Submitted by youngyoungan on

Berbagi cerita tentang batu karang..

Suatu hari, saya berlibur ke pantai bersama teman2 gereja. Jarak antara tempat kami berkumpul dengan tempat yang kami tuju cukup jauh, kira-kira 120 km. Saat itu, kami berangkat pukul 11.00 WIB. Di tengah hari yang begitu terik, kami tetap bersemangat menempuh perjalanan panjang kami. Waktu itu kami menuju pantai dengan mengendarai motor, kalau saya tidak lupa ada 8 motor. Semacam touring gitu! Seru dan kompak, sungguh menyenangkan!

Setibanya di pantai yang menjadi tujuan kami, kami beristirahat sejenak. "Sepertinya kalau menginap di sini, kita tidak bisa bermalam dengan aman nih!" seru seorang teman. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk mencari pantai yang ada "space" untuk mendirikan tenda. Kami segera meluncur ke pantai lain yang letaknya tidak begitu jauh dari tempat tujuan kami yang pertama. "Nah! Kalau di sini, baru pas!" temanku yang lain berkomentar. "Sudah aman, ada warung makan dan penginapan, plus air bersih pula. Pas deh!" imbuhnya.

Di pantai kedua ini, Drini, teman-teman dan saya akhirnya bermalam. Saya sangat senang bisa melihat pemandangan pantai ini begitu indah, hamparan lautnya yang luas dipenuhi air yang terlihat biru kehijau-hijauan. Hmm, ciptaan Tuhan sungguh indah! Suasana pantai memang berbeda dari tempat-tempat yang lain. Di pantai kepenatan hati dan kegelisahan jiwa bisa dilepaskan. Setelah melihat melimpahnya air dan riak gelombang yang menari-nari, saya pun segera berlari ke tempat yang lebih tengah. Setelah lelah bermain-main akhirnya saya duduk-duduk sejenak di atas pasir yang kering.

Saat saya duduk di tepi pantai, saya melihat dua kelompok nelayan sedang pulang dari melaut. Saya pun tiba-tiba teringat dengan Yesus dan para murid. Saya membayangkan, mungkin seperti itulah kehidupan para murid Yesus (Simon Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes) sebelum mengikut Yesus. Mereka berangkat mencari ikan di pagi hari dan pulang di sore/malam hari. Seandainya Yesus masih hidup sebagai manusia di daerah ini, mungkin para nelayan itulah yang paling dekat dengan-Nya. Bersyukur, Tuhan Yesus sudah lahir dan menetap di dalam hati saya. Sekalipun saya tidak melihat-Nya, saya bisa merasakan kehadiran dan penyertaan-Nya. Tak lama kemudian, pandangan saya dibawa ke tempat yang tak jauh dari pantai itu. Batu karang. Di dekat saya duduk, ada satu batu karang yang besar. Batu itu ada di antara dua sisi pantai. Oleh karena keberadaan batu karang itu, kami yang ada di tepi pantai tidak terlalu terancam dengan datangnya gelombang besar. Gelombang yang melanda akan terhempas setiap kali menabrak batu karang itu. Sama seperti Yesus, Dia adalah Pelindung dan Penjaga hidup yang sejati. Setiap gelombang yang hadir melanda kehidupan kita sudah dikalahkan, sehingga kita tidak akan mengalami gelombang yang terlalu besar. "Gelombang-gelombang yang kamu hadapi ialah gelombang-gelombang biasa, yang tidak membahayakan hidupmu. Sebab Allah, Sang Batu Karang yang teguh dan setia akan membentengimu dan tidak akan membiarkanmu diterpa gelombang yang melebihi kekuatanmu. Pada waktu gelombang datang, Ia akan menahannya sehingga kamu tidak akan mengalami gelombang yang terlalu besar, sehingga kamu dapat menanggungnya." (bandingkan 1 Kor 10:13) Yesus adalah Batu Karang saya, jadi tidak peduli seberapa besar gelombang yang akan datang, saya tidak akan goncang. Yesus ada di barisan depan untuk melindungi saya. Betapa beruntungnya saya yang memiliki Batu Karang yang teguh, Yesus Kristus.

Sebenarnya ada banyak pelajaran yang bisa saya petik dari batu karang, misalnya di atas batu karang jemaat Tuhan akan didirikan (Matius 16:18), rumah yang didirikan di atas batu (karang) akan tetap kokoh ketika air bah dan banjir datang melanda rumah itu (Lukas 6:48), dan Yesus Kristus yang menjadi Batu Karang, yaitu landasan utama dan pertama dari gereja (1 Korintus 3:11). Yang paling saya syukuri adalah semakin lama saya semakin diajar untuk mampu melihat Yesus yang menyertai saya di mana pun saya berada. Thanks God!