Submitted by
Purnomo
on
Dokumen-dokumen yang diperlihatkan kepada saya membuktikan kedua tamu wanita paroh baya dengan wajah penuh senyum itu betul-betul utusan YLSA. Terakhir mereka menyodorkan selembar kertas yang membuat saya terperangah. Di situ tercetak PM Inbox tertanggal 27-9-2008 yang sudah lama saya hapus. “Pengelola SS semua 1 aliran dgn Anda, suka intrik, dan suka kerdil, alergi hidup dlm ROH & kebenaran, walaupun aktif dan sibuk di greja.” Ternyata inbox yang saya hapus hanya berpindah ke Recycle Bin server Sabdaspace. Apakah dengan adanya semua dokumen ini saya masih harus mencurigai mereka?
Mereka ditugaskan untuk membuat daftar kwalifikasi para penulis situs Sabda Space. Penulis yang ada di kwalifikasi prima akan dikelompokkan dalam situs baru Sabda Premium Space yang akan diluncurkan tahun depan pada hari ulang tahun YLSA. Dari setiap penulis prima akan diambil 40 blognya yang disatukan dalam sebuah buku dan diterbitkan pada hari yang sama. Selain royaliti sebesar 20% dari setiap buku yang terjual, pada hari perayaan itu penulisnya menerima uang penghargaan sebesar 4 juta rupiah. Tunai!
“Bagaimana? Tertarik untuk menjalani tes kwalifikasi? Tidak ada paksaan, juga tidak ada pungutan biaya. Kami hanya menawarkan sebagai penghargaan kiprah Saudara selama ini Sabda Space.”
“Apodion?” jawab saya dalam bahasa gaul lokal.
Mereka mengangguk mengerti. Seorang dari mereka mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya dan menyodorkan sebuah topi aluminium meminta saya mengenakannya. “Ini alat pengukur gelombang otak untuk mendeteksi tingkat iman Saudara. Seorang penulis prima untuk situs baru itu harus prima juga tingkat imannya karena Yayasan tidak ingin apa yang ditulisnya berasal dari ide orang lain. Kami memegang prinsip jangan katakan siapa Yesus menurut orang lain tetapi katakanlah siapa Yesus menurut Anda sendiri.”
Saya memang gaptek sehingga tidak menyadari kemajuan teknologi yang begitu pesat. Keterbelakangan saya ini juga membuat saya tidak mengacuhkan cerita seorang teman yang bekerja di PLN tentang adanya rencana pembongkaran jaringan listrik secara bertahap karena teknologi penjualan listrik dalam tabung-tabung seukuran tabung gas elpiji 12 kg telah ditemukan. Dengan adanya tabung listrik ini maka rumah terpencil di pucuk gunung bisa menikmati listrik. Pencurian listrik juga ditiadakan. Usaha bunuh diri dengan memanfaatkan tower listrik bisa dipindahkan ke dalam rumah dengan memeluk tabung listrik itu sehingga tidak merepotkan banyak orang untuk menontonnya. Dan polusi udara kota bisa dikurangi karena listrik tabung ini bisa dipergunakan menjalankan mobil.
“Santai saja,” kata ibu yang satu sambil memutar beberapa tuas di topi itu sehingga topi itu mencengkeram kepala saya. “Peralatan ini dijalankan dengan baterai sehingga tidak akan menimbulkan kejutan listrik. Alat buatan Amerika ini sudah lolos pengujian klinis. Topi itu tidak mengirim signal listrik ke dalam otak, tetapi hanya merekam gelombang otak yang terpancar keluar. Okey, sudah selesai.”
Bukan main! Begitu cepat prosesnya dan saya tidak merasakan apa-apa. Ibu yang duduk di depan saya menyodorkan kotak kecil itu sehingga saya bisa melihat angka digital yang tertayang di layarnya.
