Submitted by clara_anita on

Aku terbang dengan sayap fajar
diam di ujung bumi
namun tanganMu menuntunku ‘slalu
bawaku mendekat padaMu

***

Perlahan lagu itu melantun memenuhi ruang kosong di kepala saya.Tembang itu tidak sengaja saya putar. Tiba-tiba saja ia muncul tanpa permisi pada saat yang paling tidak tepat – saat ketika jarak dengan-Nya terasa puluhan kali lebih jauh dari biasanya. Kemudian, semendadak hadirnya nada-nada itu, sekonyong-konyong pula rasa rindu yang pernah hilang entah kemana itu membanjiri hati saya. Rindu yang membuat kebutuhan untuk “bicara” dengan Bapa terasa begitu mendesak. Rindu yang membuat jemari saya menari pasti di atas tuts keyboard karena saya tahu ini adalah cara ternyaman bagi saya untuk meluapkan apa yang tidak dapat saya ungkapkan dengan bibir.


Saya mengakui bahwa tanpa saya sadari belakangan saya menjauh perlahan dari Sang Pemilik Hidup saya. Ada saja alasan untuk menghindar; mulai dari penyakit perfeksionis yang membuat saya malu akan segala kelemahan saya hingga rasa cinta tak sehat pada pekerjaan yang membuat saya tenggelam dalam rutinitas yang tak pernah ada ujungnya, ataupun ratapan kekecewaan atas situasi yang demikian menyesakkan jiwa. Intinya, bukan Dia yang menjauh, tapi sayalah yang merasa demikian tak layak dan berharga untuk bersimpuh di hadapanNya.


Berada jauh dariNya tidak pernah terasa nyaman. Ada yang kosong – seperti lubang hitam yang menyerap habis seluruh energi yang ada di sekitarnya. Terlebih belakangan selalu saja ada benturan yang terjadi dalam hidup saya tak peduli betapa hati-hatinya saya melangkah. Benturan yang biasa saya tanggapi dengan menangis diam-diam dan memendam dalam semua kekecewaan dan sakit hati. Benturan yang pastinya membuat bentuk saya makin tak karuan – awalnya ia terasa nyeri, namun berangsur berubah menjadi kebas.


Membayangkan benturan dan hantaman, pikiran saya melayang pada seonggok daging yang kemarin diolah menjadi santapan lezat di dapur kami. Untuk mendapatkan tekstur yang empuk dan lembut, daging itu harus dipukul bertubi-tubi. Saya pun berandai-andai, jika saya ada di posisi daging itu pasti saya akan merasa amat kesakitan. Begitupun, saya paham bahwa tujuan di balik perlakuan yang “tidak manusiawi” itu adalah demi kesempurnaan dan kebaikan semata.


Meski terasa akan hancur, tapi Sang Koki tidak akan meremukkan saya. Ia hanya ingin saya menjadi lebih lembut dan kuat sekaligus -- dan sehancur apa pun keadaan kita saat ini, terang kasih Bapa tak pernah gagal menyusup ruang tergelap untuk memulihkan, melembutkan dan menguatkan kita. Kemanapun kita lari atau sembunyi, we can’t just escape His love – kita tidak akan dapat menghindari kasih-Nya.

***
Ada rasa hangat yang perlahan mulai menyebar di hati yang sedang mati rasa ini. Kehangatan yang membuat saya merasa layak untuk mencoba menulis kembali kisah antara saya dan Bapa yang tak pernah mengecewakan saya sebatas pemahaman saya yang teramat dangkal dan sederhana.


... dan alunan tembang itu pun kembali terdengar ....


Kemanakah aku dapat pergi
Menjauhi rohMu Tuhan
Ku berlari mendaki ke langit
namun Engkau ada di sana


Aku terbang dengan sayap fajar
diam di ujung bumi
namun tanganMu menuntunku slalu
bawaku mendekat padaMu


Engkau Tuhan Allah maha tahu
Betapa dasyatnya kuasaMu
HadiratMu kini penuhiku
Bawaku mendekat padaMu