Submitted by ebed_adonai on

 

Anda hobi memotret? Ya, apalagi dengan semakin murahnya harga kamera digital dan dengan semakin tipisnya beda antara kamera dan ponsel, fotografi (digital) menjadi suatu hal yang lumrah bagi semua kalangan saat ini.

Berikut adalah beberapa tips dari saya bagi anda yang senang memotret di dalam gereja (tips-tips ini saya dasarkan pada penggunaan kamera digital SLR, namun tidak tertutup aplikasinya bagi kamera digital saku yang memiliki kemampuan untuk diatur secara manual dan bisa menggunakan lampu kilat tambahan):

1. Selalu sempatkan diri anda untuk mengsurvey interior gereja yang akan anda potret sebelum hari H pemotretan, untuk mendapatkan posisi/sudut pengambilan yang sesuai dan settingan kamera yang tepat untuk momen-momen tertentu. Berbeda dengan pemotretan indoor lainnya, yang memungkinkan kita untuk memotret sebanyak mungkin (dan mengoreksi pengambilan yang kurang sempurna), kita hampir tidak mungkin untuk melakukannya dalam ibadah gereja yang menuntut kekhidmatan suasana. Bayangkan saat Pak/Bu Pendeta sedang berkhotbah dan kita terus menjepret mimbarnya (karena hasil foto yang kita anggap kurang sempurna), atau kita berjalan mondar-mandir seperti setrika mencari tempat yang pas untuk memotret tatkala ibadah sedang berjalan, tentu hal itu akan mengganggu konsentrasi jemaat yang sedang beribadah.

2. Pada umumnya kita tidak punya cukup ruang untuk memotret di dalam gereja, apalagi pada hari-hari dimana gereja sedang penuh-penuhnya, seperti pada Hari Natal dan Tahun Baru. Penggunaan lensa zoom dengan jangkauan sudut lebar-tele sangat menolong. Anda tidak perlu mundur terlalu jauh untuk memasukkan semua objek dalam bingkai foto anda (dan menabrak jemaat yang duduk di belakang dengan bokong anda yang seksi bagaikan vespa keluaran ’60-an), demikian juga anda tidak perlu maju sampai ke depan wajah Pak/Bu Pendeta (dan membuatnya grogi, sehingga salah ucap dalam khotbahnya), hanya untuk mengambil gambar close-up wajahnya. Untuk kamera digital SLR dengan ukuran sensor +/- 1.5x, lensa zoom 18-70mm (ekivalen dengan lensa zoom 28-105mm kalau anda menggunakan kamera digital SLR full-frame, tinggal dikalikan kira-kira 1.5x saja) sudah cukup memadai bagi anda untuk mengambil gambar dengan leluasa. Lensa-lensa zoom dengan jangkauan di bawah (12-24mm) atau di atasnya (70-300mm, 80-200, 80-400mm) menurut hemat penulis tidak praktis dalam penggunaan. Pengalaman penulis dengan lensa-lensa zoom seperti 70-300mm atau 80-400mm, misalnya, justru agak merepotkan, karena sulitnya untuk membidik objek di tengah keramaian dengan sudut pandang yang sedemikian sempit (semuanya menjadi sangat besar) yang dihasilkan oleh lensa-lensa zoom dengan ukuran seperti itu, apalagi jika kita tiba-tiba harus mundur untuk memasukkan objek sebanyak mungkin ke dalam bingkai foto. Mungkin lain halnya jika anda memotret di dalam gereja yang benar-benar luas, seperti Basilika Santo Petrus, dimana lensa-lensa zoom dengan jangkauan seperti itu mendapatkan penggunaan yang sesuai (anda mungkin bisa mengclose-up Sri Paus jauh dari ujung pintu masuk gereja).

3. Lensa yang dipakai ada baiknya dari yang kuat lensanya tinggi, dengan f stop 2.8 atau lebih besar lagi (angka f-stopnya lebih kecil, f1.4, f1.2). Hal ini akan menjadi sangat berguna tatkala anda misalnya harus mengambil gambar yang kondisi pencahayaannya minim (seperti saat lilin-lilin Natal dinyalakan dan lampu-lampu dimatikan), tanpa harus mengimbanginya dengan kecepatan pengambilan gambar yang sangat lambat (yang terjadi bila anda menggunakan lensa yang kuat lensanya agak lemah), sehingga beresiko gambar menjadi kabur. Namun jika anda tidak memiliki lensa zoom dengan kuat lensa yang memadai, janganlah berkecil hati. Lensa-lensa zoom yang kuat lensanya lebih lemah (f3.5-5.6 misalnya) bisa juga dipaksa menjadi lensa yang ‘cepat’, dengan menaikkan setelan ISO/ASA di kamera anda (dan dengan begitu kecepatan pengambilan akan menjadi lebih cepat) sampai ke batas yang masih aman (gambar tidak tampak begitu noisy seperti hasil foto kamera HP lawas saat diperbesar full size di layar komputer).

