Submitted by Purnomo on
“Sebuah misi kemanusiaan yang luhur sudah kita selesaikan. Sebuah misi dengan proses panjang dan melelahkan, dan dengan biaya tinggi. Apa yang kita peroleh saat ini? Kepuasan? Atau kelelahan? Atau hanya baju lusuh dan bau yang saat ini kita kenakan, yang tentunya kurang pantas dikenakan untuk menghadiri sebuah pesta pernikahan?”

 

 – o –

Suasana rapat pertama majelis gereja di awal tahun 2005 di sebuah gereja memanas ketika laporan kerja Panitia Advent & Natal 2004 dibacakan. Pasalnya, anggaran yang sudah dipatok 35 juta rupiah dalam pelaksanaannya membengkak menjadi hampir 50 juta rupiah tanpa sepengetahuan apalagi ijin tertulis majelis gereja. Biaya menggelembung karena panitia menyewa musisi, penyanyi, penari, kelompok teater, sound system canggih dan lighting dari luar gereja. Untuk memotivasi para aktivis berkomitmen dengan kegiatan ini, panitia membelikan pakaian seragam baru kepada 40 orang anggota koor dan lima organis, dan memesan makanan dari resto setiap mereka berlatih. Setiap anggota panitia juga diberi bingkisan Natal agar kelak gereja tak sulit mendapatkan orang yang mau terlibat dalam kepanitiaan. Dengan demikian acara Advent & Natal menjadi menarik sehingga jemaat tidak pergi ke gereja lain pada bulan Desember itu.

 

“Tetapi ini berarti kita harus memotong anggaran belanja tahun 2005. Para aktivis bisa menggelar lagi aksi demo karena mereka tidak bisa mengadakan acara ritrit ke luar kota. Jemaat juga akan bertanya sebabnya bila kita tidak bisa lagi mendatangkan pendeta terkenal dari ibukota,” kata bendahara gereja yang sangat berkeberatan bila harus merevisi rencana anggarannya. “Apakah saudara ketua panitia pernah berpikir kemungkinan tambahan biaya ini tidak dapat dilunasi oleh majelis?”

 

“O tentu. Kami semua bekerja secara profesional. Kemungkinan itu sudah kami perhitungkan. Para kreditor rela merubah status pinjaman menjadi sumbangan bila majelis tidak mampu melunasi hutang itu. Mereka mengerti bahwa ministry that costs nothing, accomplishes nothing, seperti yang pernah Bapak Pendeta kotbahkan,” jawab ketua panitia.

 

Bapak pendeta yang sedari tadi diam, mengangkat tangannya minta ijin berbicara. “Kita patut mensyukuri memiliki jemaat yang berdedikasi tinggi, sehingga kita tidak perlu lagi berpanjang lebar membahas jalan keluar masalah overbudget ini. Saya hanya ingin mengetahui mengapa rencana 10 juta rupiah untuk mengontrakkan rumah singgah bagi anak jalanan, dalam pelaksanaannya susut menjadi 4 juta rupiah?”

 

“Kabarnya, mengadakan rumah singgah memerlukan perijinan dari berbagai departemen pemerintah. Ini sangat merepotkan dan makan waktu. Lagi pula kita tidak boleh melakukan penginjilan dalam rumah singgah. Karena itu kami mencari pemecahannya yang jauh lebih efisien dan efektip, yaitu membagi 600 nasi bungkus senilai 3 juta rupiah di jalan-jalan protokol kota ini yang di dalamnya kami selipkan secarik kertas berisi kutipan ayat-ayat Alkitab. Satu juta rupiah lainnya dipergunakan untuk konsumsi petugas pelaksana, membelikan bensin mobil-mobil mereka yang kami pinjam, menyewa komputer dan printer berwarna.”

 

 “Astaga,” bapak pendeta berseru. “Saudara-saudara patut ingat bahwa tidak semua bentuk penginjilan harus disertai kotbah. Sampai hari ini penginjilan dalam bentuk diakonia murni masih dilakukan melalui poliklinik dan rumah sakit Kristen yang terbuka bagi umum. Jika saudara-saudara tetap tidak setuju adanya kegiatan diakonia murni, sebaiknya ‘aksi kemanusiaan untuk korban tsunami Aceh’ dihapus dari agenda rapat malam ini.”

