PUISI bisa menampakkan dua wajahnya. Yang pertama, semata-mata sebagai karya sastra dengan norma bentuk dan isi sebagaimana yang dituntut pada karya sastra yang baik. Kedua, puisi sebagai "skenario" sebuah tontonan, yang memberikan kemungkinan-kemungkinan serta blue print untuk dipanggungkan.
Proses kreatif penciptaan puisi bisa mengalami perubahan, ketika seorang penyair mempertimbangkan puisinya tidak hanya sebagai karya sastra, tetapi membayangkan kemungkinan pementasannya, maka proses kreatif penciptaan puisinya akan mempertimbangkan kehadiran penikmatnya.
PUISI-PUISI
WALAU JARAK TERASA BIMBANG
: UNTUK MER.
Aku suka kamu
Kala denyut berhembus
Untuk menikam pandangmu
Utuslah malam
Kemudian belitkan pada kata
Agar selaksa misteri singgah
Pada pengembara
Yang kehausan di tengah gelombang cinta
Ranting terbang melanglang
Menghujam lembar yang kususun
Kulumat serpihannya
Kutelan bersama
Nilam yang mengupas embun
Gembala yang terbangun
Mengingatkan aku padamu
Bahwa hari perlahan berganti
Mer, dendang bola matamu
Indahnya kian terasa
Kala malam mengguncang rasa
Entah kapan dingin menggigit
Biarkan malam tinggal kerangka
Aku tetap di sini
Karena aku suka kamu.
SS 2009
SEHARI
Embun menunjukkan pagi
Bangun segarkan hari
Matahari sengat siang
Kerjakan tugas dengan senang
Gelap mendekap malam
Renungkan dalam diam
Esok hari
Lebih baik lagi.
SS.120909.