“Angka minimum untuk penulis prima adalah 75. Tidak perlu berkecil hati dengan angka 68 ini. Masih ada waktu bagi Saudara untuk memperbaikinya dalam pengujian ulang. Kami sangat mengharapkan Saudara bulan depan mau datang ke Rumah Turi Solo untuk menjalaninya. Bila Saudara lulus, semua biaya akomodasi dan tranportasi bisa dibebankan kepada Yayasan,” katanya sambil menulis tanggalnya di balik sebuah kartu nama dan kemudian diberikan kepada saya.
Begitu mereka meninggalkan rumah saya, segera saya membuka komputer. Saya ingat pernah membaca sebuah artikel tentang pengukuran iman melalui pemindaian gelombang otak dan artikel itu saya simpan. Saya menjalankan program Google Desktop. Eureka!
Ilmuwan atheis pun berubah
itulah judul kesaksian yang saya kopi dari http://www.dianweb.org/Kesaksian/atheis.htm dan telah dikutip oleh website gereja besar “GKPB.Net”. Sebuah kesaksian yang diambil dari "Kitab Ajaib" oleh dr. Kathleen H L Kuntaraf MPH & Jonathan Kuntaraf D. Min. hal 75-78. Saya salinkan sebagian artikel itu.
Alkitab dapat mengubah hidup manusia, seperti yang disaksikan di bawah ini oleh seorang bernama Dr. N. Jerome Stowell, seorang pakar dan ilmuwan nuklir, yang sampai sekarang ini selalu memberikan kesaksiannya kepada ribuan orang di California Selatan.
Dalam pembicaraan radionya baru-baru ini, beliau mengatakan bahwa: Di dalam jaringan syaraf otak kita, terdapat tempat emosi kita. Dengan alat yang sangat peka yang telah kami rancang, kita dapat mengukur panjang gelombang otak. Baru-baru ini kami mengadakan pemeriksaan otak seorang wanita yang akan mati. Dia senantiasa berdoa, dan yang kami peroleh tentang dirinya ialah bahwa pada saat ia lebih dekat kepada Tuhan, maka jarum penunjuk menunjukkan angka 500 positif.
Pada rumah sakit yang sama saya mengukur gelombang otak seorang yang mengutuk Tuhan, ternyata saya dapatkan jarum menunjukkan angka 500 negatif. Ini adalah dua ekstrem yang telah diindikasikan oleh alat tersebut.
Kita sekarang ini ada dalam batas penemuan rohani. Tidak seorang pun yang dapat mengukur dalamnya tarikan seseorang Kristen apabila ia berada dalam hubungan dengan Tuhan. Ini adalah sesuatu yang nyata . . .
Selanjutnya diceritakan seorang diantara peneliti-peneliti ini yang semula atheis berbalik percaya kepada Tuhan karena,"Jikalau kami sebagai ilmuwan dapat mencatat semua ini, kami percaya dengan sepenuh hati bahwa Tuhan dapat pula mencatat semua yang terjadi di dalam pikiran kita. Ia mempunyai lebih banyak kuasa daripada kita, dan dapat mencatat jauh lebih teliti daripada pencatat catatan apa pun yang ada di dunia ini.”
Jelas sudah bahwa alat ini bisa dimanipulasi. Satu minggu sebelum pengujian ulang saya akan mengambil cuti kerja agar bisa melakukan doa puasa, berderma kepada anak-anak jalanan, setiap malam menyanyikan lagu-lagu rohani dan menghadiri persekutuan doa setiap subuh di gereja saya. Saya harus berangkat ke Solo dengan hati gembira. Saya akan membawa lumpia satu besek untuk Ibu Yulia. Sebentar, masih ada satu Ibu Yulia lagi di Rumah Turi. Saya sekali-sekali tidak bermaksud menyuap. Tetapi senyum mereka ketika menerima bingkisan ini bisa menyukakan hati saya sehingga menaikkan nilai iman saya. Ah tidak. Saya harus membawa 3 besek karena masih ada Yulia lain yang luas wawasannya seperti Matahari van Java. Saya ingin tahu apakah dia yang memberikan alamat rumah saya kepada YLSA. Saya juga ingin tahu siapa saja yang sudah lulus pengujian itu. Khusus besek ini saya tambahi dengan wingko babat .
