Submitted by anakpatirsa on

Waktu kecil kakek sering mengajakku mengikuti kebaktian keluarga. Sebuah acara persekutuan yang diadakan bergiliran dari rumah ke rumah. Biasanya kebaktian diakhiri dengan acara makan-makan. Aku menyukai bagian ini, walaupun yang tersedia cuma kue-kue murah.

Sambil makan, biasanya ada acara tukar cerita. Tidak ada televisi, sehingga pembicaraan hanya berkisar tentang kehidupan sehari-hari. Cerita yang cukup membosankan, tetapi tidak masalah karena aku tidak peduli dengan apa yang mereka bicarakan, biasanya aku terlalu sibuk dengan piring kue di depanku.

Dalam salah satu kebaktian, seorang pemilik kapal bernama Pak Dodol bercerita. Entah mengapa aku memperhatikan ceritanya, sebuah cerita yang tidak bisa kulupakan - cerita kematian.

Aku tidak ingat bagaimana ceritanya dimulai. Pak Dodol bercerita, beberapa hari lalu ia diminta mengantar jenazah seorang anak SMP. Orangtua si anak mendesak anaknya langsung dibawa pulang ke kampung. Padalah beberapa orang memaksa untuk membawa jenazah anaknya ke kota. Katanya akan diperiksa di rumah sakit.

Si ayah tidak mengerti kenapa anaknya sudah meninggal harus dibawa ke rumah sakit. Ayah ini berkata, "Rumah sakit di kota tidak akan bisa menghidupkan orang yang sudah mati, jadi untuk apa?"

Akhirnya ada kesepakatan, Pak Dodol akan membawa jenazah anak ini ke kampung orang tuanya. Dan beberapa orang ikut naik kapal. Kapal kecil ini meninggalkan kampung sekitar jam sepuluh pagi. sebuah kampung berjarak lima kampung dari kampung kami.

Setelah melewati satu kampung, seorang pria yang agak gemuk meminta ayah si anak mendengarkan ceritanya. Pak Dodol baru tahu setelah itu, kalau pria ini kepala Depdikbud kecamatan kami. Pria ini meminta si ayah mendengarkan ceritanya dengan sabar.

Ia bercerita, seorang guru meninggalkan kelas untuk buang air kecil. Anak si ayah ini langsung maju ke depan, begitu gurunya tidak kelihatan. Ugas, nama anak ini meniru gaya guru yang barusan mengajar mereka. Anak yang lain hanya tertawa. Tiba-tiba kelas menjadi diam, si guru sudah di depan pintu dan mendekati Ugas diam-diam. Lalu telapak tangannya melayang ke telinga kanan Ugas. Malamnya Ugas mengeluh sakit, dan subuhnya meninggal dunia. Telinganya mengeluarkan darah.

Si ayah baru datang esok paginya, setelah mendapat kabar anaknya meninggal karena sakit. Di daerah kami, terlalu sering terjadi kematian mendadak. Bahkan karena kedinginan seseorang bisa mati. Mungkin itulah sebabnya orangtua Ugas tidak merasa curiga. Si ayah hanya ingin anaknya segera dibawa pulang ke kampungnya.

"Ayo kembali sekarang!" si ayah memaksa, sambil mengambil parang dari tasnya. Di daerah ini, membawa parang merupakan sebuah keharusan. Bukan untuk membunuh manusia. Di jalan banyak ular, atau binatang buas lain.

Si ayah tidak bisa memaksa kapal untuk kembali ke kampung tempat anaknya sekolah. Semua ini telah direncanakan. Beberapa orang sudah mengatur semuanya, karena mereka tahu, sulit sekali meredakan kemarahan seorang ayah yang mengetahui anaknya meninggal karena dipikul. Apalagi kemarahan seseorang yang harus membawa parang setiap kali melakukan perjalanan jauh.

"Kita akan singgah sebentar di kampung bapak," kata seorang pria yang bertubuh sedikit tegap, ternyata ia seorang polisi. "Nanti siang kita akan melanjutkan perjalanan ke kota."

Bertahun-tahun kemudian aku kembali teringat cerita ini. Waktu itu, di perpustakaan daerah, aku membaca guntingan koran tentang sejarah pendidikan nasional. Aku membaca sebuah berita yang dianggap telah menjadi noda pendidikan. Ternyata kejadian di kampung kecil itu telah menjadi noda bagi para pendidik.

Beberapa hari lalu, aku kembali teringat kisah ini. Setelah membaca sebuah buku yang berjudul "Totto-chan, Gadis Kecil di Jendela."

***

Seorang anak dikeluarkan dari sekolah karena suka bermain dengan laci mejanya. Bahkan kadang-kadang si anak memasukkan kepalanya ke dalam laci. Kadang-kadang berdiri di depan jendela tanpa mempedulikan gurunya, hanya untuk melihat pemandangan di luar kelas. Gurunya juga pernah melihat anak ini berdiri di depan jendela dan berbicara sendiri. Guru yang penasaran kaget karena ternyata si anak berbicara dengan sepasang walet. Dalam pelajaran menggambar, si anak mengotori mejanya waktu menggambar bendera Jepang. Kertas gambar tidak muat menampung rumbai-rumbai bendera, sehingga garis-garisnya berlanjut sampai ke ujung meja.

