Submitted by Vantillian on

Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini." ( Ulangan 29:29)

Penyataan Allah secara MUTLAK diperlukan agar manusia dapat mengenal Dia secara benar. Allah telah menyatakan diriNya secara jelas dan nyata kepada manusia sehingga manusia tidak mempunyai dalih untuk menyangkal kebenaran ini. Para ahli teolog, khususnya teolog reformed, membagi wahyu Allah menjadi wahyu umum dan wahyu khusus. Umumnya, orang kristen mengganggap wahyu umum lebih rendah dan tidak menyelamatkan. Sedangkan wahyu khusus adalah penyataan Allah yang dapat menyelamatkan. Wahyu umum lebih natural, wahyu khusus lebih supranatural. Wahyu umum adalah wahyu yang berlaku untuk semua manusia, sedangkan wahyu khusus berlaku untuk orang yang percaya atau yang dipilih. Wahyu umum adalah karya ciptaan Allah dan Taurat nurani. Wahyu khusus adalah sejarah keselamatan bangsa Israel, Alkitab dan Yesus Kristus. Bagaimana pandangan seorang Vantillian terhadap hal ini?

Mazmur

19:2 Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya;
19:3 hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam.

19:4 Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar;

19:5 tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Ia memasang kemah di langit untuk matahari,

19:6 yang keluar bagaikan pengantin laki-laki yang keluar dari kamarnya, girang bagaikan pahlawan yang hendak melakukan perjalanannya.

19:7 Dari ujung langit ia terbit, dan ia beredar sampai ke ujung yang lain; tidak ada yang terlindung dari panas sinarnya.

19:8 Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman.
19:9 Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya.
19:10 Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya,

Kutipan ayat di atas sering dipakai untuk mendukung doktrin wahyu umum dan wahyu khusus. Termasuk di dalamnya wahyu umum adalah segala ciptaan alam dan tuntunan hati nurani. Hukum hati nurani yang merupakan representasi Hukum Taurat yang tertulis merupakan suatu tanda bahwa ADA seorang Pribadi yang telah meletakkannya untuk tujuan tertentu. Bintang di langit dan hukum di dalam hati menandakan adanya PRIBADI transenden yang telah menanamkan suatu pengenalan imanensi terhadapNya. Kita HARUS mengenal Allah. Itulah tuntutan dari wahyu Allah. Tidak ada yang manusia yang bisa berkelit dari tuntutan respon terhadap wahyu Allah. Siapa yang tidak melakukannya, ia sedang menimbun murka Allah. Tetapi sayang, manusia telah memberontak, karena itu tidak bisa berespon terhadap wahyu Allah. Manusia sedang menindas kebenaran yang telah dinyatakan kepadanya.

Roma

1:18 Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman.
1:19 Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka.
1:20 Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.
1:21 Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.


Penyataan Allah menunjukkan STANDAR KEADILAN dan KEBENARAN Allah. Penyataan Allah menyatakan SIAPA diriNya di hadapan ciptaanNya. Allah tidak akan pernah dapat disalahkan oleh ciptaanNya. Penyataan Allah menuntut adanya pengenalan yang benar terhadap Allah sendiri. Itu berarti wahyu Allah juga bersifat memperkenalkan adanya tuntutan penghakiman jika manusia tidak MAU mengenal Allah secara benar. Kitab Roma jelas menuliskan bahwa Allah telah menyatakan dengan nyata kepada setiap manusia sehingga mereka harus mengenalNya. Wahyu ini bersifat deklaratif dan eksekutif. Wahyu Allah bersifat menyatakan yang benar dan menghukum yang tidak benar.

Wahyu umum tidak berbeda derajat dari wahyu khusus, melainkan keduanya SETARA. Keduanya menyatakan tentang Allah yang benar. Keduanya jelas, penting, cukup dan otoritatif.  Pemahaman wahyu khusus diperlukan bukan karena wahyu umum di dalamnya terdapat cacat dan tidak jelas. Melainkan wahyu khusus lebih menekankan karya keselamatan Allah terhadap manusia yang telah jatuh dalam dosa. Karena wahyu Allah menyatakan sifat dan karya Allah, maka keduanya merupakan satu kesatuan. Yang satu tidak dapat dipahami terlepas dari yang lain. Karena itu, pengenalan manusia akan wahyu Allah akan menjadi dasar penghakiman pada akhir zaman. Allah akan menghakimi manusia berdasarkan KEJELASAN wahyuNya kepada manusia, yaitu bagaimana RESPON manusia terhadap kejelasan wahyu tersebut. Allah TIDAK AKAN memberikan alasan bagi manusia untuk berkilah bahwa mereka TIDAK CUKUP mengenal Allah Pencipta. Pendapat bahwa wahyu umum tidak memberikan keterangan yang cukup untuk mengenal Allah sebagai Allah yang benar, adalah pendapat yang mesti dipertanyakan dengan serius. Allah menuntut ciptaanNya sesuai natur wahyuNya. Karena ciptaan Allah adalah refleksi dari natur wahyuNya. Ciptaan dihukum dan diselamatkan melalui respon terhadap KESELURUHAN wahyu Allah. Dan itu hanya bisa direspon melalui karunia iman.