Tanggal pengujian ulang saya tandai di kalender dinding dengan supidol merah agar saya tak lupa. Tanggal 20-12-2012.
Kebaktian tanpa kesaksian.
“Gerejamu tidak punya Roh Kudus,” begitulah komentar teman-teman tentang gereja saya. “Mau tahu buktinya? Tidak ada mukjizat yang diterima jemaatnya.”
“Kamu salah. Jemaat gerejaku banyak yang menerima mukjizat dari Tuhan Yesus.”
“Lalu mengapa mereka tidak memberikan kesaksian dalam kebaktian?”
“Bersaksi dalam PD atau PA boleh kok. Tapi di kebaktian Minggu belum boleh.”
“Biar majelismu bisa menyembunyikan kenyataan tidak adanya mukjizat yang terjadi?”
Entah mengapa selama merantau dari kota ke kota dalam mencari nafkah, saya kebetulan tidak pernah berjemaat di gereja yang mengijinkan jemaatnya bersaksi dalam kebaktian Minggu. Dari gereja kecil yang hanya berjemaat 150 orang sampai gereja besar dengan 6.000 anggota, dalam 4 denominasi gereja yang berbeda, saya mendapat ketentuan yang sama.
Di Palembang ketika ejekan teman ini saya teruskan kepada pendeta, beliau berkata: “Kesaksian jauh lebih baik tidak diucapkan, tetapi diungkapkan dalam kehidupan sehari-hari. Seorang yang mengalami mukjizat Tuhan pasti terdorong untuk mengucapkan rasa syukurnya. Bila ia bersaksi dalam bentuk bercerita, saya kuatir ia merasa sudah “melunasi” rasa syukurnya.”
Tetapi dua tahun kemudian, dalam sebuah kebaktian Minggu beliau mengijinkan seorang ibu maju ke depan mimbar untuk menceritakan kesaksiannya. Ibu ini pedagang besar yang sukses, kaya raya. Anak lakinya mengalami kecelakaan lalu lintas sehingga luka teramat parah. Tuhan memberi mukjizat sehingga anaknya sembuh. Ia memanggil anaknya yang masih memakai tongkat dan satu kakinya digip untuk berdiri di sebelahnya. Ia meminta jemaat mau tetap membawa anaknya dalam doa pribadi di rumah.
“Mengapa sekarang jemaat boleh bersaksi di depan mimbar?” tanya saya kepada beliau seusai kebaktian.
“Jawab dulu pertanyaan saya,” katanya. “Kira-kira jemaat kita mendapatkan berkat dari kesaksian ibu itu atau tidak?”
Bagi saya, kesaksian itu adalah yang terindah dari kesaksian-kesaksian yang pernah saya dengar. Orang sakit parah sembuh dengan cara ajaib, itu sudah sering saya dengar. Tetapi ibu ini lebih menekankan kepada ketidak-berdayaannya, kelemahan imannya, harapannya kepada doa-doa yang dinaikkan oleh saudara-saudara seimannya. Kerendahan hatinya terasa dalam setiap kalimat yang diucapkannya. Ia lebih banyak menundukkan kepala, padahal ia kaya raya. Suaranya nyaris tak terdengar ketika ia mengucapkan terima kasih kepada jemaat atas doa mereka, yang ia yakini telah menggerakkan tangan Tuhan berkarya bagi puteranya.
