Submitted by
Puput Manis
on
Siang itu aku duduk termangu di dekat pintu
Di kampusku yang biru,
Hatiku gundah tak menentu
Memikirkan rancangan skripsiku,
Tiba-tiba mataku terpaku
Pada tulisan apik di dinding dekatku,
Dengan membaca,
Kegagalan kita tinggalkan di belakang,
Berlari kita ke segala arah,
Menerobos ke segala celah,
Dan berpacu ke segala jarak.
Sejak saat itu,
Bila aku lagi terbenam membaca buku,
Dan kekasih bertanya :”Sedang apa kau, sayangku?”
Maka jawabku:
"Aku sedang meninggalkan kegagalan di belakangku,
Berlari ke segala arah,
Menerobos ke segala celah,
Dan berpacu ke segala jarak."
Kampus Biru, Pebruari 2008.
Speed Reading? No!
Ketika pertama kali masuk ke Perpustakaan Wilayah, aku hanya bisa berkata dalam hati, "Aku ingin bisa membaca semua buku ini." Tidak mungkin kulakukan, tetapi aku tetap membaca, terutama buku dengan yang ada angka 500 atau 800 di punggungnya. Lalu hari sabtu, sepulang sekolah aku mencari buku dengan tulisan "F" di punggungnya.
Ketika kuliah kegiatan ini kutinggalkan, kadang-kadang aku membaca buku di perpustakaan kampus, tetapi sangat jarang. Sesuatu yang aku sesali.
Suatu hari aku menemukan sebuah buku, di buku ini dikatakan masalah sekarang bukan berapa banyak buku yang bisa saya lahap, tetapi bagaimana aku bisa menyeleksi buku apa saja yang bisa aku baca.
Sepertinya membaca buku bukan lagi hanya sekedar masalah "speed reading" tetapi masalah "selective reading". Aku tidak akan bangga mampu menyelesaikan satu buku setebal 300 halaman dalam satu jam, aku tidak bisa bangga menguasai banyak hal karena membaca. Aku tidak akan membuat otakku menjadi sebuah perpustakaan berjalan, karena aku hidup dalam sebuah budaya yang percaya orang yang otaknya terlalu penuh bisa menjadi gila.
Aku telah belajar satu hal. Bukan tentang apa yang aku ketahui, tetapi bagaimana mencari apa yang belum perlu aku ketahui.
Aku tetap setuju satu hal, yaitu:
Mbak Puput :Berlari tanpa Makna
Dengan membaca,
Kegagalan kita tinggalkan di belakang,
Berlari kita ke segala arah,
Menerobos ke segala celah,
Dan berpacu ke segala jarak.
Saya setuju dengan puisi mbak Puput,
tapi pernah saya alami
saat membaca malah kata-kata itu cuma melintas begitu saja tanpa makna.
Maka saya juga setuju dengan anakpartisa,
untuk apa mampu membaca beratus-ratus halaman tapi tak meninggalkan makna.
Tapi kalau sudah diburu deadline gimana dong????
Dengan membaca,
Kegagalan kita tinggalkan di belakang,
Berlari kita ke segala arah,
Menerobos ke segala celah,
Dan berpacu ke segala jarak.
Versi saya:
Saat aku membaca,
seluruh panca indraku melebur meluruh
dan kata-kata itu medekap mesra
mata... telinga.. jiwa...
dan sekejap pula
ia beriku sepasang sayap
entah kapan dan bagaimana
ia telah bawaku melesat jauh
berlari ke segala arah
menerobos segala celah
dan berpacu ke segala jarak
GBU
Mbak Puput :Berlari tanpa Makna
Dengan membaca,
Kegagalan kita tinggalkan di belakang,
Berlari kita ke segala arah,
Menerobos ke segala celah,
Dan berpacu ke segala jarak.
Saya setuju dengan puisi mbak Puput, tapi pernah saya alami saat membaca malah kata-kata itu cuma melintas begitu saja tanpa makna. Maka saya juga setuju dengan anakpartisa, untuk apa mampu membaca beratus-ratus halaman tapi tak meninggalkan makna. Tapi kalau sudah diburu deadline gimana dong????
Dengan membaca,
Kegagalan kita tinggalkan di belakang,
Berlari kita ke segala arah,
Menerobos ke segala celah,
Dan berpacu ke segala jarak.
Versi saya:
Saat aku membaca,
seluruh panca indraku melebur meluruh
dan kata-kata itu medekap mesra
mata... telinga.. jiwa...
dan sekejap pula
ia beriku sepasang sayap
entah kapan dan bagaimana
ia telah bawaku melesat jauh
berlari ke segala arah
menerobos segala celah
dan berpacu ke segala jarak
GBU
Clara Terbang ke Segala Arah
Dear Clara,
Kalau udah pake sayap, kamu udah ga berlari lagi, tapi terbang ke segala arah. Lebih cepet tuh! Terus klo waktu baca seluruh panca inderamu melebur meluruh begitu, ada bom meledak di samping, kamu pasti ga denger (atau ga sempet denger)
Aku juga setuju ama tulisan anakpatirsa: kita membaca itu artinya harus pinter memilih agar kita tau apa yang perlu kita tau aja. Klo mo tau semua yang kita pengen tau, mustahil dah. Abis di jaman "Information Overload" begini, klo mo dibaca semua, kapan abisnya? Mungkin kita perlu juga pelajari ilmu baca cepatnya Hai Hai : 400 kata/menit yang dia akui hanya dilewatkan di memori aja tapi ga disimpan di hardisk.
Salam Hangat Dalam Kasih-Nya,