Ibrani  11:6 Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.

Wahyu khusus juga tidak mempunyai derajat yang lebih tinggi dari yang umum. Sifatnya yang khusus hanya menekankan adanya penyataan keselamatan. Lalu dengan demikian, apakah wahyu khusus diberikan setelah manusia jatuh dalam dosa? Mungkin kebanyakan kita berpikir demikian, tetapi saya berpendapat bahwa wahyu keselamatan Allah SUDAH tercakup dalam keseluruhan wahyu . Wahyu keselamatan dinyatakan dalam bentuk kasih dan keadilan Allah bagi seluruh manusia. Ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, seluruh keturunannya berdosa kepada Allah, penyataan Allah TIDAK terhenti kepada sebagian wahyu umum. Tetapi Allah terus menerus menyatakan FirmanNya kepada Kain, Habel, Enos, Henokh, Lamekh, Nuh, dan sampai kepada Abraham. Wahyu keselamatan sudah Allah nyatakan pada waktu menghukum manusia pertama.  Ketika Allah mewujudkan rencana keselamatanNya didalam sejarah bangsa Israel, dan semuanya berpuncak kepada diri Yesus, maka Allah telah menyatakan wahyuNya secara progresif, yaitu dengan cara yang KHUSUS. Wahyu khusus merupakan TINDAKAN KHUSUS Allah dalam menggenapkan rencana keselamatan. Karena itu, wahyu khusus tidak bisa dipisahkan dari wahyu umum. Wahyu khusus harus dimengerti dari wahyu umum. Dan tidak bisa dibedakan secara tajam dari wahyu umum. Keseluruhan wahyu Allah dimulai dari sejarah bumi, manusia sampai akhir sejarah. Dan semuanya SUDAH tercantum lengkap dalam FirmanNya ( Alkitab ). Tidak ada wahyu keselamatan LAIN dalam kitab suci lain seperti Alkitab. Karena wahyu Allah yang dinyatakan dalam Alkitab adalah penguji wahyu Allah bagi segala bangsa.

Dengan ini, maka wahyu umum dan khusus harus dilihat dalam perspektif keseluruhan, karena memang tidak dibedakan dengan tajam. Allah jelas mengharuskan manusia mencari dan mengenalNya. Karena itu, penyataan Allah harus dimengerti secara aktual dinyatakan semuanya kepada manusia. Tidak ada yang bisa mengerti wahyu khusus tanpa latar belakang wahyu umum. Tidak ada yang bisa mengerti wahyu umum tanpa terang wahyu khusus. Pembedaan yang tajam antara dua wahyu ini akan mengakibatkan distorsi mengenai kebenaran tentang Allah itu sendiri. Masalah terbesar bukan pada penyataan Allah, tetapi pada RESPON manusia yang bertentangan dengan kebenaran. Lalu, apakah seseorang yang hanya mengenal wahyu umum bisa diselamatkan? Apakah seseorang harus mengenal wahyu khusus baru bisa diselamatkan? Apakah Henokh, Habel, Nuh, diselamatkan karena mereka mengenal wahyu khusus? Kerancuan ini disebabkan karena adanya pemisahan yang tegas antara dua wahyu, padahal Allah telah menyatakan diriNya secara jelas. Hal itu mencakup konsep wahyu bahwa Allah adalah Pencipta, Pemilik, Hakim sekaligus adalah Allah Penyelamat. Allah bertindak di dalam kesinambungan sejarah. Allah tidak pernah berhenti menopang sejarah keselamatan sebagai bentuk  wahyuNya kepada manusia. Karena itu, manusia harus berespon terhadapNya.

