
Pintu gerbang Keraton Boko yang memikat untuk dinikmati (Foto-foto : Joli).
LIBURAN lebaran sudah tiba, rencanakan liburan ini dengan kemampuan yang ada. Banyak tempat wisata yang bisa menambah pengetahuan dan kesegaran jiwa, setelah sekian bulan berburu harta, kini saatnya anda berburu kenyamanan jiwa dengan berkelana menjelajah apa saja yang disuka, karena semua ada berkat Tuhan juga. Oleh sebab itu ajaklah yang tercinta agar kebahagiaan itu sempurna adanya.
Candi Boko adalah salah obyek wisata yang cukup menarik untuk kita kunjungi. Letaknya di wilayah Dusun Dawung, Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, DIY. Kondisi jalan beraspal mulus dari jalan Prambanan, Piyungan, sepanjang 2,5 kilometer. Memang lebih enaknya setelah dari Candi Prambanan, sebelum ke Borobudur mampir ke Candi Ratu Boko ini, agar lebih lengkap perjalanan wisata anda.
Daya tarik spesifik dari obyek wisata yang berada di puncak sebuah bukit berketinggian 250 meter dari permukaan laut ini, selain keindahan panorama alam sekitarnya, juga menjanjikan sejuta nuansa alami pada keindahan bangunan percandiannya itu sendiri. Lihat saja gapura (seperti foto di atas) yang besar dengan tatanan cermat, rapi dan artistik. Gapura seperti itu belum pernah ditemukan pada tempat-tempat suci dan bangunan lainnya.
Ditinjau dari segi bentuk, kedua gapura tersebut memang tak jauh berbeda. Uniknya, meskipun ada beberapa perbedaan, misalnya, gapura kecil, di samping hanya memiliki tiga buah pintu letaknya kendati berada di bagian depan, datarannya lebih rendah ketimbang letak gapura besar yang berpintu lima. Keduanya merupakan satu kesatuan yang dihubungkan dengan lantai batu, diatur sedemikian rapi, persis dengan lantai paving blok.
Sebutan KRATON BOKO pada situs itu barangkali hanya berdasar legenda yang nampaknya perlu dirunut kembali. Sebab dalam berbagai babad disebutkan, zaman Ratu Boko itu terjadi jauh sebelum munculnya Mataram Kuno alias Mataram Hindu.
Memang daerah Prambanan pada masa Mataram Hindu sebagai daerah yang sangat strategis dan indah. Daerah percandian ini merupakan gugusan atau lanjutan dari Gunung Sewu yang berakhir pada Kali Opak. Dibagi dua daratan, bagian utara dataran Prambanan dan bagian selatan dataran Surogedug.
Candi-candi di dataran Prambanan hampir seluruhnya candi Budha, sebaliknya di dataran Surogedug candi Siwa. Peninggalan yang bersifat Hindu sering dianggap lebih tua ketimbang Budha.Ciri yang nampak bentuk dan hiasannya lebih sederhana. Meskipun arsitekturnya lebih rumit, hiasannya nampak lebih mewah. Candi Hindu kebanyakan dibangun di daerah perbukitan (pegunungan) yang kala itu tidak banyak penduduknya.
Bagian kedua dari tata ruang candi, berada di bagian tengah. Dengan bagian kesatu, dihubungkan oleh sebuah jalan dibuat dari batu, sepanjang kurang lebih 200 meter dan lebarnya sekitar dua meter.
Bangunan ini tergolong paling luas atau biasa disebut Balairung, berbentuk bujur sangkar 60x50 meter. Di dalamnya ada pendopo dari susunan batu seluas 50x45 meter. Di sebelah timurnya terletak bangunan lain dan saluran yang digali melebar ke timur.
Kurang lebih 100 meter dari tempat tersebut terdapat sebuah gua. Gua tersebut bukan gua alami, melainkan sebuah gua buatan, yang dibuat pada dinding tebing batu, berukuran sekitar 2x1 meter dan kedalaman berkisar 2 meter. Oleh para pakar arkeologi, gua buatan ini diperkirakan diidentifikasi sebagai tempat prajurit jaga.

Bagian ketiga dari tata ruang candi, berada di lingkungan sekitar Balairung, tetapi letaknya lebih rendah, terdapat sebuah kolam pemandian. Bentuk keseluruhan dari kolam yang disebut-sebut sebagai kolam pemandian putri ini. Terdapat dinding pemisah diantara dua kolam dengan lingkungan sekitarnya dan jalan-jalan penghubungnya, di setiap ujungnya diberi gapuro berhiaskan relief kepala raksasa dan simbar.

Dari sejumlah bangunan komplek keputren inilah yang paling utuh. Terdapat lima buah kolam. Konon di dalam kolam-kolam ini para putri kraton bersantai. Dalam foto di atas ada seorang putri modern yang ingin mencoba mandi di kolam tersebut, sedang melepas jaketnya, selanjutnya........ tidak diabadikan dalam gambar, kalau anda pas kesana ada putri mandi, silahkan memotret sendiri deh, takut ketauan mamahnya sang putri.

Salah satu Pesona yang tidak tertandingi adalah view ketika sunrise maupun sunset.. LUAR BIASA ( Komentar Joli yang mengabadikan foto ini ).
Terlepas dari segalanya, memasuki komplek ini memang menarik. Sejauh mata memandang, puncak Merapi seolah bergoyang bak fatamorgana di utara, dibatasi tebing-tebing di atas puncak Candi Prambanan. Komplek ini semakin membuat kita hanyut ke masa lampau, bebatuan bekas bangunan Jawa Kuno berserakan di tengah ladang tandus, dipadu hamparan persawahan dan tegalan milik penduduk, laksana kuas hijau tua dilukiskan sang pelukis pada kain kanvas yang luas.
Penduduk dengan pakaian sederhana melenggang dengan bebas melupakan misteri Candi Boko yang belum terungkap semuanya.
Semoga Bermanfaat Walau Tak Sependapat