Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Proyeksi?

victorc's picture
Shalom saudaraku,
Pagi ini saya akan melanjutkan cerita saya selama mengikuti acara pelatihan BGA (Baca-Gali Alkitab) yang diadakan oleh Scripture Union Indonesia. Kalau kemarin pagi yang memberikan pelatihan adalah Pdt. Yongky Karman, PhD., maka kemarin siang kami dilatih oleh Pdt. Yohanes Adrie Hartopo, Ph.D., yang adalah mantan Ketua STT Amanat Agung. Topik yang beliau bahas adalah Injil Matius. 
Ini merupakan topik yang menarik karena beliau tidak saja membahas perumpamaan-perumpamaan Yesus, tapi juga tentang historisitas (kesejarahan) dan reliabilitas (keterandalan) dari keempat Injil. Beliau antara lain menyatakan bahwa keempat Injil adalah biografi teologis (theological biography), artinya sekaligus adalah kitab catatan sejarah, dan juga masing-masing penulis Injil memiliki agenda teologis yang mungkin tidak persis sama satu dengan yang lain.
Penjelasan beliau tersebut menggelitik saya, sehingga saya lalu bertanya kira-kira seperti berikut:
a. Kalau disebut bahwa keempat Injil adalah biografi teologis, maka lalu muncul pertanyaan tentang seberapa jauh kadar biografi historis dan kadar teologis dari Injil?
B. ada banyak kritik yang mengatakan bahwa Injil ditulis sebagai refleksi iman gereja purba terhadap sosok Yesus, jadi dengan kata lain sulit untuk memperoleh gambaran tentang Yesus historis, karena yang kita baca dalam keempat Injil adalah Kristus iman. Bagaimana pendapat bapak? 
c. Tuduhan lain adalah bahwa gereja yang berkuasa waktu itu menyeleksi kitab-kitab mana yang masuk kanon dan mana yang tidak masuk. Tidak hanya itu, gereja purba juga dituduh melakukan perubahan yang signifikan terhadap fakta-fakta sejarah demi untuk mengusung sosok Yesus sebagai Tuhan. Bagaimana pendapat bapak?
Pertanyaan saya kemarin tidak persis sama dengan yang di atas, tapi itu intinya. Bpk. Yohanes menjawab bahwa ia baru mau akan membahas topik tersebut. Nanti akan saya kupas sedikit jawaban beliau, tapi ada baiknya kita menyoroti beberapa tuduhan utama terhadap historisitas Alkitab khususnya keempat Injil dan Kisah Para Rasul.

Beberapa kritik terhadap historisitas Alkitab
Memang sejak dahulu kala banyak orang yang melakukan kritik terhadap berita Alkitab, khususnya yang diserang adalah sejauh mana Alkitab merupakan catatan sejarah. Karena mukjizat-mukjizat yang dilakukan Yesus dan juga kebangkitan-Nya merupakan batu sandungan bagi banyak orang yang tidak mau bertobat. Jadi kritik terhadap historisitas Alkitab pada intinya hendak mempertanyakan keilahian, penyaliban, penebusan dan kebangkitan Yesus apakah benar merupakan fakta sejarah. 
Catatan sejarah menyebut bahwa kritik itu sudah dimulai sejak tahun 150an Masehi yaitu oleh sekte Ebionit, yang merupakan sempalan dari gereja Yahudi. Sekte Ebionit ini diduga muncul pasca revolusi Bar Kokhba, dan mereka menerapkan aturan-aturan Yudaisme secara ketat, menerima sunat, menerima Injil Matius tapi menolak keilahian Yesus dan juga menolak kerasulan Paulus. Saya mengupas tentang Ebionisme  ini dalam paper yang diterbitkan oleh Indonesian Journal of Theology (2).
Sejak itu muncul bermacam-macam aliran pemikiran yang intinya menolak reliabilitas Alkitab dan keilahian Yesus, jumlahnya banyak sekali dan itu merongrong ajaran gereja yang ortodoks. Meskipun Alkitab dikritik dan dipertanyakan oleh berbagai kalangan, tapi toh tetap bertahan sebagai buku yang paling inspiratif. Sekitar abad 18 ada penulis terkenal dari perancis bernama Voltaire yang pernah berkata pada tahun 1778: "Perlu 12 orang untuk memulai kekristenan, tapi cukup satu orang untuk menghentikannya." (English: "It took 12 men to start Christianity, but one man will stop it." - maksudnya dia sendiri. lihat ref. (8)) Tapi setelah itu Voltaire mati pada tahun itu juga, sementara Alkitab terus bertahan sebagai buku yang paling banyak dicetak ulang hingga sekarang.
Di kalangan teolog modern juga ada metode yang disebut kritik historis yang digunakan secara meluas. Metode ini tidak keliru, tapi beberapa ahli biblika mengadopsi pendekatan yang bisa disebut sebagai kritik radikal (radical criticism), yang intinya adalah skeptisisme atau hypercriticism terhadap Alkitab dan ajaran Kristen. 
Saya tidak akan membahas di sini semua pemikir yang menggunakan pendekatan tersebut, tapi adalah suatu fakta bahwa beberapa ahli tersebut telah menerbitkan banyak buku yang sangat skeptis yang berpotensi untuk menggoyahkan iman orang-orang Kristen. Saya hanya menyebut tiga di antara mereka yang cukup populer, yaitu: Bart Ehrman, Robert Eisenman, dan Gerakan Jesus Seminar. 
Gerakan Jesus Seminar sudah surut pengaruhnya karena tokoh utamanya sudah mati, dan Robert Eisenman sudah saya ulas secara kritis dalam tesis saya, lihat ref. (2). Karena itu mari kita fokus terhadap kritik-kritik Bart Ehrman. 

