Langkah menabur benih keesaan Geraja
Agar lebih ngeh terhadap posting ngawur saya tentang Romantisme Rohani Kristiani, saya perjelas dalam posting tersendiri (sesuai saran suheng) Masif Non-Denominasi.
Baru dalam tahun 2011 ini, ada rekan kristen kita konsultan lembaga donor asing mendapat job mendisain salah satu aspek dalam penyaluran grant untuk kegiatan sosial Indonesia, tahun pertama US$ 1jt tahun selanjutnya nambah sesuai perkembangan, selama 4 tahun. Dengan semangat kekristenannya, kawan ini mencoba kontak PGI, menginformasikan peluang ini. Kawan ini langsung shock berat (padahal sudah saya bisikin, jangan berharap kodok menggonggong) menyadari PGI sama sekali tidak memiliki kapasitas inisiasi program sosial. Bahasa awamnya: kalo ujug-ujug PGI dikasih duit 9M/th selama 4 tahun, perbuatan kasih apa yang bisa dirancang oleh PGI bagi umat kristen Indonesia? ...kata PGI: mana ketehe...
Jangankan ikut seleksi, menyusun proposal saja nggak ada mampu. Akhirnya, yang unggul seleksi adalah program sosial salah satu ormas keagamaan sodara kita, terkait bencong dan, transgender, seperti: bikin cafe utk para bencong, life skill bencong, dana bergulir operasi ganti sex dll.
Moral story: dunia kian mengglobal dan kompleks, sistem perekonomian kian rumit, permasalahan sosial berlipat ganda, dana kedermawanan bertabur dimana2, kristen indonesia mengurung diri asik dengan Self-righteousness masing2, para profesional/pakar yang ktpnya kristen kebingungan melihat skisma dimana2, perbedaan jadi tema komoditi mimbar sensasional.
Benih menuju keesaan perlu ditaburkan (atau sudah yach? kok nggak kedengeran), melalui TIndakah Kasih secara massal (kecil-kecil namun banyak dan serempak) sambil menyanyi "kutak pandang dari greja mana..." mencontohkan Kasih Nyata (bukan omdo) Tuhan Yesus Kepala Gereja. Dimulai dari masing-masing kita bersama merancang .....(ngobrol2 sambil ngopi, diskusi di SS)
Rupanya masih ... to good to be true