4. Interior gereja pada umumnya luas dan penuh dengan detil-detil kecil yang tersebar di berbagai tempat, apalagi gereja-gereja Katolik yang penuh dengan ornamen-ornamen khas Timur. Untuk mendapatkan gambar yang tajam dan jelas dari semuanya itu, penggunaan setelan gambar yang maksimal (antara lain: size paling besar, JPEG Fine, atau RAW, kalau anda tidak repot untuk mengkonversinya di komputer setelah sesi pemotretan), ISO/ASA yang rendah (ISO 100/200 misalnya), dan diafragma yang relatif kecil (angka f-stop besar) seperti f8, f11, f16 adalah wajib. Dengan size yang kecil, anda akan kehilangan kesempatan untuk memajang hasil gambar anda tanpa menjadi ‘pecah’ di pigura besar di ruang konsistori gereja anda (dan kehilangan kesempatan untuk berdiri berdekatan dengan seseorang di gereja yang sedang anda taksir, yang kebetulan sedang mengagumi gambar tersebut). Pada ISO 400 dan di atasnya, ada kemungkinan gambar akan menjadi lebih noisy. Begitu juga dengan penggunaan diafragma besar, akan berakibat dangkalnya depth-of-field (objek-objek lain yang berbeda jarak dengan objek yang kita fokuskan di dalam bingkai kamera akan menjadi kabur). Kecuali kalau memang kondisi pencahayaan betul-betul tidak memadai, dan memaksa kita menggunakan diafragma besar (poin no. 3).

5. Sehubungan dengan poin no. 4 di atas, penggunaan monopod/tripod juga menjadi hal yang wajib. Hal ini karena pemotretan dengan diafragma kecil umumnya berakibat melambatnya kecepatan pengambilan gambar, sebagai kompensasi untuk memasukkan cahaya lebih banyak ke sensor. Kecepatan lambat identik dengan terekamnya getaran, dan terekamnya getaran menyebabkan gambar menjadi kabur. Memang anda bisa mengaktifkan fungsi anti getar di kamera atau lensa anda (jika ada), seperti VR (Vibration Reduction) di Nikon atau IS (Image Stabilizer) di Canon. Namun menurut pengalaman penulis, sebuah tripod yang baik tetap merupakan senjata yang paling ampuh dalam melawan getaran kamera. Anda juga bisa sedikit memperbaiki keadaan dengan menggunakan lampu kilat, atau mendorong setelan ISO/ASA sampai ke batas yang aman. Namun kalau kita menggunakan lampu kilat dengan kecepatan pengambilan gambar yang lumayan cepat (1/60 detik misalnya), objek-objek yang berada di kejauhan biasanya akan kurang tercahayai. Jadi tetap saja kita harus mengambil gambar dengan kecepatan yang relatif lambat (mungkin 1/30, atau bahkan 1/15 detik). Begitu juga setelan ISO yang tinggi tidak selalu bisa menolong anda (seperti pada saat dimana keadaan lumayan gelap), belum lagi resiko gambar menjadi noisy.

6. Penggunaan lampu kilat (jika memang dibutuhkan) hendaknya diarahkan ke atas (bouncing), atau dengan menggunakan diffuser, untuk meratakan dan melembutkan cahaya lampu kilat. Jika kita mengambil gambar dengan lampu kilat terpasang mendatar, maka objek yang dekat dengan kita akan tampak sangat bercahaya (rambut hitam di kepala misalnya), sementara objek lain di kejauhan justru tampak redup, sehingga foto menjadi aneh hasilnya. Namun di momen-momen seperti saat gereja dipenuhi cahaya lilin dan lampu-lampu dimatikan, jangan gunakan lampu kilat, karena hanya akan merusak nuansanya saja (foto tampak ‘palsu’).

7. Sebisa mungkin, di tengah-tengah kesibukan anda mengambil gambar (apalagi jika anda adalah anggota seksi dokumentasi gereja), ikutilah ibadah yang ada, karena itulah tujuan anda yang terutama datang ke gereja, yaitu untuk beribadah bukan? Karenanya, bawalah seorang asisten untuk membantu anda mengganti batere, menjagakan tas peralatan fotografi anda, dll, supaya anda masih sempat menjalani ibadah yang ada. Puji Tuhan, saya memiliki "Penolong yang sepadan" saya yang setia membantu dalam itu semua, walau seringkali saya melihat wajahnya memberengut karena dandanannya tampak ‘rusak’ karena ditambahi dengan aksesori berupa tas kamera yang besar, atau tripod, he3x.

8. Yang terakhir (namun yang paling penting), berdoalah selalu sebelum memotret, agar sesi pemotretan anda berjalan dengan baik, dan anda tetap tidak kehilangan makna dalam beribadah!

                                                                                             Shalom!