Puasa lagi puasa lagi ...Duh... Buat sebagian penduduk dunia, bulan ramadhan adalah bulan penuh ampunan, bulan penuh rahmat, bulan untuk mengumpulkan pahala, bulan dimana saatnya keagamaan ditingkatkan. Bagi sebagian orang lagi, bulan ini adalah bulan musibah. Ups, jangan meradang atau mengenyitkan dahi terlebih dahulu ya. Ini hanya sekadar uneg-uneg yang sudah menggelembung. Sekadar ingin mengungkapkan sesuatu yang sudah terpendam, yang selama ini terkungkung dalam rongga otak dan sekat kamar tidur. Tidak untuk menyerang, hanya sekadar curhat. Bulan ramadhan bulan dimana toleransi harus lebih dijalankan buat yang tidak berpuasa. Hormati yang lagi beribadah puasa, hargai bulan suci ini. Sekarang timbul pertanyaan, apakah yang dihormati hanya yang berpuasa? Atau coba berpikir sebaliknya, apakah yang berpuasa juga sudah menghormati dan menghargai yang tidak berpuasa?
Toleransi, kata itu yang aku pikirkan di awal bulan puasa ini. Apa sih arti kata toleransi? Sikap memaksa orang lain untuk membiarkan apa yang kita lakukan? Sikap memaksa orang lain untuk mengikuti kemauan kita?
Toleransi adalah istilah dalam konteks sosial, budaya dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat. Contohnya adalah toleransi beragama, dimana penganut mayoritas dalam suatu masyarakat mengizinkan keberadaan agama-agama lainnya.[1] Istilah toleransi juga digunakan dengan menggunakan definisi "kelompok" yang lebih luas, misalnya partai politik, orientasi seksual, dan lain-lain. Hingga saat ini masih banyak kontroversi dan kritik mengenai prinsip-prinsip toleransi, baik dari kaum liberal maupun konservatif. (http://id.wikipedia.org/wiki/Toleransi).
Dari Situs KBBI aku dapatkan ini
#toleransi
to·le·ran·si n 1 sifat atau sikap toleran: dua kelompok yg berbeda kebudayaan itu saling berhubungan dng penuh --; 2 batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yg masih diperbolehkan; 3 penyimpangan yg masih dapat diterima dl pengukuran kerja;
ber·to·le·ran·si v bersikap toleran: sifat fanatik dan tidak ~ menjadi penghambat perundingan ini;
me·no·le·ran·si v mendiamkan; membiarkan: Pemerintah tidak akan ~ aparat yg menggunakan dana pembangunan dng dalih berbelit-belit
#toleran
to·le·ran a bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dsb) yg berbeda atau bertentangan dng pendirian sendiri
(http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php)
Yah monggo ditafsirkan dan dipahami sendiri, itu hanya dari arti katanya sih.
Btw, awal bulan puasa ini lewat televisi aku sudah disuguhkan berita dari Padang tentang penutupan paksa warung-warung makanan yang buka pada siang hari. Dengan dalih menghormati bulan puasa, warung-warung makanan wajib tutup dan diharap buka pada sore hari, atau kasarannya, buka aja nanti setelah yang lagi puasa berbuka. Mmm .. Apa mungkin yang berpuasa berpikir biar puasanya gak terganggu, lebih khusuk, meminimalisir godaan yang datang? Heran juga, perintah tutup warung di siang hari pada bulan ramadhan apa iya sudah menjadi bagian dari perda? Weleh weleh, itu perda kok memaksa banget sih, ekslusif lagi. Bagaimana dengan yang tidak puasa donk? Padahal penjual juga butuh berdagang untuk melanjutkan hidup atau sekadar menambah penghasilan. Yang gak puasa juga butuh tempat untuk beli makanan yang lebih murah.
Sekarang berita dari Jakarta, ada ultimatum dari pemda bagi tempat hiburan malam yang nekad buka selama bulan ramadhan, yaitu penutupan paksa. Bagi yang kena kasus sama beberapa kali, penyegelan atau bahkan ijin tempat usaha bakalan dicabut. Langkah pemda ini jelas bakal membuat manajer klub malam harus berpusing-pusing ria setiap tahunnya untuk mengatur keuangan dan budget mereka. Usaha harus berhenti sementara waktu. Puluhan bahkan ratusan orang karyawan kini harus memilih menganggur ataupun mencoba mengais rezeki dengan kerja alternatif, pokok asap bisa tetap membuat asap dapur mereka mengepul. Sebagian penikmat dunia gemerlap atau yang suka kluyuran malam-malam pun harus menahan diri sebulan lamanya. Jika gak tahan, yah, cari tempat pelarian lah.
Ngomong-ngomong, melalui bulan puasa ini juga semakin nyata buatku, agama mana yang sebenarnya "berisik". Di luar ramadhan, seperti biasa, 5 kali sehari corong pengeras suara itu berteriak mengingatkan umatnya untuk berdoa. Itu pun belum cukup. Jika penghuni tempat ibadah adalah orang yang cukup fanatik, pengajian atau sekadar membaca ayat-ayat kitabnya pun diperdengarkan sepanjang hari. Ada yang teriak-teriak, ada juga yang kalem. Ditambah lagi saat kaset ceramah ataupun lagu-lagu bernuansa arab melengkapinya. Entah dengan tujuan pamer keagamaan, dakwah atau sekadar aji mumpung, lha wong pemerintah mengijinkan kebebasan beragamanya dengan pengeras suara kok. Boro-boro bikin tobat (atau sesat) orang, justru ini bikin kesel dan mangkel karena mengganggu ketenangan masyarakat, polusi suara, BERISIK!!.
Apalagi saat ramadhan kali ini, pagi-pagi buta bisa terbangun gara-gara mendengar orang teriak-teriak dengan pengeras suara yang sebenarnya bertujuan untuk membangunkan yang ingin makan sahur. SAHUR!! SAHUR !! Sekarang ini ditambah tiap jam 7 sampai jam 10 malam, tuh corong gak berhenti juga. Kalo berdoa bisa gak pake pengeras suara, kenapa juga sih memaksa untuk pakai? Apakah pamer ketakwaan atau memang orang lain perlu dengar dan orang lain perlu tahu kalau itu di masjid lagi berdoa? Argghh ... BERISIK !!
Kembali ke masalah toleransi. Saya kira batas dan nilai toleran harus diperjelas. Toleransi harus benar-benar dalam artian toleransi, tidak ada paksaan dan kerugian (bisa gak ya? mengingat kepentingan dan kebutuhan orang bisa berbenturan). Tidak hanya yang berpuasa yang harus dihormati dan dihargai, yang tidak berpuasa pun berhak juga dihargai dan dihormati dengan cara diberi kebebasan yang setara. Kalo beribadah puasa, ya beribadahlah, tidak perlu membatasi kebebasan orang lain hanya demi ibadah Anda. Ibadah juga hendaknya tidak hanya mementingkan kepentingan pribadi (ibadah) tetapi juga memperhatikan kepentingan orang lain, kepentingan lingkungan sekitar, yang artinya tahu dirilah, kita tidak hidup sendiri di dunia ini, tidak hidup di dunia yang homogen.