Submitted by Astri Ifo on

 

    Aku terlahir dalam keluarga Kristen yang baik. Orang tuaku mendidikku untuk aku menjadi pribadi yang takut akan Tuhan, seorang yang taat dan baik. Aku seorang yang aktif dalam setiap kegiatan gereja dan seorang yang terpandang diantara teman-temanku. Aku memiliki banyak teman, dan hampir setiap hari kami selalu bersama-sama belajar dan mendalami alkitab bersama-sama. Tetapi tak seorangpun dari mereka yang mengerti benar siapa aku. Karena aku tidak mudah untuk percaya kepada orang lain.

    Aku bisa bergembira bersama-sama dengan teman-temanku tetapi siapa yang tahu ada rasa kesepian dalam diriku walau aku didalam keramaian. Diluar aku bisa bergembira tetapi dalam hati aku menyimpan kesedihan. Aku bisa memberikan solusi kepada teman-temanku jika mereka dalam masalah, tetapi aku sendiri tidak temukan solusi akan kesepian yang aku alami. Aku berusaha menemukan jawabannya dalam pelayanan dan semua kegiatan yang aku ikuti. Tetap saja masih ada ruang kosong dihatiku.

    Hal ini semakin menjadi-jadi saat aku kelas 2 SMA, aku kena malaria sangat parah, aku sudah sekarat. Aku bertanya kepada ibuku “Apakah Tuhan itu ada?” Sangat lucu sekali aku seorang yang aktif dalam pelayanan menanyakan Tuhan. Disaat aku diujung kematian aku baru sadari bahwa sebenarnya aku tidak punya pegangan setelah aku mati. Sesungguhnya aku tidak mengenal Tuhan yang aku sembah selama ini. Anugrah aku masih diberi kesempatan untuk hidup. Aku mencari Tuhan seperti yang tertulis dalam Alkitab dan aku ingin bertemu dengan gereja dimana orang-orangnya seperti yang tertulis dalam Alkitab, mereka yang sehati, sepikir dan saling memperhatikan satu-sama lain yang tidak cuma manis diluar tapi menusuk dibelakang. Semua keinginanku hanya aku simpan dalam hati, selama 2 tahun aku belum temukan jawabannya.

    Lulus SMA aku ke Semarang main ketempat saudara. Orang-orang satu rumahnya Kristen semua. Setiap hari aku melihat mereka berdoa, baca Alkitab dan sering berkumpul bersama. Bagiku itu biasa saja, karena aku juga lakukan apa yang mereka lakukan. Tapi ada sesuatu yang berbeda dengan mereka. Apa yang mereka katakan itulah yang mereka perbuat. Mereka persis seperti orang-orang yang aku cari. Tapi aku menyimpan semua ini dalam hati. Aku ingin hidup seperti mereka, tapi aku tidak tahu caranya. Aku berusaha mengimbangi mereka dengan memperlihatkan bahwa aku juga berdoa, aku juga baca alkitab tapi aku tidak mengerti apa yang aku baca, yang penting baca.

    Suatu kali saudaraku bertanya kepadaku apakah aku sudah dilahirkan kembali? Aku tidak mengerti apa yang ia maksudkan, aku tidak pernah mendengarnya , kalau hidup baru aku tahu. Dia berjanji untuk menjelaskannya kepadaku, aku menunggunya untuk membicarakan hal itu tapi berhari-hari dia tak menyinggung hal itu. Aku Cuma diam saja.

    Sampai suatu kali aku ada dalam masalah, anehnya aku bisa bercerita kepadanya. Dan dia hanya jawab bahwa yang aku butuhkan adalah Tuhan Yesus Kristus, tak ada jawaban yang lain. Dalam hati aku berontak, kurang ajar sekali dia, tidak tahu apa kalau aku ini seorang yang melayani, tentunya aku sudah punya Yesus, kenapa dia bilang aku masih butuh Yesus? Tapi aku hanya diam.

    Dia bilang, kamu memang tumbuh dalam didikan Kristen tapi belum tentu kamu punya Yesus. Jika memang kamu sudah punya Yesus tentunya kamu tidak akan melakukan dosa lagi. Kamu tidak akan menyakiti hati Tuhan dengan semua dosa-dosamu. Dan yang memerintah dalam kehidupanmu bukan dirimu lagi tapi Yesus Kristus yang mengatur hidupmu.

    Semua yang ia katakan memang benar. Aku merasa aku sudah hidup baru tapi kenyataannya aku masih jatuh bangun dalam dosa. Aku terlihat baik diluar tapi apa yang tersimpan dalam hati siapa yang tahu? Waktu ia tantang aku untuk terima Tuhan Yesus dan menyerahkan seluruh hidupku dan mengakui dosa-dosaku sama Tuhan, aku hanya bisa bilang ya.

    Dari sejak itulah aku merasakan bahwa ada damai dalam hidupku walau aku hadapi banyak masalah. Dan yang paling mengherankan aku tidak merasakan lagi kesepian yang menyelimuti hatiku dan ruang kosong dalam hidupku terasa hilang lenyap. Bahkan semua akar pahit dalam hidupku terasa terbang terbawa angin. IA telah menjawab keinginanku untuk mengenal Tuhan dengan benar dan mempertemukan aku dengan orang-orang yang aku rindukan.Hidupku benar-benar berubah. Dan inilah awal aku memulai hidup dengan Tuhan.

    Tak ada yang mustahil bagi Tuhan Yesus untuk mengubahkan hidup orang untuk kembali kepada rancangan-Nya.