Submitted by PlainBread on

Tidak sedikit yang mengetahui frasa "batu sandungan", terutama di kalangan gereja. Banyak yang menggunakan istilah tersebut dengan benar, tapi sepertinya lebih banyak yang menggunakan istilah tersebut dengan keliru. Seringkali mereka berteriak "jangan jadi batu sandungan!" ketika melihat orang lain mengajarkan dan melakukan yang berbeda menurut apa yang mereka percaya. Mereka mungkin lupa, alkitab mengatakan bahwa Yesus adalah batu sandungan.

 

Apakah "batu sandungan"?

Istilah ini keluar pertama kali di dalam Taurat, tepatnya di dalam kitab ketiga buku Musa:

Im 19:14 Janganlah kaukutuki orang tuli dan di depan orang buta janganlah kautaruh batu sandungan, tetapi engkau harus takut akan Allahmu; Akulah TUHAN.

"Lifnei Iver Lo Titein Mikhshol" = "You shall not place a stumbling block before the blind"

 

Larangan "Batu Sandungan" atau "Mikhshol" atau yang dikenal juga dengan peraturan "Lifnei Iver" ("di depan orang buta") termasuk di dalam Kedoshim, yaitu pembacaan Taurat minggu ke 30 (di mana pada minggu tersebut pembacaannya adalah Imamat 18-19).

Hukum ini melarang orang untuk menaruh batu sandungan di depan orang buta, dan karena batu tersebut diberi istilah "batu sandungan", tentu tujuan larangan tersebut adalah agar orang buta tidak tersandung.

Dari situ kita tahu ada 3 hal yang terlibat dalam peraturan ini:

1. Pihak yang menaruh Mikhshol

2. Batu sandungan atau Mikhshol

3. Orang yang buta


Yang menjadi agak menarik adalah adanya suatu firman yang dikatakan nabi Yesaya dan Yeremia yang bersifat nubuatan:

Yes 8:14 Ia akan menjadi tempat kudus, tetapi juga menjadi batu sentuhan dan batu sandungan bagi kedua kaum Israel itu, serta menjadi jerat dan perangkap bagi penduduk Yerusalem.

Yer 6:21 Sebab itu beginilah firman TUHAN: Sungguh, Aku akan menaruh batu sandungan di depan bangsa ini, supaya mereka jatuh tersandung oleh karenanya; bapa-bapa serta dengan anak-anak, tetangga dan temannya, semuanya akan binasa."

 

Banyak orang kristen yang mengetahui bahwa kedua ayat tersebut menubuatkan perihal Kristus, yang akan menjadi batu penjuru dan juga batu sandungan:

Rom 9:33 seperti ada tertulis: "Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu sentuhan dan sebuah batu sandungan, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan."

1Kor 1:23 tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan,

 

Bahkan sebelum Yesus Kristus disalibkan, murid-muridNya sudah mengajukan keberatan atas perkataan keras dan tajam yang diucapkan Yesus kepada orang-orang Farisi (Mat 15:9-3), di mana keberatan mereka sebenarnya adalah permulaan penggenapan nubuatan yang disampaikan oleh nabi Yesaya dan Yeremia:

Mat 15:12 Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: "Engkau tahu bahwa perkataan-Mu itu telah menjadi batu sandungan bagi orang-orang Farisi?"

Dan sebagai orang Yahudi yang terdidik dan mengetahui Taurat, Dia paham mengenai larangan Taurat mengenai batu sandungan erat hubungannya dengan orang buta. Oleh karena itu Dia menjawab:

13-14 Jawab Yesus: "Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di sorga akan dicabut dengan akar-akarnya. Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang."

 

Namun demikian, bukankah Yesus paham bahwa menaruh batu sandungan di depan orang buta merupakan pelanggaran hukum Taurat?

Yang membuat lebih menarik selain hal tersebut adalah, bagaimana mungkin TUHAN yang melarang orang menaruh batu sandungan di depan orang buta dan larangan tersebut tertulis di Taurat, adalah TUHAN yang sama juga yang menaruh Yesus sebagai batu sandungan untuk orang-orang Yahudi atau untuk orang-orang yang tidak percaya kepada AnakNya?

 

Walaupun terkesan Bapa adalah pihak yang kejam karena menaruh Yesus sebagai batu sandungan dan jawaban Yesus terkesan sembarangan "biarlah orang buta menuntun orang buta", jawabannya ternyata sederhana.

Pihak yang buta ternyata TIDAK mengaku buta alias bisa melihat: Ironisnya, perkara Yesus menjadi batu sandungan bagi orang Yahudi justru terjadi sesaat setelah Yesus mencelikkan mata orang yang buta sejak lahir, sesuatu yang TIDAK pernah dilakukan seseorang terhadap orang yang terlahir buta (Yoh 9:26-34).

 

Kata mereka kepadanya: "Apakah yang diperbuat-Nya padamu? Bagaimana Ia memelekkan matamu?"

Jawabnya: "Telah kukatakan kepadamu, dan kamu tidak mendengarkannya; mengapa kamu hendak mendengarkannya lagi? Barangkali kamu mau menjadi murid-Nya juga?"

Sambil mengejek mereka berkata kepadanya: "Engkau murid orang itu tetapi kami murid-murid Musa.

Kami tahu, bahwa Allah telah berfirman kepada Musa, tetapi tentang Dia itu kami tidak tahu dari mana Ia datang."

Jawab orang itu kepada mereka: "Aneh juga bahwa kamu tidak tahu dari mana Ia datang, sedangkan Ia telah memelekkan mataku.

Kita tahu, bahwa Allah tidak mendengarkan orang-orang berdosa, melainkan orang-orang yang saleh dan yang melakukan kehendak-Nya.

Dari dahulu sampai sekarang tidak pernah terdengar, bahwa ada orang yang memelekkan mata orang yang lahir buta.

Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa."

Jawab mereka: "Engkau ini lahir sama sekali dalam dosa dan engkau hendak mengajar kami?" Lalu mereka mengusir dia ke luar.

 

Apa yang dilakukan Yesus mendengar mereka mengusir keluar orang yang telah dicelikkan matanya itu? 

Yesus datang menemuinya dan bertanya apakah orang itu percaya kepada Anak Manusia. Dia berkata bahwa dia percaya, dan sujud menyembahNya. Inilah perkataan Yesus ketika hal tersebut terjadi:

Yoh 9:39 Kata Yesus: "zAku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta."

Suatu firman yang asing kedengarannya, bukan? 

Saya  sering mendengar bahwa Yesus datang bukan untuk menghakimi, tetapi tidak sering saya mendengar Yesus berkata bahwa Dia datang ke dunia untuk menghakimi.

Saya sering mendengar bahwa Yesus mencelikkan mata orang-orang buta, tetapi Yesus yang sama juga berkata bahwa barang siapa yang dapat melihat, menjadi buta.

 

Karena orang-orang Farisi masih berada di situ dan mendengar apa yang diucapkanNya, mereka bertanya kepadaNya:

Yoh 9:40 Kata-kata itu didengar oleh beberapa orang Farisi yang berada di situ dan mereka berkata kepada-Nya: "Apakah itu berarti bahwa kami juga buta?"

 

Dan inilah jawaban Yesus kepada mereka, yang juga menjadi jawaban mengapa Bapa menaruh AnakNya sebagai batu sandungan:

Yoh 9:41 Jawab Yesus kepada mereka: "Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu."

 

Bapa tidak bersalah karena menaruh batu sandungan di depan bangsa Israel.

Yesus tidak bersalah karena menjadi batu sandungan bagi orang-orang yang tidak percaya.

Karena orang yang lahir buta telah dicelikkanNya, sementara orang-orang yang buta di hadapan Tuhan menyangkali kebutaan mereka. Mengaku bahwa mereka melihat. Maka tersandunglah mereka akibat kesalahan mereka sendiri.

 

"Tetaplah dosamu"