Gereja-gereja Indonesia telah menjadi bagian dari negara ini. Semestinyalah gereja dapat memberikan sumbangsih yang berarti untuk kemajuan bangsa. Satu hal yang menjadi kendala dalam memaksimalkan partisipasi gereja di Indonesia adalah masih bergumulnya gereja-gereja dengan masalah perbedaan. Saat ini ada banyak denominasi gereja, dan memiliki perbedaan satu dengan yang lainnya.
Saya pikir gereja perlu belajar dari semut. Mungkin kita pernah melihat sekelompok semut yang mengangkat seekor kecoa. Hal ini menarik, karena tubuh kecoa beberapa kali lebih besar dari seekor semut. Ini adalah sebuah pelajaran kelasik yang menunjukkan bahwa dengan persatuan kita bisa meraih sesuatu yang besar. Betapa pentingnya sebuah persatuan. Untuk bisa memberikan sumbangsih yang besar bagi negara ini semua denominasi harus bisa berkerja sama, bergandengan tangan dalam berpartisipasi mewujudkan kesejahteraan bangsa.
Paulus mengingatkan jemaat di Korintus agar mereka bisa seia sekata, dan jangan sampai terjadi keretakan di antara mereka (lih. Korintus 1:10). Nasehat Paulus ini disebab adanya kelompok-kelompok dalam jemaat Korintus. Ada yang menyebut dirinya golongan Paulus, lainnya lagi mengatakan mereka adalah golongan Apolos, lainnya lagi golongan Kefas, bahkan ada golongan Kristus (lih. ay. 12). Kebersamaan harus terwujud di tengah-tengah jemaat Allah, inilah pelajaran yang saya peroleh dari nasehat Paulus kepada jemaat di Korintus.
Perbedaan akan selalu ada, bahkan mungkin akan bertambah jumlahnya. Namun apakah hal tersebut dapat mengaburkan persaudaraan kita di dalam Kristus. Anggaplah perbedaan sebagai variasi dalam sebuah kebersamaan. Ada yang mengatakan keragaman adalah kekayaan. Tapi bila tidak bisa memandang keragaman sebagai kekayaan, aggaplah itu sebagai wujud kreatifitas. Jadi, bagaimana Gereja bisa menjadi berkat? Ciptakanlah kebersamaan yang kokoh.