Mujizat yang oleh banyak orang sering diartikan sebagai sesuatu yang extra ordinary, kejadian luar biasa yang terjadi di luar hukum alam (*om hai ga setuju bagian ini) merupakan hal yang sangat menarik. Bahkan di berbagai keyakinan dan tradisi hal-hal luar biasa ini (baca: Mujizat) seringkali dipakai untuk memvalidasi tingkat kebenaran dan ketinggian iman yang dimiliki.
Hari ini ga sengaja nemu berita di kompas dan juga baca artikel di sini, bagi orang-orang yang getol menggunakan kejadian luar biasa (baca: Mujizat) sebagai standar validasi akan kebenaran dan ketinggian iman yang mereka miliki akan sangat senang dengan adanya kejadian seperti yang ada di kompas ataupun seperti yang termuat dalam artikel di atas.
Gereja tempat saya " dilahirkan" juga amat mengagungkan mujizat, dalam hal ini bukan sebagai validasi iman tapi lebih ke arah validasi tempat (Allah ada di Gereja kami). Secara pribadi saya sangat tidak setuju dengan dikaitkannya iman dan kejadian-kejadian luar biasa (baca: Mujizat). Seringkali hal-hal yang terjadi secara luar biasa tersebut dikarenakan kurangnya pengetahuan dan pengertian kita terhadap apa yang terjadi. Seperti jaman dulu ada cerita tentang penemuan obat malaria, suatu danau di daerah amerika latin, diketahui memiliki mujizat kesembuhan (*halah!!! :-D). Orang-orang yang mengidap malaria terbukti menjadi sembuh setelah meminum air danau tersebut. Selidik punya selidik penyebab hal itu terjadi adalah kenyataan bahwa banyak pohon kina (Cinchona succirubra) tumbuh di sekitar danau, dan banyak dahan,serta batang pohonnya yang sudah tua jatuh dan terendam dalam danau. Ekstraksi secara alami terjadi, air danau jadi mengandung senyawa kinin, akhirnya "Mujizat kesembuhan" terjadi!!
Mujizat terbesar bagi kita adalah Yesus, Sang Allah. Tiga fase hidupnya adalah mujizat bagi saya, Natal, Jumat Agung dan kebangkitanNya. Tapi anehnya, dari ketiga fase penting itu dua yang terjadi adalah peristiwa yang dalam bahasa jawanya disebut sebagai "nggelethek"... ga ada hebat-hebatnya sama sekali. Bagi saya ini merupakan peneguhan, bahwa mujizat bukanlah standar bagi tingkat kebenaran dan ketinggian iman.