Ada satu ayat Alkitab yang akhir-akhir ini telah menjadi bahan perdebatan di SS ini, tetapi sayangnya hal-hal yang dikatakan oleh pihak-pihak yang terjun ke dalam perdebatan itu cenderung telah menjurus kepada pembengkokan atas maksud yang jelas dan wajar dari ayat tersebut. Karena itu, saya menimbang perlu untuk “menengahi”-nya, sebelum kadung terlalu jauh. Berikut ini adalah ayat Alkitab yang saya maksudkan itu.
Berfirmanlah TUHAN Allah: "Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya." (Kejadian 3:22).
Pikiran manusia itu memang sangat luar biasa – sangat cerdas dan juga sangat kreatif! Tetapi, sangat disayangkan, karena sering kali kecerdasan dan kekreatifan tersebut digunakan untuk memutar-balikkan sesuatu. Salah satunya adalah dengan membuat suatu teks terhormat (seperti ayat Alkitab) bisa dibengkokkan makna/maksud/tujuannya, sehingga menjadi seperti yang diinginkan oleh manusia yang bersangkutan.
Kunci untuk memahami suatu teks ialah dengan melihatnya secara keseluruhan dan secara utuh. