Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Kerinduan dari Seorang yang tak Penting

loveJesus's picture

saya adalah seorang ibu rumah tangga yang tinggal di sebuah desa dipinggiran kota. dipersekutuan gereja yang saya ikuti, saya terpilih menjadi seorang pelayan khusus. dan beberapa tahun kemudian saya terpilih kembali tetapi bukan hanya saya, suami saya juga terpilih. awalnya saya kuatir dan ragu bagaimana nanti suami saya membagi waktu antara pekerjaan dan tugas tanggung jawab keterpilihannya. tapi saya membuang keraguan dan kekuatiran itu ketika melihat keyakinan suami saya "pasti Tuhan kasih jalan".kehidupan perekonomian keluarga kami masih sangat lemah alias jauh dari mapan...rumah masih ngontrak... suami kerja semrawut..dapet duit istilahnya senen-kemis...saya tidak pernah kuatir tentang makanan or pakaian karena toh selama beberapa tahun ini gak pernah yang namanya gak makan...tapi ternyata kebutuhan yang harus dihadapi sekarang ini bukan hanya soal makan....(kami memiliki 2 orang anak, sekolah SD...bulan lalu anak kami sakit dan semestinya harus periksa lab tapi sampai sekarang kami belum bisa membawanya...ini salah satu contoh menggambarkan keadaan perekonomian kami),terkadang saya merasa bahwa kami menjadi belas kasihan orang lain…kadang saya berfikir sepertinya tangan kami hanya tengadah tapi saya menghibur diri bahwa itu adalah berkat yang Tuhan salurkan melalui orang tersebut. Disetiap doa saya selalu memohon kiranya Tuhan berkenan memberikan pekerjaan kepada suami saya…dan beberapa bulan ini sepertinya Tuhan menjawab doa saya..ada banyak tawaran pekerjaan tapi yang menjadi masalah pekerjaan-pekerjaan itu mengharuskan suami saya keluar daerah yang itu berarti tentu dia tidak dapat melaksanakan tugas tanggung jawab keterpilihannya (penatua) dipersekutuan gereja kami. Bukan sejak terpilih saja suami saya mencoba mencari peluang-peluang pekerjaan/ usaha-usaha  yang ada disekitar tapi tak kunjung membuahkan hasil…terakhir suami saya menolak tawaran kerja dari beberapa sahabat karibnya diluar daerah  dengan alasan pelayanan di gereja…sampai-sampai ada salah satu sahabat karibnya bilang kesaya “melayani memang melayani tapi juga harus realistis, gimana mau melayani keluar kalau didalamnya aja lemah” (saya malu juga karena yang bicara adalah orang yang sering sekali membantu kami dan ia berasal dari keyakinan sebrang). saya mau minta pendapat saudara-saudara seiman..apa yang harus kami lakukan…saat ini berkas CV suami saya sedang ditunggu….saya bingung bagaimana saya harus mensupport suami saya….tidak semua orang bisa dapat tawaran pekerjaan,  mungkinkah ini jalan yang Tuhan tunjukan…mungkinkah ini jawaban atas doaku…tapi bagaimana dengan tugas tanggung jawabnya sebagai penatua di jemaat…takut salah kasih support…apalagi melihat langsung peristiwa-peristiwa/pengalaman-pengalaman salah satunya (yang lain Cuma denger) yang terjadi/dialami oleh tetangga saya…setelah terpilih menjadi diaken, mungkin keadaannya saat itu seperti kami saat ini, kemudian ia memutuskan berangkat bekerja keluar negeri sebagai pelaut, satu tahun kemudian ia kembali dengan dollar ditangan..diperjalanan pulangnya ia ditipu, diberi racun tikus diminumannya, dibuang disalah satu got dijakarta dan semua dollar melayang alias raib…tapi puji Tuhan nyawanya terselamatkan….apakah ini hanya reka-reka seperti kebiasaan orang yang suka menghubungkan kejadian dengan yang lain atau yang suka mencari-cari sebab akibat………”itu sih lantaran ninggalin pelayanan digereja”, “teguran tuh dari Tuhan” itu pendapat-pendapat yang ada…….saya dan suami saya sangat merasakan bahwa sekuler dan non sekuler tidak bisa dipisahkan…..sebenarnya tidak menjadi masalah kalau tawaran-tawaran yang datang Cuma dalam daerah tapi sampai saat ini tawaran-tawaran dari luar yang terus datang…..saya sangat rindu mendengarkan pendapat/ nasehat dari saudara-saudara seiman yang ada di SS ini…… …… God bless

 

jika gunung itu tak jua beranjak

mampukan hamba untuk mendakinya

 

Purnomo's picture

Ibu LJ - siapakah yang tidak penting?

Kerinduan dari "seorang yang tidak penting" - ini judul blog kedua Ibu.
Yang pertama juga "gak penting".