Skeptisisme Bart Ehrman
Bart Ehrman adalah seorang ahli biblika yang sangat terkenal terutama di Amerika, bahkan suatu kali saya pernah melihat dia dalam salah satu acara yang ditayangkan  oleh Discovery Channel. Dia dianggap mewakili otoritas para sarjana Kristen, tapi sayangnya ia sudah berubah dari Kristen konservatif menjadi agnostik dan ateis (menurut pengakuannya sendiri), bahkan Ehrman bisa disebut sebagai anti-theisme. Metode yang digunakannya adalah natural criticism.
Banyak buku Ehrman yang menjadi best seller di Amerika dan mempengaruhi iman banyak orang Kristen, di antaranya adalah:
- The Lost Christianities (5)
- The Lost Scriptures (4)
- How Jesus became God (6)
Buku yang terakhir ini sudah dibantah tahun lalu oleh pemikir lainnya, yaitu Mike Robinson (1). 
Sebelum saya membahas jawaban Pak Yohanes Adrie terhadap pertanyaan yang saya ajukan, ada baiknya saya membahas sedikit tentang beberapa kritik utama terhadap historisitas Alkitab. Saya mengklasifikasikan berbagai kritik yang melawan historisitas Alkitab itu menjadi 4 golongan sbb:
a. Teori korupsi
B. teori proyeksi
C. Teori adopsi
D. Teori konflik
Klasifikasi ini saya buat sendiri, bukan dikutip dari buku tertentu, dengan tujuan agar pembaca dapat memahami berbagai kritik terhadap historisitas Alkitab dan keilahian Yesus.

Korupsi: yang dimaksud di sini adalah tuduhan bahwa gereja purba sudah melakukan banyak rekayasa terhadap fakta sejarah dengan maksud untuk mempromosikan gelar Yesus sebagai Mesias dan Tuhan, padahal Yesus sendiri (menurut mereka) tidak pernah mengklaim seperti itu. Menurut mereka, Yesus sejarah mungkin hanyalah guru desa keliling yang pernah mengajar di Galilea dan sekitarnya sambil menyembuhkan orang.

Proyeksi: Inti tuduhan di sini adalah bahwa gereja mula-mula memroyeksikan iman mereka akan Yesus, dan itu tercermin dalam keempat Injil. Jadi Injil merupakan ungkapan proyeksi iman gereja purba, bukan Jesus as he was. Beberapa orang mengutip teori grid/group yang dikembangkan oleh antropolog Mary Douglas sekitar tahun 70an. Lihat misalnya artikel Bruce J. Malina (7). Teori itu kira-kira menyatakan bahwa sekelompok orang yang terkucil cenderung memiliki pengharapan yang mesianik. Dan menurut para kritikus ini itulah yang terjadi dalam gereja purba: mereka terkucil baik dari pemerintahan Romawi maupun masyarakat Yahudi, sehingga mereka memproyeksikan Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan.

Adopsi: menurut tuduhan ini, gelar Kurios (Tuhan) yang diberikan kepada Yesus diadopsi dari Helenisme atau tradisi Romawi Kuno untuk menghormat Kaisar mereka.

