Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Leading from powerlessness

victorc's picture

Leading from powerlessness

 

Shalom aleikhem,

Terinspirasi dari kisah kelahiran Yesus yang dibungkus kain lampin (lihat artikel: dibungkus dengan lampin), dan juga buku Steven Furtick (3), penulis baru menyelesaikan artikel draft seputar leading from powerlessness (artikel masih versi draft, belum rampung), artinya belajar mengambil inisiatif kepemimpinan justru dengan menerima segala keterbatasan dan kelemahan kita. (1)

Hal ini juga terinspirasi dari salah satu ayat dalam surat 2 Korintus: "Tetapi jawab Tuhan kepadaku: Cukuplah kasih karunia-Ku  bagimu , sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku  menjadi sempurna." (2 Kor. 12:9)

Bagian awal dari tulisan singkat kami adalah sebagai berikut:

"Sebagian besar dari kita mungkin berpikir, bahwa untuk memimpin dengan baik, seseorang perlu kuasa. Bahkan tidak jarang, para calon pimpinan di gereja-gereja kharismatik yang berpikir bahwa “Saya mesti jadi sukses dan kaya dulu, baru orang mau mendengarkan apa yang saya sampaikan. Sebab jika saya tidak dapat membuktikan keberhasilan perkataan Tuhan, bagaimana mungkin orang akan percaya?” Sekilas mungkin banyak yang berpikir bahwa argument tersebut masuk akal, namun jika kita renungkan, pola pikir tersebut sebenarnya adalah pola pikir duniawi, bahwa pemimpin mesti orang yang kuat, berkuasa, berwibawa, dan kalau bisa super-kaya dst dst. Namun bukankah, jika demikian sebenarnya kita memimpin dengan mengandalkan materi dan mammon? Pola ini mungkin bisa kita sebut sebagai hard-style leadership. Lalu bagaimana pola kepemimpinan yang diajarkan oleh Yesus dan diikuti oleh para rasul zaman dahulu? Yesus bukan lahir dari keluarga yang berada, bahkan lahir dalam palungan dan dibedung dengan kain lampin. Justru pola kepemimpinan Yesus lebih sesuai untuk disebut, memimpin dengan kelembutan (soft-style leadership). Seperti salah satu sabdaNya: “marilah kepadaKu hai yang letih lesu dan berbeban berat, sebab Aku lemah lembut dan rendah hati…” Artikel ini membahas topik kepemimpinan dengan cara pandang yang agak berbeda dari yang telah kita kenal, dengan penekanan pada “leading from powerlessness.” (1)

Tentu bukan maksud kami sebagai penulis untuk mengritik salah satu denominasi, namun mengingatkan kita semua agar terus menerus belajar dalam terang teladan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Guru kita.

 

Ilustrasi 1. Belajar dari Yesus, Sang Tuhan dan Guru 

 

Semoga artikel singkat ini berguna bagi para pembaca. Soli Deo Gloria.

 

Versi 1.0: 22 februari 2021, pk. 16:27

VC

 

Bacaan:

(1) Robby I. Chandra & V. Christianto. url: (PDF) Leading from Powerlessness: Belajar dari jejak kepemimpinan Yesus yang lahir dibungkus lampin | V. Christianto - Academia.edu

(2) V. Christianto. "dibungkus dengan lampin..." url: www.sabdaspace.org

(3) Steven Furtick. url: (Un)Qualified by Steven Furtick - Pastor Resources

__________________

Dari hamba yang tidak berguna (Lih. Lukas 17:10)

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ.