Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Tersimenium

victorc's picture
Shalom, selamat pagi saudaraku. Beberapa hari yang lalu (29/9), pagi-pagi saya mendapat telepon dari seorang sahabat. Dia memberitahukan saya bahwa ada berita menarik di harian Jawa Pos tentang temuan beberapa mahasiswa UB berupa alat untuk meningkatkan produktivitas padi menggunakan frekuensi. Karena penasaran, lalu siang itu saya mencari harian JP.

Cara kerja
Ternyata memang JP melaporkan sebuah alat kecil mirip radio saku ukuran 5x10 cm yang diklaim dapat meningkatkan produksi padi hingga dua kali lipat. Alat ini dirancang oleh tiga mahasiswa mesin UB, yaitu: Siti Amalina Azahra, Achmad Syaifudin, dan Dimas Eko Prasetyo. Mereka tergabung dalam Tim Divisi Aerokreasi Teknik Mesin UB.
Cara kerja alat yang dinamakan Tersimenium cukup sederhana: pasang di dekat padi selama 2 jam sehari, bisa pagi atau sore hari, nanti hasil panen akan meningkat dua kali lipat. Pemasangan itu bisa dimulai sejak padi ditanam. 
Jangkauan alat tersebut hingga saat ini baru dalam radius 7 meter, dan rencananya akan disempurnakan. Dan perlu dipastikan bahwa selama dua jam diaktifkan, baterai harus cukup.

Kicauan
Tersimenium memanfaatkan frekuensi kicauan burung, yakni 3000-5000 Hz. Pembuatan alat ini menurut mereka terinspirasi dari studi literatur peneliti asal Australia, Dr. Dan Carlson. Menurutnya, frekuensi tersebut dapat menpengaruhi pembukaan stomata (bukaan kecil pada daun selebar maksimal 0,0001mm) pada tumbuhan. Semakin lebar stomata terbuka, maka penyerapan mineral, unsur hara dan karbondioksida akan lebih banyak.
Tersimenium terbukti efektif meningkatkan jumlah bulir per tanaman. Awalnya hanya 16 bulir saja, setelah dirangsang dengan suara dari Tersimenium, bisa meningkat menjadi 27 bulir per tanaman.
Tersimenium telah diuji coba selama dua minggu di Lab Biologi FMIPA UB untuk menunjukkan bahwa pembukaan stomata dipengaruhi oleh frekuensi kicauan burung. Dan temuan ini telah meraih juara umum pada Pekan Inovasi Mahasiswa Pertanian Indonesia (PIMPI) di IPB, 17-18 September lalu.

Sonic Bloom
Tentunya saya sangat mengapresiasi temuan tersebut, untuk membantu para petani meningkatkan produksi padi. Kejujuran para penemunya juga patut diapresiasi, karena mereka tidak mendaku penemuan ini hasil inspirasi dari langit, melainkan dari temuan Dan Carlson.
Saya mencoba mencari penelitian sejenis, ternyata ada beberapa yang sudah melakukannya, misalnya:
a. Dan Carlson - Sonic bloom (1)(2)
b. Istirochah Pujiwati dan Djuhari: dalam jurnal Agrocultural Science 2014, mereka melaporkan efek gelombang frekuensi tinggi pada pembukaan stomata pada soybean(3).
c. Wenny Amaliah: dalam skripsinya bulan Desember 2013 di IPB, dia menjelaskan rancangan rak persemaian bibit padi menggunakan musik seruling (4).
d. Zhu Jun-ru dkk: dalam jurnal Agricultural Science and Technology 2011 melaporkan efek frekuensi akustik musik terhadap tingkat asam indoleacetic pada 6 jenis tanaman.(5)
e. Reda Hassanien: melaporkan efek frekuensin akustik terhadap pertumbuhan strawberry(7).

Kritik
Meskipun ide untuk menstimulasi pembukaan stomata pada tanaman sangat menarik, namun bukan berarti tidak ada kritik terhadap ide ini. Salah satunya saya temukan dalam artikel (8). 
Penulis menyampaikan pengalamannya dengan Sonic Bloom liquid yang dipromosikan dapat meningkatkan produksi tanaman, namun dari uji coba dengan tomat tidak ditemukan petunjuk bahwa pertumbuhan tanaman itu karena Sonic Bloom dan bukan karena fertilizer sintetis yang digunakan. Selain itu dia menduga bahwa Sonic Bloom adalah sejenis emulsi yang terbuat dari ikan.
Karenanya, disarankan untuk menguji coba metode frekuensi ini dengan dan tanpa fertilizer, sehingga pengaruh frekuensi terhadap pertumbuhan tanaman dapat dikontrol.

Penutup
Pesan penutup untuk tim penemu Tersimenium, selamat mengembangkan dan pantang menyerah. Temuan mereka mungkin bisa dikategorikan pada Botany Cymatics.(6) Tampaknya temuan ini membuka peluang pengembangan berbagai terobosan metode praktis untuk meningkatkan produksi padi.

Versi 1.0: 30 september 2016, pk. 10:38
VC

Referensi:
(1) www.dancarlsonsonicbloom.com
(2) http://www.originalsonicbloom.com/published/creationillustrated2003.html
(3) http://www.todayscience.org/AS/article/as.v2i1p69.pdf
(4) http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/67764/F13wam.pdf?sequence=1&isAllowed=y
(5) http://sound-application.com/????/Efects%20of%20Music%20Acoustic%20Frequency%20on%20Indoleacetic.PDF
(6) http://milbert.com/Files/articles/BiologyBotanyCymatics/Music_Effects_Plants_turkey_university-music_root_growth_onion-2007.pdf
(7) https://www.researchgate.net/profile/Reda_Hassanien2/publication/266383645_Effect_of_Acoustic_Frequency_Technology_on_the_Growth_of_Strawberry_in_Solar_Greenhouse/links/5433c6160cf294006f71bb6b.pdf?origin=publication_detail
(8) http://www.recoveringgrace.org/2013/03/sonic-bloom-untruth-with-an-agenda/
__________________

Publikasi:
a. Sangkakala Sudah Ditiup (sept. 2016). Dapat dipesan melalui: http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
b. Menggugat Eisenman (Nov. 2016). Dapat dipesan melalui email: admin@nulisbuku.com
c. Http://independent.academia.edu/VChristianto