Berkaitan dgn blog saya "mahar 6 sapi", kita ini "bagai biji mata Tuhan" sehingga mahar penebus jiwa kita adalah darah Putera-Nya.

Ibu jadi "penting" bagi suami dan 2 orang anak Ibu. Suami Ibu juga "penting" dalam posisinya sebagai penatua. Tetapi posisinya sebagai kepala rumah tangga ada di atas posisi sebagai penatua. Sebab syarat menjadi penatua adalah dia bertanggung-jawab kepada keluarganya (ada ayat2 di Alkitab yang merujuknya) dalam hal ini adalah menafkahi mereka. Bagaimanakah dia bisa menjadi teladan jemaatnya apabila dia (maaf) menelantarkan nafkah keluarganya?

Sewaktu bekerja sebagai salesman yang berpindah-pindah domisili, saya sering diminta unt menjadi penatua gereja setempat. Tetapi sampai sekarang saya tidak pernah mau menjadi penatua karena saya jarang berada di rumah. Saya hanya bisa jadi guru SM. Atau menjadi sopir pendeta bila mendadak ia membutuhkan transportasi melawat/melayat jemaatnya karena saya memegang mobil perusahaan.

Apakah ini berarti saya tidak bisa melayani Tuhan?

Melayani Tuhan tidak harus menjadi penatua atau pengurus kegiatan gerejawi lainnya. Melayani Tuhan dalam kehidupan sehari-hari ternyata jauh lebih berat daripada melayani-Nya di dalam gedung gereja. Bukan sesuatu yang mudah bagi saya unt tetap bersih di dalam organisasi pekerjaan, tidak korup, berlaku adil bagi bawahan, mengoreksi kebijakan atasan yang kurang benar, tidak memanfaatkan jabatan pekerjaan unt kepentingan pribadi, daaaaan tersirat dalam blog yang ditulis oleh Pak Widdiy, "tidak mencari istri part timer di luar rumah".

Saya sudah mengalami serangan balik dari mereka yang tidak suka atas kelakuan saya itu: dikucilkan bahkan mereka berusaha menyingkirkan saya dari pekerjaan.

Dari opini Ibu tt "tabur-tuai" akibat "ninggalin pelayanan di gereja" saya tahu Ibu punya prinsip yang benar. Saya beri contoh sebaliknya. Saya punya teman yang aktif sekali dalam organisasi gereja - di tingkat lokal sampai di tingkat propinsi - tetapi kayaknya yang namanya masalah tidak pernah berhenti hadir dalam hidupnya. Suatu kali saya memberinya nasihat agar dia terlepas dari semua masalah itu.
"Jadilah anggota jemaat biasa, hanya hadir di gereja pada hari Minggu, duduk manis dalam ruang ibadah," kata saya.
Dia tertawa, "Itu nasihat setan," katanya.

Apakah dengan tanpa pernah jadi penatua, dan 6 tahun yang lalu saya meninggalkan semua jabatan gerejawi saya di level komisi, saya jadi "orang tidak penting" bagi gereja? Saya tidak pernah peduli karena memang kurang setuju dgn istilah "penting". Selalu saya katakan kepada para aktivis gereja - termasuk penatua - "kalau kamu butuh bantuan aku, kabari aku, kalau bisa aku bantu, kalau tak bisa ya dimaklumi saja". Dan saya menerima tugas sebagai sopir dadakan; disuruh sendirian melawat anggota gereja yang sakit, atau sudah jompo, atau sedang sutris; disuruh mendampingi keluarga yang mendadak ditinggal meninggal oleh kepala keluarga; disuruh mencari donasi unt anak2 yang tak mampu; dan di era sosmed ini disuruh membuat dan merawat pesbuk gereja. Semua tanpa bayaran, tanpa ada ganti biaya yang saya keluarkan - karena memang saya tidak mau menerimanya, dan saya tidak pernah mau nama saya dicantumkan sebagai anggota sebuah kepengurusan di gereja.

"Mumpung belum jompo kita manfaatkan purnomo," begitu sering para penatua bergurau.

Jadi?
Keputusan ada di tangan Ibu karena Anda adalah orang yang "penting" dalam masalah keluarga Ibu.

Salam.

loveJesus's picture

@Purnomo: danke Pak Pur....

Shalom, Saya sangat berterima kasih kepada Bapak yang sudah mau membaca bahkan memberikan masukan bagi saya. Sebenarnya saya sempat ragu ketika mencoba menulis blog ini karena saya merasa minder sekali apalagi kalau melihat tulisan-tulisan yang ada di sabda space dan Bapak adalah salah satu blogger di sabda space yang sudah sangat dikenal makanya waktu lihat Bapak memberikan comment diblog saya, saya sangat terkejut dan terharu. Bolehkah kalau Bapak berkenan memberikan kepada saya ayat-ayat alkitab yang menjadi rujukannya. Sekali lagi saya sangat berterima kasih dan sangat menghargai atas respon yang sudah Bapak berikan.