“Pak pendeta,” kata seorang majelis, “saya setuju untuk tidak membahasnya tetapi dengan alasan yang lain. Kabar yang saya dengar, mereka tidak mau menerima bantuan yang berasal dari orang Kristen. Jika dalam memberi kita harus melakukannya tanpa paksaan, bukankah di pihak lain orang yang menerima juga harus menerimanya tanpa paksaan?”

 

Bapak pendeta diam-diam mengurut dadanya. “Kabarnya, kabarnya. Kabar dari mana? Dua hari yang lalu saya melihat acara Solusi di SCTV. Setelah tayangan kesaksian pertama, mereka menayangkan kegiatan tim medis OBI yang membuka posko kesehatan dan membagikan makanan di daerah bencana. Setiap pemirsa pasti tahu acara Solusi adalah milik orang Kristen karena selalu berterang-terang menyebut nama Tuhan Yesus. Apakah ini rekaman sandiwara? Saya membuka www.acehkita.com yang selalu membela kepentingan rakyat Aceh untuk menguji kebenaran tayangan ini. Di bawah reportase berjudul “60% warga Kecamatan Panga tewas atau hilang” tertanggal 8 Januari, ditulis kegiatan 4 dokter Yayasan Obor Berkat Indonesia cabang Medan yang mempergunakan helikopter kecil.”

 

“Tetapi apakah kita yakin sumbangan ini bisa sampai kepada yang berkepentingan?”

“Seorang dari kita bisa membawanya langsung ke sana,” jawab pak pendeta.

“Apakah bapak yakin Tuhan ingin kita membantu mereka dalam bentuk diakonia murni?”

“Dalam perumpamaan orang Samaria yang baik hati, yang ditolong dan yang ditolong tidak sama tempat ibadahnya. Bahkan si penolong tidak titip pesan kepada yang ditolongnya, nanti kalau sudah sembuh pergi sembahyang di baitku di Samaria ya.”

“Apakah Tuhan mau memberi tanda yang jelas bahwa kita harus melakukan aksi ini?” tanya seorang majelis yang sedang belajar di pendidikan teologia ektensien.

 

Bapak pendeta terkuras habis kesabarannya. “Saudara-saudara majelis gereja yang terhormat. Minggu depan saya akan berkotbah dengan tema Tsunami Kasih sebagai awal gerakan penggalangan dana kemanusiaan. Bila dalam waktu 2 minggu terkumpul dana 50 juta rupiah, itulah tanda dari Tuhan. Bila kurang, berarti Tuhan tidak setuju. Dana yang terlanjur terkumpul bisa untuk membayar hutang panitia Advent & Natal, dan selebihnya diberikan kepada panti asuhan Kristen yang menampung anak yatim piatu korban tsunami. Saya mendapat kabar dari sebuah panti asuhan Kristen bahwa seorang pengusaha jamu sedang mendata kapasitas tampung maksimum panti-panti di kota ini. Bagaimana?”

Rapat akhirnya setuju menerima tantangan ini dan seorang majelis gereja yang pengusaha besar dan mempunyai saudara di Medan diangkat menjadi ketua panitia.

 

Hari Minggu bapak pendeta berkotbah tentang iman yang tanpa karya nyata adalah omong kosong. Rekaman musibah tsunami yang diedit dari berbagai televisi nasional dan luar negeri yang ditayangkan melalui peralatan multi media membuat banyak jemaat menangis. Dua kantong kolekte diedarkan. Yang pertama untuk gereja, dan yang kedua untuk aksi kemanusiaan ini. Sewaktu isi kantong kolekte dihitung di konsistori, giliran bendahara gereja yang menangis. Kantong pertama nyaris kosong, sedangkan kantong kedua nyaris robek karena padat berisi. Komisi-komisi yang ada juga tak ketinggalan dalam aksi Tsunami Kasih ini. Komisi Pemuda mengalihkan dana pembelian gitar listriknya ke aksi ini. Mereka menggelar Kantin Tsunami Kasih pada hari Minggu. Sederet menu makanan ditulis di white board di dinding kantin. Kolom harga terbagi dua, “harga normal” dan “harga tsunami kasih” yang 3 kali lipat harga normal. Jemaat dipersilakan memilih sendiri harga beli yang diingini. Mereka juga menerima pesanan makanan untuk diantar ke rumah jemaat. Komisi Sekolah Minggu mengkotbahkan janji iman kepada anak-anak. Anak-anak diminta berjanji selama 2 minggu mengalihkan uang jajannya ke aksi ini. Majelis gereja mengunjungi jemaatnya, sebuah kegiatan yang telah lama terlupakan, untuk memresentasikan kegiatan ini secara pribadi.