Bersaksi hukumnya wajib
Lelaki tua ini berumur 73 tahun, menerima Yesus 20 tahun yang lalu, dan kabar-kabarnya tidak mau lagi ke persekutuan lansia, bahkan ke gereja, karena tidak suka kepada pengurus lansia yang selalu berkata “Kalau bersaksi, yang ringkas dan padat saja, tidak perlu ngalor-ngidul.”
Ketika ini saya tanyakan kepadanya, ia menjelaskan dengan berapi-api. “Janganlah orang biasa dibandingkan dengan orang-orang top gereja yang sudah biasa berpidato, bisa ringkas dan padat. Kami ini orang biasa, yang tidak biasa bicara di depan orang banyak, pasti ah eh oh ah eh oh dulu. Untuk maju ke depan saja harus didorong-dorong teman-temannya. Tetapi orang Kristen harus bersaksi. Harus! Kamu baca Alkitab, setiap mukjizat yang diterima harus diceritakan kepada orang lain, karena Tuhan Yesus memberi kita mukjizat supaya Nama-Nya dipermuliakan oleh banyak orang. Bagaimana orang lain bisa tahu Yesus kita luar biasa, kalau orang Kristen tidak pernah bersaksi? Tuhan Yesus akan menyetop berkat-Nya kalau orang tidak mau lagi bersaksi ! Benar tidak?”
Saya yakin prinsip kakek ini disetujui 100% oleh pengurus persekutuan lansia. Tetapi yang memusingkan mereka adalah bukan apa kesaksian mereka, tetapi mengapa mereka bersaksi. Bila satu dua orang bersaksi dan hadirin bertepuk tangan, maka mendadak saja banyak telunjuk teracung minta waktu bersaksi. Karena tidak mau kalah “seru” ada yang ditambahi nyanyi sampai 2 lagu. Ada yang sempat-sempatnya mengomentari kotbah yang baru diberikan. Ada yang tersamar atau berterang menyerang orang lain. Mereka tidak mau kalah dengan yang lain dalam jumlah berkat yang didapat dari Tuhan Yesus. Mereka ingin dilihat lebih rohani daripada yang lain, terlihat lebih dicintai oleh Tuhan Yesus.
Penyimpangan tujuan kesaksian jika mau disimaki, ternyata bisa terjadi di kelompok umur yang lebih muda dan di kelompok sosial yang lebih tinggi. Tentunya dalam bentuk yang lebih canggih. Bila lansia bersaksi tentang “naik sepur bersama Gusti Yesus”, mereka yang berpendidikan tinggi bersaksi tentang “Heaven Tour guided by JC”.
Terbang tinggi dalam bersaksi
Pekerjaan sering mengharuskan saya berbicara di depan 150-an orang untuk memberi pelatihan atau memaparkan ide saya. Gemetar? Ya, bila saya tidak berhasil mendapat perhatian dari mereka yang hadir. Tetapi bila perhatian dan minat mereka telah saya kuasai, saya merasa jadi orang nomor satu di tempat itu. Rangkaian kata begitu saja meluncur dari mulut. Body language dan stage performance muncul secara otomatis. Saat berada di puncak gunung inilah seorang pembicara publik mudah kehilangan kontrol diri, begitu pesan seorang pelatih dalam kursus Training for the Trainer.
Karena itu perusahaan secara khusus memberi tugas rekan-rekan si pembicara untuk memantau acara ini. Selesai saya “berkotbah” mereka menemui saya dan membacakan catatannya. “Joke kamu bagus sekali. Tetapi dimana nyangkutnya dengan topik pembicaraanmu?” Atau “Aku mendengar nada marah dalam suaramu ketika ada yang mempertanyakan tingkat akurasi data-data yang mendasari perkiraan penjualan di daerah tugasmu 5 tahun mendatang. Apa kamu tidak membawa catatan perkiraan inflasi dan pertumbuhan ekonomi? Atau, ‘aji pengawuran’mu kumat lagi?” Saya tidak berani mengabaikan masukan ini, karena catatan ini kemudian dikirim ke bagian Personalia. Jika saya tidak memperbaiki kelemahan ini, pada penilaian prestasi tahunan saya akan mendapat nilai merah di bagian influencing people.