Anak ini bernama Totto-chan, seorang gadis kecil yang duduk di kelas satu sekolah dasar. Akhirnya orang tuanya menemukan sekolah lain, sekolah dengan kepala sekolah yang mau mendengarkan anak mereka selama 4 jam. Sekolah dengan kepala sekolahnya yang menyuruh anak mereka bercerita tentang diri sendiri selama berjam-jam.

Bagi Totto-chan, kepala sekolah ini benar-benar orang yang luar biasa. Totto-chan tidak tahu kalau ia dikeluarkan dari sekolahnya karena guru sudah kehabisan akal menghadapinya. Wataknya yang periang dan terkadang suka melamun membuatnya berpenampilan polos. Tetapi jauh di dalam hatinya, ia merasa dirinya dianggap aneh dan berbeda dari anak-anak lain. Walau bagaimanapun juga kepala sekolah ini membuatnya merasa aman, hangat dan senang. Totto-chan ingin bersama-sama kepala sekolah ini selama-lamanya.

Jadi bisa dibayangkan betapa senang hati gadis cilik ini ketika kepada sekolah berkata, "Sekarang kamu murid sekolah ini." Sebuah keputusan yang diambilnya setelah mendengarkan Totto-chan selama 4 jam itu.

Totto-chan benar-benar senang bersekolah di Tomoe Gakuen karena anak-anak boleh melemparkan tasnya ke rak seperti seorang pemain basket melemparkan bola ke keranjang. Anak-anak juga boleh duduk sesukanya, dimana saja dan kapan saja. Bahkan setiap anak boleh memilih pelajaran apa yang paling disukai. Anak yang suka menulis boleh langsung menulis, yang suka fisika, boleh langsung melakukan percobaan di kelas. Sehingga tidak heran sering terdengar letupan-letupan kecil dari sekolah yang kelas-kelasnya berupa gerbong kereta.

Kepala sekolah ini menurut Totto-chan seorang kepala sekolah yang baik. Seorang kepala sekolah yang hanya berkata "Kau akan mengembalikan semuanya kalau sudah selesai, kan?" ketika melihat Totto-chan mengaduk-aduk kotoran di kakus sekolah. Totto-chan melakukannya karena mencari dompetnya yang terjatuh di bak penampung kotoran. Kepala sekolah tidak melarangnya karena percaya Totto-chan akan mengembalikan kembali semua kotoran yang menumpuk di sekitar bak penampung.

***

Sampai akhir cerita, aku melihat Totto-chan sebagai tokoh utama, dan melihat penulis sedang menceritakan mimpinya tentang sebuah sekolah yang ideal. Sekolah yang boleh memberi kebebasan sepenuhnya kepada murid, sekolah yang berharap orang dewasa bisa menerima kenakalan seorang anak kecil.

Tetapi di bab terakhir, aku melihat hal lain, ternyata buku ini bercerita tentang seorang pria bernama Sosaku Kobayashi, seorang yang mencintai anak-anak, seorang yang mengetahui bagaimana cara mendidik anak.

Sosaku Kobayashi merupakan seorang kepala sekolah yang berkata, "Kau anak yang benar-benar baik, kau tahu itu kan?", karena ia tahu perkataan seseorang membentuk karakter seorang anak.

Menurutku, buku ini bukan sebuah buka sempurna untuk menggambarkan sistem pendidikan yang ideal. Tetapi aku setuju bukan tanpa alasan jika akhirnya buku ini menjadi buku wajib dalam kementerian pendidikan Jepang.

Aku membayangkan apa yang terjadi seandainya sekolah seperti ini kita terapkan. Aku bertanya apa yang terjadi jika ada sekolah dengan anak-anak boleh memilih pelajaran sesukanya, anak-anak boleh melakukan percobaan semaunya, anak-anak boleh melempar tasnya dari jarak lima meter? Aku tidak tahu jawabannya, tetapi aku tidak akan membiarkan salah satu anggota keluargaku bersekolah di situ.

Tetapi, alangkah menyenangkan punya kepala sekolah yang mau mengerti seorang anak. Punya guru yang tidak langsung memberi cap 'anak nakal'. Ya, betapa menyenangkannya jika punya guru yang tahu bagaimana mendidik dan memahami seorang anak.

Seorang teman bercerita tentang sebuah sekolah di Jogja, sebuah sekolah yang memberi kebebasan kepada anak untuk memilih pelajaran yang disukainya. Ternyata begitu lulus si anak seperti "menabrak tembok".

Aku juga pernah melihat sebuah keluarga dengan orang tua mendidik anaknya seperti Sosaku Kobayashi mendidik Totto-chan. Sekarang anak-anak mereka sudah dewasa, tidak satupun dari antara anak-anak mereka dianggap sebagai orang berhasil. Tetapi kami semua mengakui semua anak-anaknya menjadi orang-orang yang penuh pengabdian.