Dua perempuan setengah baya membawa seorang wanita muda ke hadapan Raja Salomo. Keduanya mengaku bahwa wanita itu adalah menantunya. Salomo hening sejenak sebelum berkata, “Ambilkan pedangku dan aku akan membelah wanita itu menjadi dua. Kalian masing-masing akan memperoleh setengah darinya.”
“Ya benar, belahlah wanita ini,” kata salah seorang dari perempuan itu.
“Ampun Baginda. Saya mohon Baginda tidak melakukannya. Saya rela menyerahkan wanita ini kepada ibu itu, ” kata perempuan yang satu lagi.
Salomo berkata, “Kalau begitu berikan wanita itu pada ibu yang pertama.”
“Tetapi baginda, bukankah wanita itu yang meminta agar wanita itu dibelah saja?” Tanya penasihat raja. “
Justru karena itu saya tahu bahwa dialah mertuanya,” kata Salomo dengan penuh hikmat.
Teman, humor ini menunjukkan bahwa antara menantu dan mertua sering terjadi hubungan yang tidak harmonis.
Saya bahkan mendengar humor di seputar penciptaan Adam dan Hawa. Hawa, menurut humor di atas, dianggap sebagai wanita yg paaaaling berbahagia di dunia ini.
Teman-teman tahu alasannya kenapa ? Karena Hawa tidak mempunyai mertua !
Ada dua alasan utama mengapa mertua-menantu tidak cocok :
Pertama, mereka sama-sama wanita. Lho, kok bisa? Sebagai sesama wanita yang sama-sama tinggal di rumah yang sama, seringkali timbul rasa persaingan di antara mereka berdua. Mereka bersaing untuk mencurahkan kasih sayangnya kepada pria yang sama. Sang ibu ingin mencurahkan kasih sayangnya kepada anak laki-lakinya, sedangkan sang isteri juga ingin memberikan kasih sayangnya kepada suami tercinta.
Kedua, mereka sama-sama ingin mendapatkan kasih sayang dari pria yang sama. Sang ibu merasa berhak mendapatkan curahan kasih yang paling besar karena dialah yang melahirkan anak itu. Sebaliknya, sang isteri merasa dialah yang seharusnya mendapatkan kasih sayang dari suaminya karena mereka telah dipersatukan menjadi satu daging.
Jadi teman-teman, bagaimana supaya seorang ibu bisa mengasihi anaknya sekaligus juga mengasihi menantunya?
Pertama, begitu anak laki-lakinya menikah, seorang ibu harus merelakannya, karena anak itu memang harus meninggalkan ayahnya dan ibunya (Kejadian 2:24). Relakan anak ibu dan serahkan tanggungjawab merawatnya ke tangan isterinya.
Kedua, bersiaplah untuk menjadi konselor yang baik tanpa ikut campur urusan rumah tangga si anak. Tapi karna si ibu sudah banyak makan garam yah… si ibu bisa saja menjadi pembimbing dan penasihat si menantu tanpa memaksakan kehendak ibu padanya. Biar dia mengatur sendiri rumah tangganya. Bersiaplah menjadi penasihat yang baik, tetapi jangan pernah merasa bahwa semua pendapat ibu pasti yang paling bijaksana.
Terus bagaimana jika posisi Anda sebagai menantu ?
Pertama, anggap ibu suamimu sebagai ibumu sendiri. Kasih ini harus Anda tunjukkan dengan secara teratur mengunjunginya dan menerimanya dengan ramah jika dia datang berkunjung. Dengan demikian, ibu mertua Anda tidak merasa disisihkan, apalagi disingkirkan.
Kedua, jika Anda mengalami masalah, terutama menyangkut kehidupan rumah tangga, mintalah nasihat kepada ibu mertua Anda. Tindakan ini akan membuat ibu mertua Anda merasa dihargai. Di sampingi itu, dengan berkonsultasi kepadanya, dijamin akan terjalin komunikasi yang indah dan harmonis, dan Anda bakal disayangi mertua seperti anaknya sendiri.
Nah, selamat mencoba resep di atas !
God bless all...