Bahaya yang mengancam seorang pembicara rohani jauh lebih besar daripada pembicara bisnis. Kalau saya hanya bisa sampai di puncak gunung, mereka berada jauh lebih tinggi, melayang tinggi di angkasa. Saya masih punya teman-teman yang mendampingi saya, bahkan mengoreksi bila saya melakukan kesalahan, karena saya masih di bumi. Tetapi seorang yang terbang tinggi di angkasa tidak mempunyai teman di sampingnya. Kesaksian rohani adalah sebuah pengalaman yang pribadi sifatnya. Bahkan untuk hal yang spetakuler, amat sangat pribadi, di mana tidak ada orang lain yang ikut menyaksikan kejadian itu. Dalam kasus-kasus terakhir inilah tingkat akurasi pengalaman itu bisa membuat orang bingung. Ini kejadian sungguhan, atau kayalan, atau FcF (Fakta campur Fiksi)? Pertanyaan ini tidak akan pernah terjawab, karena tidak ada yang berani bertanya takut dituduh Parisi moderen, orang yang hafal isi Alkitab tetapi menolak “wahyu baru” dari Tuhan Yesus yang tidak ada di Alkitab.
Wisata rohani ke surga
Seorang puteri pendeta top bersaksi dalam sebuah kebaktian akbar. Ia diajak jalan-jalan ke surga oleh Tuhan Yesus. Di sana ia bertemu dengan beberapa orang yang tidak sempurna tubuhnya. Ada yang punya lubang di keningnya, ada yang buntung tangannya. Ketika ia bertanya kepada Yesus mengapa mereka mempunyai cacat tubuh padahal Alkitab mengatakan kita akan menerima tubuh baru saat masuk surga, Yesus menjawab begini. “Bila di dunia kamu punya luka karena kesalahanmu, di surga luka itu menghilang. Tetapi jika luka itu disebabkan karena Nama-Ku, misalnya kamu ditembak mati ketika sedang menginjili, atau dianiaya karena menolak mengingkari imanmu, luka itu akan tetap dibawa ke surga agar semua penghuni surga mengetahui apa yang telah kamu kerjakan di dunia demi Nama-Ku.”
Jadi, pendeta yang pincang kaki gara-gara terpeleset waktu naik ke mimbar, jangan berharap pincangnya akan hilang waktu di surga. Karena itu bersegeralah ke rumah sakit untuk memperbaikinya, mumpung belum emiritat. Bila tidak percaya, minta Tuhan Yesus mengajak Anda jalan-jalan ke surga. Jika anak pendeta saja diajak-Nya, masa Anda yang pendeta tidak diajak? Kecuali, Anda banyak berdosa dalam kerja pelayanan. Itu kata mereka lho.
Seorang pendeta dari kotaku diundang memimpin KKR di sebuah kota di Australia. Dalam kotbahnya ia bersaksi begini (yang tidak pernah ia ceritakan dalam ibadah di gereja asalnya). Ia diajak jalan-jalan Tuhan Yesus ke surga (Kok rasanya saat itu surga itu seperti obyek tujuan wisata ya). Ia melihat rumah-rumah di sana tidak seragam bentuk dan lokasinya. Ada yang besar ada yang kecil. Ada yang di tanah rendah ada yang di atas bukit. Ia protes kepada Yesus. Lalu Yesus memberikan penjelasan. Setiap bentuk dan lokasi rumah itu tergantung dari apa yang dilakukan penghuninya sewaktu masih hidup di dunia. Yang rumahnya kecil dan di tanah rendah adalah milik orang-orang yang pelit memberi persembahan. Yang besar dan di bukit, yang fengsui-nya bagus adalah milik pendeta dan jemaat yang gemar memberi persembahan. Oleh karena itu, tahu sendirilah.
