Submitted by victorc on

Teks: Kejadian 2:8-10,15

    8  Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu.
 
    9  Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.
 
    10  Ada suatu sungai mengalir dari Eden untuk membasahi taman itu, dan dari situ sungai itu terbagi menjadi empat cabang. 

    15  TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.  


    
Shalom, selamat pagi saudaraku. Pagi ini izinkan saya berbagi perenungan tentang taman atau kebun. Jika kita membaca Kejadian pasal 2, maka setelah Tuhan menciptakan manusia lalu beristirahat pada hari ketujuh, maka pada hari berikutnya Tuhan menciptakan taman. Jadi sejarah kehidupan di bumi ini dimulai dari sebuah taman, yaitu pada hari ke-8. 

Pada mulanya adalah taman ...

Itulah permulaan riwayat manusia di bumi: Tuhan menciptakan sebuah taman yang maha indah dan menempatkan manusia di taman itu. Untuk apa? Ayat 15 memberikan kita penjelasan: "untuk mengusahakan dan memelihara taman itu," bukan untuk mengeksploitasi dan merusaknya. 

Namun, setelah manusia diusir dari taman Eden itu, maka mereka mesti hidup di bagian bumi yang kering dan tandus. Tapi tidak seluruhnya tandus, karena toh ada bagian-bagian bumi yang cukup subur untuk ditanami.
Bahkan Nuh tercatat sebagai perintis kebun anggur pertama kali. 

Genesis 9:20, "Nuh menjadi petani; dialah yang mula-mula membuat kebun anggur."

Artinya profesi petani adalah profesi yang berkenan di hadirat Tuhan, karena mengembalikan tujuan hidup manusia sebagai pengusaha lahan seperti dulu pada waktu manusia masih di taman Eden. Kini, seluruh dunia adalah taman milik Tuhan yang mesti dikelola dengan baik.

Yesus juga sering menggunakan metafora "kebun anggur" untuk menyampaikan pesan-pesan tentang Kerajaan Sorga. 

"Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain." Mat. 21:33

Dalam perumpamaan tersebut, Yesus menyindir orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang tidak mau mengembalikan kebun anggur kepada pemilik-Nya. Yesus bernubuat bahwa Ia akan memberikan kebun anggur itu kepada bangsa-bangsa lain yang akan memberikan hasil pada waktunya.


Lalu bagaimana dengan kita? Sebagai umat Kristen yang bukan dari keturunan Abraham secara lahiriah, kita termasuk sebagai bangsa-bangsa lain yang "kecipratan" berkat Abraham itu. Sudahkah kita memberikan hasil kebun itu kepada Sang Empunya kebun itu, yakni Tuhan sendiri?


Yang saya maksudkan bukan saja hasil kebun dalam artian rohani, namun juga bagaimana kita mengelola bumi yang subur dan permai yang dikaruniakan kepada kita semua bangsa Indonesia. Sudahkah kita mengelola kebun tersebut dengan penuh tanggung-jawab dan takut akan Tuhan?

Salah urus

Dari perbincangan dengan beberapa orang teman,* tampaknya ada alasan untuk mengatakan bahwa di banyak daerah, lahan pertanian cenderung menurun kesuburannya. Hal ini mungkin disebabkan oleh berbagai hal, di antaranya adalah:
 
a. Tanah dipaksa untuk terus berproduksi tanpa memberikan jeda untuk istirahat, akibatnya tanah tidak memiliki kesempatan untuk memulihkan kesuburannya. Padahal dalam Alkitab diatur bahwa tanah mesti diberikan masa istirahat setelah beberapa tahun berproduksi (tahun Yobel).

b. Selama puluhan tahun, tanah dipacu untuk berproduksi menggunakan berbagai pupuk kimiawi. Pada akhirnya tanah menjadi keras dan produksi pertanian menjadi susut. 

Salah satu contohnya adalah buah apel. Saya memang bukan peneliti pertanian, namun saya mendengar tentang apa yang terjadi di salah satu kota di Jawa Timur yang terkenal dengan produksi pertaniannya. Ya, kota Batu dari dulu sangat terkenal dengan buah apel dan pelbagai sayuran dan buah-buahan lainnya. Bahkan mungkin apel Batu terkenal sampai ke ibukota.

Namun informasi dari seorang teman yang juga memiliki kebun apel, kini apel yang asli produksi Batu kecil-kecil dan rasanya masam. Karena itu, pedagang apel mendatangkan apel dari desa Poncokusumo dan Nongkojajar, lalu membawanya ke Batu. Jadi, kalau Anda kebetulan mampir ke Batu dan membeli apel di sana, kemungkinan besar itu bukan apel asli dari Batu sendiri.

Ketika saya bertanya mengapa hal itu bisa terjadi, dia menjawab bahwa tanah di daerah Batu rupanya telah jenuh dengan berbagai pupuk kimiawi, sehingga kesuburannya telah hilang dan kini menjadi keras. Akibatnya buah apel yang asli Batu kecil-kecil dan masam. Dan untuk memulihkan kesuburan tanah tersebut mungkin memerlukan waktu yang lama.

(Salah satu artikel yang pernah saya baca menyebutkan bahwa urea adalah bahan kimia yang diciptakan pada masa PD II untuk memperkeras lahan-lahan bekas sawah, sehingga bisa digunakan untuk pendaratan pesawat tempur. Setelah perang usai, pengusaha urea mengemas ulang produk tersebut, lalu menjualnya sebagai pupuk. Tidak heran kalau pupuk urea menyebabkan tanah menjadi keras.)

Organik

Mungkin berbagai pertimbangan di atas menyebabkan banyak