 

Pada akhir batas waktu kegiatan ini, ketika bendahara panitia membacakan hasil yang terkumpul, tanpa malu bapak pendeta menghapus air matanya di depan sidang majelis gereja. Hatinya terperas haru. Ia tidak menyangka sama sekali betapa jemaatnya yang baru saja mempersembahkan uang yang tidak sedikit untuk Advent & Natal, masih mau memberi lagi. Bahkan jauh lebih banyak. Seratus  empat juta rupiah terkumpul dalam waktu 2 minggu!

 

Maka, pada hari Sabtu berangkatlah beliau bersama majelis, ketua panitia dan aktivis gereja menuju Medan dengan pesawat terbang. Mereka terpaksa menginap di Medan karena pesawat ke Aceh fully booked. Hari Minggu mereka kebaktian di sebuah gereja besar di tengah kota. Setelah kotbah, adik ketua panitia yang berjemaat di situ, meminta bapak pendeta maju ke depan untuk menceritakan aksi Tsunami Kasih kepada jemaat. Kesaksiannya diterjemahkan dalam bahasa Hokian karena tidak semua jemaat mengerti bahasa Indonesia yang baku. Sering beliau harus berhenti sejenak karena jemaat bertepuk tangan dan berteriak Haleluya. Beliau melihat tidak sedikit jemaat yang mengusapkan tisiu ke matanya. Selesai kebaktian, mereka tidak bisa segera meninggalkan gedung gereja karena ada beberapa jemaat yang mendesak bertemu secara pribadi.

 

Beberapa pengusaha memutuskan untuk mengirim anaknya selepas SMA untuk kuliah di kota asal rombongan ini agar anak mereka bisa berjemaat di gereja itu. Sebuah gereja yang berhasil mendidik jemaatnya berani berkorban dalam memraktekkan imannya.

 

Seorang encim bercerita ketika peristiwa Gestapu ia sekeluarga mengungsi ke Medan tanpa sempat membawa harta bendanya. Di Medan semua pengungsi Tionghwa ditampung di pinggir kota yang kemudian disebut Kampung Cina. Rumah gubuk beratap rumbia, sanitasi yang jelek, udara pengap dan selokan bau. Beberapa tetangganya bunuh diri karena tak tahan menderita. Untuk hidup apa pun mereka kerjakan. Beberapa wanita setiap malam pergi ke Belawan bekerja di resto-resto 3R, restoran-remang-remang. Ada juga tetangganya yang setiap sore bersepeda memboncengkan anak gadisnya yang baru SMA ke hotel Granada di seberang alun-alun dan pulang menjelang pagi. Ia tidak ingin penderitaan yang pernah dialami ini terulang kembali kepada orang lain. Walaupun gerejanya sudah mengirimkan sumbangan ke sana, ia akan mendesak majelisnya untuk membangun rumah singgah yang layak bagi korban tsunami. Sebagai rasa terima kasih kepada para aktivis Tsunami Kasih yang telah memberinya inspirasi, ia kemudian mengajak rombongan ini pergi rekreasi berkeliling Danau Toba dan mengunjungi peternakan buaya. Bapak pendeta setuju karena hari itu pesawat ke Banda Aceh masih penuh. Diputuskan hari Senin rombongan akan menyewa taksi untuk menyerahkan bantuan di Lhokseumawe.

