Submitted by frozen on

Beberapa waktu lalu, saat saya berobat ke dokter THT; karena tenggorokan sakit yang membuat pilek dan meriang; saya bertemu dengan salah seorang dokter yang pernah menjadi dokter isteriku saat sakit. Kami berbincang sejenak, menanyakan kabar. Iseng saya nanya, "dok, habis darimana?", lalu dokternya dibilang: "habis melawat, ada rekan dokter meninggal di RSCM". Lalu saya bilang, "turut berduka dok, apakah dokter disini juga? (PGI)". Dokternya jawab: "oh bukan dokter disini". Lalu disambung: "ternyata menjadi dokter juga bukan jaminan, isterinya juga dokter bukan jaminan juga". Saya tadinya mau jawab: "iya dok, apa yang bisa menjamin kita didunia ini?" tapi tidak jadi, karena tiba-tiba handphone beliau berbunyi, dan saya pamit karena sudah sore.
Saudara sekalian, ini menjadi pertanyaan di dalam pikiran saya beberapa hari ini. Menjadi dokter, isteri dokter, atau anak mungkin dokter tetapi kalau sudah saatnya, siapa bisa tetap mempertahankan hidup? Siapa yang bisa jamin? Memang benarlah naas: "celakalah orang yang mengandalkan manusia". Tetapi memang sulit untuk percaya bahwa dengan mengandalkan Allah maka semua akan baik-baik saja (?).
Saudara seiman dalam Yesus Kristus, Dia tidak pernah mengatakan bahwa kita akan bebas penyakit tetapi Dia berjanji bahwa Dia senantiasa bersama kita, percayakah kita? Mana lebih mudah, percaya kepada dokter (atau manusia dengan keahlian lain) atau kepada Allah?