapi aku tahu orang Kristen tidak boleh begitu. Dia nyengir senang. Karena itu aku siapkan uang ini untuk mengupah preman pasar dekat rumahmu, untuk menghajar kamu setiap aku dengar kamu memaki di kawasan gereja. Aku keluarkan catatan alamat rumahnya dan kutunjukkan kepadanya. Jangan kuatir kamu masuk rumah sakit. Aku pesan supaya yang dihajar hanya perutmu saja, sampai pingsan. Kamu lihat gerombolan orang di kantin yang melirik-lirik ke mari? Mereka akan ikut mengawasi kamu, terutama koster gereja. Jangan melotot. Kalau kamu pikir aku bohong, sekarang memakilah. Nanti sore kamu bisa menghitung perutmu tahan berapa kali ditinju. Uang aku masukkan ke dompet, aku keluar dari dapur. Cerita selesai.”

 

Gemparlah para pendengar seperti mereka mendengar pendeta bercerita Yakub menikah dengan Isebel. “Selama kamu merantau apa kamu tidak ke gereja? Kamu sekarang kok jahat sekali,” komentar seorang teman perempuan.

Ini namanya tujuan menghalalkan cara. Apa bisa dibenarkan mempertobatkan orang dengan cara menjahatinya?”

Kalau di sini ada sepuluh orang seperti kamu, gereja ini akan jadi apa?”

Ramailah mereka beradu argumen menemukan cara terbaik yang seharusnya saya lakukan alih-alih menterornya. Saya diam saja. Setelah jus buah saya habis, saya membuka dompet, mengeluarkan selembar uang 50 ribu rupiah dan sambil mengibar-ngibarkannya saya melangkah keluar kantin.

 

He, kamu mau ke mana?” seorang menarik lengan saya.

Aku mau cari orang itu. Aku mau menyuruh dia memaki paling tidak 10 kali setiap berada dalam kawasan gereja. Kalau ia tidak mau, aku suruh preman menghajarnya. Dengan begitu aku mengembalikan apa yang telah aku rubah. Sementara kamu-kamu cari cara yang terbaik, biarlah sementara waktu anak-anak sekolah minggu kembali melihat memaki di gereja itu diperbolehkan. Jangan lupa, di antara mereka ada anak-anakmu yang masih kecil. Biar pengunjung poliklinik gereja yang tidak seluruhnya orang Kristen, bahkan ada yang berjilbab, tahu bahwa mengucapkan kata-kata cabul di kawasan gereja tidak diharamkan.”

 

Menteror satu kali saja sudah dianggap berdosa besar, masak kamu mau melakukan teror lagi? Bertobatlah,” cegah seorang guru SM sambil cekakakan.

Oke, oke, aku tahu aku salah, aku berdosa, bahkan dengan sengaja,” kata saya sambil cengar-cengir. “Sekarang aku akan berbuat baik. Untuk tidak merepotkan majelis menyiapkan siasat gereja, besok pagi aku akan menyerahkan surat pindah gereja ke kantor TU.”

Jangan, jangan pindah gereja,” protes koster sepuh. “Gereja kita ini perlu preman Kristen. Kalau gereja isinya orang baik semua tidak seru. Harus ada yang jahat biar ada lakon yang bisa ditonton.”

Mbah, jangan omong ngawur. Dipecat baru tahu rasa kamu,” kata saya sambil melirik seorang ibu penatua yang wajahnya sedang ditekuk.

Tapi saya pikir dia tidak sepenuhnya salah. Gerejaku butuh orang jahat. Harusnya, itulah judul artikel ini. Gereja lain tidak butuh kok. Juga gereja Anda. Semoga.