 

Esok harinya mereka berangkat lewat jalan darat menuju utara. Lepas dari kota Langsa, perjalanan mulai tersendat karena banyak pengungsi di jalan menghadang sumbangan. Karena itu sesampainya di Peureulak mereka memutuskan untuk memberikan sumbangan di desa itu. Dengan bantuan penduduk setempat mereka berhasil mengumpulkan 4 orang keuchik (kepala desa) di sebuah kantor kelurahan. Upacara dilakukan dan beberapa aktivis gereja sibuk dengan handycam dan digital camera-nya. Bapak pendeta menyerahkan sekarung beras 25 kg kepada masing-masing keuchik. Ketika seorang keuchik meminta kartu nama ketua panitia, ia menolak. “Kami memberi dengan tulus, tanpa pamrih. Jangan berterima kasih kepada kami, berterima kasihlah kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang yang telah menggerakkan kami kemari.”

 

Dalam perjalanan pulang ke Medan, di dalam taksi bapak pendeta teringat sesuatu. Ia bertanya kepada ketua panitia yang duduk di sampingnya. “Saya tidak melihat truk pengangkut beras ketika saya menyerahkan sumbangan simbolis kepada para kepala desa.”

“Pak, itu bukan sumbangan simbolis. Itu sumbangan sesungguhnya.”

“Seratus kilo beras itu harganya seratus empat juta rupiah?”

“Biaya perjalanan kita tinggi sekali, Pak. Apakah Bapak tidak menghitung jumlah rombongan kita yang terdiri dari semua anggota panitia, majelis dan aktivis gereja? Tiga puluh sembilan orang. Biaya pesawat ke Jakarta kemudian ke Medan, pergi-pulang. Biaya menginap dan makan di hotel berbintang yang molor jadi 3 malam. Biaya sewa 10 taksi ini. Yang di luar perhitungan panitia, semuanya memakai tarip peak time. Uang untuk pembeli beras terpaksa dipakai, Pak. Seratus kilo beras itu pun kami dapatkan dari patungan.”

 “Astaga, semoga Tuhan mengampuni saya,” kata pak pendeta lirih sambil menepuk-nepuk keningnya. “Saya mengira mereka ikut dengan biaya sendiri.”

“Ini untuk memotivasi mereka agar bekerja keras dalam aksi Tsunami Kasih, Pak.”

 

Menjelang tengah malam mereka tiba di hotel. Di resto hotel sebelum memanjatkan doa makan malam, bapak pendeta terbata-bata membawakan renungan singkat. “Sebuah misi kemanusiaan yang luhur sudah kita selesaikan. Sebuah misi dengan proses panjang dan melelahkan, dan dengan biaya tinggi. Apa yang kita peroleh saat ini? Kepuasan? Atau kelelahan? Atau hanya baju lusuh dan bau yang saat ini kita kenakan, yang tentunya kurang pantas dikenakan untuk menghadiri sebuah pesta pernikahan?”

 

Baru beberapa menit beliau masuk ke kamar tidur, pintu diketuk dari luar. Seorang majelis gereja memberikan sebuah bungkusan. “Untuk Bapak, dari seorang majelis yang minta dirahasiakan namanya.” Pintu ditutup kembali dan bungkusan dibuka. Sehelai baju tenun dengan motif Batak yang indah. “Haleluya, segala puji bagi Allah,” serunya.

 

Mendadak pikirannya yang kritis bekerja. Mengapa bingkisan ini diserahkan tengah malam? Bukankah bisa menunggu besok pagi? Dan, ia lemas jatuh berlutut. “Ya, Tuhan Yesus, kasihanilah saya.”

 

Ternyata ketika membawakan renungan singkat tadi ia lupa membuka Alkitab untuk membaca Matius 22:11 sehingga majelisnya menyangka ia butuh baju baru. Menjelang terlelap tidur ia telah memutuskan mengkotbahkan ayat itu pada kebaktian Minggu dengan judul ministry that costs too much, tends to accomplish nothing dengan risiko diminta mengundurkan diri dari gereja itu. Tetapi ia sudah tak peduli lagi. Ia sudah lelah bekerja di gereja yang gemar menyenangkan dirinya sendiri ini.

 

 

(selesai sudah sebuah dongeng menjelang tidur sebagai kado ultah anakpatirsa 4-Des)