RESPON MANUSIA terhadap WAHYU

Umumnya kita membagi bahwa respon manusia terhadap wahyu umum telah menghasilkan kebudayaan dan agama. Budaya adalah respon eksternal manusia terhadap wahyu umum. Agama adalah respon internal manusia. Agama merupakan bentuk religi dimana kita menyadari bahwa ada sesuatu/seseorang yang melebihi dunia alam ini. Kadang disebut YANG KUDUS. Manusia mempunyai rasa takut dan kagum terhadap YANG KUDUS. Manusia membentuk segala macam ibadah yang berkenan kepadaNya. Manusia membuat replika yang sesuai dengan YANG KUDUS. Sayang, manusia tidak bisa mengenal secara benar. Manusia menindas pengetahuan terhadap keseluruhan wahyu Allah.
 

Kisah Para Rasul

17:22 Paulus pergi berdiri di atas Areopagus dan berkata: "Hai orang-orang Atena, aku lihat, bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa.
17:23 Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu.
17:24 Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia,
17:25 dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.
17:26 Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka,
17:27 supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing.
17:28 Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga.
17:29 Karena kita berasal dari keturunan Allah, kita tidak boleh berpikir, bahwa keadaan ilahi sama seperti emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian manusia.
17:30 Dengan tidak memandang lagi zaman kebodohan, maka sekarang Allah memberitakan kepada manusia, bahwa di mana-mana semua mereka harus bertobat.
17:31 Karena Ia telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati."


Khotbah Paulus merangkumkan keseluruhan wahyu Allah yang menuntut respon manusia kepadaNya. Allah tidak memberikan hak khusus supaya wahyuNya bisa diterima. Allah tidak memandang bulu. Teriakan wahyu keselamatan telah bergema dari sejak awal Allah menciptakan manusia. Manusia harus bertobat untuk dapat mengenal wahyuNya dengan benar kembali. Allah menanamkan di dalam hati manusia suatu keinginan untuk mencari yang ilahi. Pencarian akan Allah yang benar merupakan dasar bagi wahyu keselamatan Allah. Penyataan Allah menuntut manusia untuk mencari dan mengenalNya. Tetapi respon manusia adalah menindas pengetahuan itu. Karena itu, Allah bertindak SECARA KHUSUS dalam memilih manusia untuk diselamatkan. Mereka yang terpilih, adalah mereka yang mendapat anugerah khusus (keselamatan). Orang yang terpilih adalah orang yang percaya yang telah mendapat terang khusus anugerah. Tanpa anugerah keselamatan, maka wahyu umum dan wahyu khusus HANYA akan menjadi HAKIM bagi manusia.

Yohanes 12:48 Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataan-Ku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman.

Anugerah keselamatan harus dibedakan dengan anugerah umum yang diterima oleh setiap manusia. Anugerah ini dinikmati oleh seluruh bangsa. Anugerah ini juga tersedia dalam kelangsungan hidup segala makhluk hidup. Ketika seorang yang jahat terus dapat makan meskipun berbuat kejahatan terus. Ketika orang berdosa berzinah terus tetapi tetap dapat melangsungkan hidupnya. Anugerah umum tidak bersifat menyelamatkan.

Matius 5:45 Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.

Anugerah umum inilah yang dibedakan dengan anugerah keselamatan. Anugerah keselamatan disediakan bagi orang terpilih mulai dari zaman PL sampai PB. Mulai dari sejarah manusia berawal sampai sejarah manusia diakhiri. Anugerah umum menyediakan jalan bagi anugerah khusus. Anugerah umum mewartakan bahwa Allah adalah Pemelihara dan Penyelamat bangsa. Anugerah khusus adalah tindakan Allah untuk membuktikannya. Menurut Cornelius Van Til, anugerah umum bersyarat dan akan berkurang sedikit demi sedikit sampai pada kesudahannya. Pada hari penghakiman, anugerah Allah tidak akan dinyatakan lagi. Yang ada hanya murka Allah.

Pembedaan antara anugerah dan wahyu ini penting untuk melihat bagaimana karya Tuhan dalam menyelamatkan umatNya. Meskipun respon manusia terhadap wahyu khusus begitu luar biasa, misalnya sangat kagum dan gentar, TANPA anugerah keselamatan, semua penyataan itu akan menjadi HAKIM baginya. Anugerah khusus yang diterima oleh orang Kristen menyadarkan mereka bahwa hidup mereka harus dikembalikan kepada wahyu dari Allah. Hidup mereka adalah gambaran natur wahyu Allah. Hidup orang percaya adalah hidup sesuai gambar Khaliknya. Orang percaya seharusnya telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya; ( Kolose 3:10)
Dan itu berarti hidup sesuai dengan keseluruhan wahyuNya dalam sejarah manusia.