Konflik: tuduhan ini dipelopori oleh teolog F.C. Baur dari Tubingen, yang menerapkan filsafat dialektika Hegelian terhadap sejarah gereja purba. Karena Hegel juga pernah mengajar di Tubingen, tampaknya Baur juga terpengaruh pemikiran tokoh filsafat sejarah ini. Inti tuduhannya adalah bahwa gereja purba terdiri dari beberapa kelompok, misalnya pendukung Kristen-Yahudi (Petrus) dan pendukung Kristen-Gentile (Paulus). Dari tesis dan antitesis tersebut, lalu muncul Kisah Para Rasul sebagai sintesis. Tapi gagasan dialektik itu sudah ditinggalkan karena temuan bahwa Kisah Para Rasul (sintesis) kemungkinan besar ditulis sebelum Injil Yohanes (antitesis).

Jawaban
Saya tidak akan menjawab satu per satu keempat kritik tersebut, karena ruang blog ini tidak memadai, tapi saya hanya akan mengutip penjelasan Pak Yohanes Adrie sebagai berikut. Menurut beliau, keraguan terhadap historisitas keempat Injil adalah karena dugaan bahwa sumber-sumber utamanya adalah tradisi lisan. Pertanyaannya adalah: apakah tradisi lisan dapat dipercaya?
Argumen-argumen untuk menjawab keraguan tersebut dikenal sebagai "The Reliability of Oral Traditions", sbb:
1. Budaya mengingat (remembering) yang kuat di kalangan orang Yahudi. Bagi orang Yahudi, jikalau sesuatu itu merefleksikan firman Allah maka layak diingat. Tradisi lisan sangat berperan penting dalam budaya Yahudi (Ul. 6:4-9).
2. Sikap menghargai tradisi Gereja mula-mula. Penerusan tradisi adalah sesuatu yang dilakukan hati-hati di gereja mula-mula. Beberapa contih di PB: Luk. 1:1-4, Rom. 6:17, I Kor. 11:2, 23; 15:3-5; Gal. 1:9; Flp. 4:9; I Tes. 4:1
3. Peranan saksi mata dalam penerusan tradisi. Misalnya dalam pembukaan Injil Lukas disebutkan : "yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman." (Luk. 1:1-2).
4. Pemakaian materi atau catatan tertulis: menurut Papias, Matius adalah pencatat di antara para murid Yesus, dan kemungkinan dialah yang rajin mencatat perkataan Yesus
5. Flexible transmission within fixed limit. Kenneth Bailey menyelidiki tradisi lisan di Timur Tengah, dia memakai istilah "informal controlled oral tradition" untuk menunjukkan bahwa sekalipun ada fleksibilitas dalam penceritaan kembali cerita-cerita dalam budaya lisan, inti cerita tetap stabil dan diulang persis sama.

Kesimpulan
Meskipun jawaban tersebut mungkin tidak sepenuhnya menjawab keempat kritik di atas, semoga dapat menolong kita dalam menjelaskan iman Kristen kepada kalangan yang skeptis, khususnya kepada kalangan non-Kristiani.Tentang pertanyaan kapan gereja mulai menyebut Yesus sebagai Tuhan, silakan lihat buku James Dunn, ref. (3).

Bagaimana pendapat Anda? 

Jika ada komentar dan saran silakan kirim ke victorchristianto@gmail.com

5 juni 2015, pk. 9:44
VC

Note: terimakasih kepada Pdt. Yohanes Adrie Hartopo, Ph.D atas bahan Matius yang sangat menarik.

Referensi:
(1) Mike Robinson, How Jesus became God in the flesh: Bart Ehrman refuted. See http://jesusisgod2020.blogspot.com/2014/03/christian-analysis-defeats-anti-theism.html
(2) Victor Christianto. Kesatuan dan Perbedaan dalam Gereja Perdana. Indonesian Journal of Theology, vol. 2 no. 2 (2014), http://www.indonesiantheology.org
(3) James Dunn, Did the First Christians worship Jesus?, http://www.amazon.com/Did-First-Christians-Worship-Jesus/dp/0664231969
(4) Bart Ehrman, The Lost Scriptures, http://www.bartdehrman.com/books/lost_scriptures.htm
(5) Bart Ehrman, The Lost Christianities, https://katachriston.wordpress.com/2010/12/27/bart-ehrmans-lost-christianities-a-critique-part-1/
(6) Bart Ehrman, How Jesus became God, lihat: http://www.huffingtonpost.com/2014/03/25/bart-ehrman-jesus-god_n_5029457.html
(7) Bruce J. Malina. Gospel of John in sociolinguistic perspective. Url: http://www.earlychristianwritings.com/info/john-socioling.html
(8) Voltaire quote. http://danielkolenda.com/2009/08/18/can-you-trust-the-bible/
__________________

Dari hamba yang tidak berguna (Lih. Lukas 17:10)

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ.