Submitted by desfortin on

Suatu ketika ada yang bertanya kepada saya, “Mengapa di Perjanjian Lama Allah kelihatannya begitu keras, sedangkan di Perjanjian Baru Allah begitu kasih?” Saya bertanya balik kepadanya, “Apakah kamu yakin dengan kebenaran atau kesalahan dari pertanyaan itu?” Sayangnya dia sendiri menjawab tidak yakin. Sekarang ketika saya teringat kepada orang yang pernah bertanya dengan pertanyaan tersebut membuat saya ingin sedikit membagikan apa itu konsep Adil dan Kasih, khususnya konsep Allah terhadap dua hal ini, ke dalam suatu blog khusus. Saya memberi blog ini judul: TITIK TEMU KONSEP ADIL DAN KASIH ALLAH DI ATAS SALIB KRISTUS (The Meeting Point of God’s Justice and Love on the Cross of Jesus Christ).

Allah adalah Allah yang tidak berubah. Ia adil dan juga kasih. Keduanya selalu berjalan bersama-sama. Jika di Perjanjian Lama Ia kelihatannya begitu keras namun di perjanjian Baru kelihatan begitu lemah lembut, itu tidak membuktikan atau mengindikasikan Ia berobah-obah sifat. Itu hanya untuk membuktikan tentang KEADILAN dan KASIH-Nya yang berjalan secara seimbang. Bedanya adalah mereka memandang wahyu Allah di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dari sisi atau sudut yang berbeda. Sebagaimana ketika kita memandang matahari dan berkata mengapa terkadang di bumi ini selama 12 jam gelap (malam) dan 12 jam terang (siang)? Apakah matahari berubah dan berputar? Tidak kan, tapi justru bumi lah yang berotasi mengelilinginya. Matahari tetap di sana dan tidak berubah.

Banyak orang yang tidak mengerti dan mampu menyeimbangkan antara kedua konsep Adil dan Kasih. Jika kita memperhatikan cara-cara kehidupan kita sehari-hari sering kita dapati ada orang yang terlalu keras, suka marah-marah dan menuntut disiplin yang terlalu tinggi. Ia menuntut orang lain untuk selalu bersikap sepertinya. Ia tidak suka dengan kelalaian. Pokoknya ia bisa dikatakan orang yang memiliki idealisme yang tinggi. Namun, ia sulit untuk bersikap lemah-lembut, ramah dan sopan santun apalagi meminta maaf jikalau ia salah, sehingga akibatnya orang lain menjadi benci, tidak menyenanginya dan sulit berkawan dengannya. Di sisi lain ada juga orang yang begitu lembut sekali, penuh sopan santun, suka membantu dan rela berkorban. Apabila berkata-kata ia selalu menunjukkan sikap yang ramah, sabar dan penuh kasih sehingga ia tidak berani dan sulit untuk marah kepada orang lain, meskipun ia mengetahui kesalahan-kesalahan terjadi. Ia sepertinya kompromi dan tidak bisa bersikap tegas. Pokoknya ia boleh dikatakan sebagai orang yang tidak suka terlalu menuntut lebih kepada orang lain, sehingga akibatnya banyak orang yang menyukainya, menyenanginya dan orang mudah berkawan dengannya. Saya sendiri sering menyaksikan fenomena seperti ini. Saya sering prihatin juga melihat mereka yang hanya tahu keras (Adil), tetapi tidak lembut (Kasih) dan mereka yang tahu lembut (Kasih) tapi tidak bisa keras (Adil). Bagi saya kedua macam orang seperti itu menunjukkan mereka tidak mampu dan mengerti untuk menyeimbangkan dua konsep ini, yaitu: ADIL dan KASIH. Bagi saya orang yang hanya lebih menekankan pada salah satu aspek ini akan terjadi ketidakseimbangan di dalam pergaulannya. Adil terlalu ditekankan sendiri, bisa menjadi kejam. Tetapi juga Kasih bila terlalu ditekankan sendiri, bisa menjadi lemah dan bisa diinjak-injak.

Di dalam kitab Mazmur 89:15 dikatakan: “Keadilan dan hukum Allah adalah tumpuan tahta-Mu, kasih dan kesetiaan berjalan di depan-Mu”. Di situ dikatakan bahwa Allah adalah adil adanya dan juga kasih adanya. Keduanya seimbang di dalam diri Allah. Dimana prinsip adil atau keadilan dan kasih Allah bertemu? Jawabannya adalah di Golgota di salib Kristus. Ingat ketika Tuhan yesus disalib, Ia menderita luar biasa. Ia dipaku sehingga darah mengalir ke luar dari luka-Nya. Ia diolok-olok, bahkan oleh perampok-perampok yang juga ikut di salib di sebelah kiri dan kanan-Nya, meskipun akhirnya salah satu dari mereka bertobat dan dibawa Kristus ke dalam Firdaus. Di bawah salib mengatakan, “Turun! Jikalau Engkau berkuasa dan jikalau Allah menyenangi Engkau, silakan turun. Jikalau Engkau turun dari salib, maka kami akan percaya dan bersembah sujud kepada-Mu. Engkau tabib yang menyembuhkan orang sekarang sembuhkan lah diri-Mu sendiri.” Lalu mereka terus menertawakan, mengumpat dan mengolok-olok Dia. Siapa yang bisa tahan dengan penghinaan dan ejekan seperti ini? Sebagai manusia biasa kalau saya, sudah sakit setengah mati apalagi di bawah terik matahari yang begitu terik waktu itu, di bawah menyuruh saya turun, saya langsung turun, dan tempeleng semua orang yang mengolok-olok itu, minta Tuhan matikan mereka semua, setelah itu saya naik lagi. Kurang ajar sekali, di tengah kesulitan saya, kamu tega melakukan itu. Tapi perhatikanlah Tuhan Yesus, apakah Ia mengutuk orang yang memperlakukan-Nya demikian yang begitu kejam? Kristus adalah teladan yang luar biasa bagi segala jaman. Ia bukan membalas tetapi malah medoakan mereka, seperti yang tercatat di Lukas 23:34, “Father, forgive them because what they are doing they do not know” (Bapa ampunilah mereka sebab apa yang mereka perbuat mereka tidak tahu). Inilah Kasih! Sebaliknya waktu Dia disalib Ia menanggung hukuman dosa manusia. Hukuman yang seharusnya untuk kita, tapi Ia rela menggantikan kita, karena Ia mengasihi kita dan Ia tahu memang kita tidak mampu menanggungnya sendiri selain daripada Dia. Tetapi di saat Dia menderita menanggung dosa-dosa kita, di saat itulah keadilan Allah dinyatakan terhadap dosa. Untuk menunjukkan keadilan-Nya dosa manusia itu harus dihukum dan Kristus sudah menanggungnya di dalam tubuh-Nya. Allah tidak membiarkan dosa. Sebagai Allah yang menjalankan prinsip adil, dosa manusia itu sudah dihukum Allah di atas salib Putera-Nya. Jadi, antara kasih dan keadilan Allah bertemu di salib Kristus. Ia yang kasih harus menyelamatkan manusia dari hukuman dosa. Namun Ia yang adil juga harus menghukum dosa itu. So, we can see the balance (Seimbang!).

Allah juga menghendaki kita menjalankan prinsip ini dengan seimbang. Khususnya kita yang melayani Tuhan harus mengerti kedua prinsip ini. Jikalau kita hanya menekankan pada salah satunya maka kita tidak dapat dipakai oleh Tuhan. Sebagai orang Kristen kita harus tahu kapan harus bersikap keras (Adil) dan kapan harus bersikap lemah lembut (Kasih). Orang yang bisa menyeimbangkan kedua hal ini, akan menjadi pribadi yang luar biasa. Dr. John Sung (1901-1944) yang pernah 2 kali datang ke Indonesia, dan ketika saya baca biografinya yang ditulis oleh Leslie T. Lyall yang berjudul John Sung Obor Allah di Asia, semasa hidupnya ia dikenal sebagai orang yang keras luar biasa. Namun ia dipakai oleh Tuhan secara luar biasa pula. Apa sebabnya? Karena ia mencintai jiwa-jiwa manusia. Konsep adil dan kasih ada padanya. Demikian juga hamba Tuhan seperti Pdt. Dr. Stephen Tong yang dipakai luar biasa oleh Tuhan di jaman ini. Ia juga juga dikenal sebagai orang yang keras. Bahkan tanggal 19 Desember 2008 kemaren pada waktu Kebaktian Natal di Surabaya di mana ia diundang berkhotbah, di sana ia marah besar karena panitia tidak mempersiapkan acaranya dengan maksimal. Saya kaget sekali mengetahui hal itu namun apa yang dilakukannya benar adanya. Ia tidak hanya keras tapi ia lakukan itu karena ia tahu apa itu kasih. Bukankah Alkitab juga berkata, “ Mereka yang ku kasihi, mereka juga akan Kuhajar dan Kutegor…”. Dosen saya di kampus juga ada yang temperamental luar biasa, sehingga sedikit saja kita salah bisa gawat kita, dulu saya pernah ditegur olehnya juga. Tapi setelah saya renungkan apa yang dilakukannya itu, saya tidak dendam atau membencinya karena saya tahu ia juga mengasihi saya. Ia tahu kapan harus marah dan kapan harus lembut terhadap mahasiswanya. Tuhan Yesus sendiri adalah orang terlembut di dunia ini yang pernah ada. Ia paling mengasihi manusia. Di dunia ini tidak ada manusia yang paling mengasihi manusia lain yang lebih tinggi kualitasnya dibanding dengan kasih Yesus Kristus. Ia datang ke dunia untuk menyelamatkan yang tersesat. Tetapi Tuhan Yesus juga adalah orang yang keras terhadap dosa. Ia tidak kompromi ketika menghadapi orang-orang yang munafik pada waktu itu. Ia mengecam segala dosa manusia dengan keras sekali, tetapi ia juga menrima dengan kasih setiap orang yang bertobat dan kembali kepada-Nya meskipun dosanya begitu besar. Yesus tidak kompromi. Ia tidak bermuka ganda dan menjilat demi suatu kepentingan. Ia orang yang paling tegas membicarkan prinsip-prinsip tanpa memandang muka orang. Jesus Christ is the best example for us in this case.

Gereja yang terlalu banyak mengajarkan kasih Tuhan dan terlalu sedikit mengajarkan keadilan dan hukuman Tuhan akan menjadi gereja yang tidak seimbang dan tidak suci. Mengapa ada kebaktian seperti pasar, ramai luar biasa, waktu dengar khotbah jemaat sibuk sendiri dengan ngobrol dan sebagainya? Karena dalam gereja itu hanya tahu tentang kasih Tuhan tetapi tidak tahu tentang disiplin dan keadilan Tuhan yang harus menghukum dosa. Akibatnya semakin banyak orang yang namanya Kristen yang berani berbuat dosa. Mereka malah berpikir, Tuhan mencintai saya sehingga hukuman tidak kunjung datang atas mereka. Penginjilan yang benar tidak hanya berbicara tentang kasih Allah saja. “Tuhan Yesus mengasihimu, segala sesuatu akan diberikan kepadamu, engkau tidak akan menjadi ekor, tetapi menjadi kepala, engkau akan sukses dan diberkati Tuhan terus, mujizat Tuhan akan terjadi terus di dalam hidupmu, engkau akan terbebas dari sakit penyakit dan rezekimu akan menumpuk karena Tuhan mengasihi saudara …..”. Itulah suara yang sering dikumandangkan dari atas mimbar oleh pengkhotbah-pengkhotbah penganut teologi sukses (prosperous gospel) yang tidak bertanggungjawab kepada otak-otak yang mendengar sehingga memberikan konsep-konsep yang lain dari Alkitab dan menyesatkan para pendengar. Itu adalah omong kosong! That’s not evangelism (itu bukan penginjilan). Seharusnya kita berbicara secara seimbang antara kasih dan keadilan Allah. Konsep yang eror seperti ini pula yang mempengaruhi mereka-mereka yang tidak mengerti kedaulatan Allah sehingga menolak predestinasi dan menekankan kehendak bebas. Memang banyak yang pintar khotbah, mengambil bahan dari sana sini, ayat-ayat Alkitab hapal sekali tapi tentang konsep keadilan Allah (termasuk di dalamnya kedaulatan Allah) banyak yang keliru sehingga kehendak bebas (freewill) lah yang ditekankan. Konsep-konsep yang menyesatkan seperti suara di atas itulah yang sangat menghina dan memperalat Tuhan Allah karena twisting the truth (kebenaran diputarbalikan). Seharusnya kita juga berbicara sama-sama tentang keadilan Allah, “ Engkau orang berdosa dan harus dihukum, tapi Kristus sudah menanggung hukuman itu".

Pendirian yang keras di dalam dan kelembutan kasih di luar. Apa maksudnya? Misalkan ada orang yang berkata, “Semua agama itu sama saja”. Di dalam menanggapi hal ini apakah kita akan mengiyakan pendapatnya itu? Pandangan yang seperti itu harus dikoreksi dan kita harus tegas menyatakan bahwa hanya Kristuslah jalan keselamatan, kebenaran dan hidup. Namun pendirian yang tegas ini tidak boleh disampaikan dengan kasar, tetapi harus dengan konsep kasih dan tidak dengan membencinya. Tetapi juga kita tetap berprinsip tidak berkompromi. Pendapat yang salah seperti itu harus ditolak.

Jadi intinya adalah, kita harus menjadi orang Kristen yang keras terhadap dosa, tidak berkompromi terhadap kegelapan dan harus bersikap tegas terhadap mereka yang tidak sungguh-sungguh. Namun jangan jadikan orang-orang itu sebagai musuh. Tapi kasihilah mereka dengan tetap mendoakan, mengampuni serta menasehati mereka. Bagaiman agar bisa seimbang? Hikmat dan kebijaksanaan diperlukan dalam hal ini. Kita harus memintanya dari Tuhan sebagai sumber hikmat/kebijaksanaan. Ia pasti akan memberikannya kepada kita. Kita harus mencontoh Tuhan kita. Yesus Kristus berteriak kepada Allah di sorga waktu dalam penderitaan-Nya di atas kayu salib seperti tertulis di Matius 27:46, “My God, My God, why has thou forsaken me?” (Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?). Kalimat Yesus inilah yang juga sering dipakai oleh orang dari agama tertentu untuk menentang keilahian Kristus. Tapi sayang mereka tidak mengerti makna dan esensi teriakan Yesus itu. Mengapa Yesus Kristus yang sendiri adalah Anak Tunggal Allah berteriak demikian? Setelah saya belajar, belajar dan belajar merenungkan kalimat Yesus yang satu ini. Saya membayangkan teriakan itu sebagai teriakan yang sangat mengerikan, sangat menakutkan dan menggemparkan, karena suara itu menggambarkan kengerian yang luar biasa di neraka yang paling kejam. Karena itu, teriakan Yesus ini bergema menembus ke dasar neraka. Oleh karya Kristus inilah kita yang telah dipilih-Nya dari semula dari antara orang yang berdosa, tidak lagi harus mengalami siksa neraka ini. Karena Allah di dalam Kristus yang berinkarnasi telah menggantikan kita. Betapa agungnya prinsip ini. Ia yang tidak berdosa, tetapi dijadikan berdosa, bagaimana kita bisa mengerti hal ini dengan rasio kita yang terbatas? Meskipun Kristus adalah Anak Tunggal Allah, tetapi pada saat Ia dijadikan berdosa, Allah pun memalingkan wajah-Nya dari pada Anak-Nya sendiri. Karena Ia harus menjalankan keadilan-Nya demi menghukum dosa manusia. Namun di atas salib juga, Tuhan mengampuni orang-orang yang berdosa dan berdoa bagi mereka: “Bapa ampunilah mereka ….! Inilah konsep kasih yang lembut dan agung. Sehingga kemudian setelah keras (ADIL) dan lembut (KASIH) itu bertemu di atas kayu salib, Kristuspun berseru dengan kalimat keenam-Nya di atas salib: “TETELESTAI! “ (sudah selesai!! ).

Jadi, apa yang saya maksudkan dengan Adil dan Kasih di sini? Adil identik dengan sikap tidak memandang bulu, keras, tegas dan tanpa kompromi sehingga sasaran tercapai dan pihak-pihak mendapat bagian yang seharusnya sesuai dengan prinsip dalam menerapkan prinsip-prinsip ADIL Tuhan. Itulah Adil yang saya maksudkan di sini. Kasih identik dengan mengasihi, lemah lembut, tidak memusuhi orang lain, tetapi menolong orang lain untuk kembali kepada prinsip-prinsip yang benar sesuai dengan prinsip Tuhan dalam menerapkan prinsip-prinsip KASIH. Itulah Kasih yang saya maksudkan di sini. Kedua aspek ini harus berjalan seimbang, dan tidak boleh hanya menekankan pada salah satu aspek saja.

Thanx by Des14. di P. Raya

GBU all.

(*LET'S KEEP ON LEARNING AND BE TEACHABLE ABOUT THE TRUTH*)