Apakah ia berbohong dalam bersaksi? Perjanjian Baru hanya mencatat 2 orang yang pernah ke surga. Yohanes ketika menerima wahyu di Pulau Patmos dan Paulus yang hanya bercerita “Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau – entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya – orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga” (2 Korintus 12:2).Begitu singkat, bahkan ia tidak berterus terang mengatakan “Orang itu saya lho.” Karena ia tidak bercerita apa-apa, saya juga belum pernah tur ke surga, mana berani saya mengatakan para wisatawan surga itu mengada-ada. Yang saya tahu Yesus hanya bilang “di rumah Bapa-Ku ada banyak tempat, dan satu di antaranya Aku sediakan untukmu.” Jangan kata rumah model kondominium atau real estate, rumah tipe RSSSS saja saya sudah bahagiaaaaa sekali. Saya ini apa kok berani mengharap lebih. Pendeta bukan, jadi aktivis pun tanggung. Kalau memang ada sedikit bonus, paling saya hanya berani minta seperangkat komputer pakai modem agar bisa meneruskan online dengan para penulis Sabda Space.
Wisata ke surga itu dulu. Sekarang trendnya sudah pindah ke galaksi. Setelah ini apa lagi?
Semoga tidak ada yang menanggapi pertanyaan di atas dengan menulis sebuah kesaksian seperti ini. “Tadi malam ketika cari teman chatting di internet, saya ter-connect dengan engkong saya yang sudah meninggal 25 tahun yang lalu. Ia cerita bahagia sekali di surga. Motor bebek 70 cc kesayangannya yang dulu dijual untuk nomboki dana pembangunan gereja, diganti Tuhan Yesus di sorga dengan motor gede Harley Davidson yang engine power-nya seperti Mercedes seri terakhir. Sekarang ia tiap hari ngebut di jalan-jalan tol kerajaan sorga.” Ya, siapa tahu tahun depan ketika orang mulai bosan mendengar kisah perjalanan wisata ke galaksi blusukan black hole menyiasati dimensi waktu, orang mulai bersaksi mendapat kontak dari almarhum buyutnya di pisbuk.
Ketika semua mata tertuju kepadanya, ketika gemuruh tepuk tangan diberikan, seorang pembawa kesaksian melambung tinggi ke angkasa sehingga lupa untuk apa ia bersaksi. Ia memuliakan namanya sendiri, bukan Nama Allah lagi. Ia menepuk dada karena berhasil meng”kleim” janji Allah, seolah-olah ia telah setia membayar premi (baca: hidup kudus) setiap hari sehingga berhak menuntut (tidak lagi memohon) sesuatu dari Allah. Pada saat itulah ia tergelincir. Ia kemudian menambah-nambahi kesaksiannya dengan hal-hal yang patut diragukan apakah benar-benar telah dialaminya. Ia tidak memalsukan fakta, hanya menggelembungkannya, untuk mendapat efek dramatis yang akhirnya membuat ia melakukan mark-up seperti reality show di televisi saat ini.
Para pendengar berdecak kagum dan berpikir “betapa rohaninya engkau, engkau memang patut menjadi pembimbing rohani kami.” Sementara beberapa orang menangis tanpa suara sambil mengeluh dalam hati, “Tuhan, apakah dosaku sehingga satu kali pun mukjizat belum pernah Kau berikan kepada hamba ini?”
Sambil mewaspadai dusta sewaku mendengar kesaksian orang lain, marilah kita berusaha tidak mencuri kemuliaan Allah sewaktu kita sendiri bersaksi. Sampaikanlah berita itu dengan rendah hati agar Nama Allah ditinggikan, dan para pendengar kita dikuatkan imannya. Jika kita merasa tidak akan sanggup menahan godaan bersombong diri, lebih baik meniru Paulus yang memberikan kesaksian seolah-olah itu terjadi pada orang lain.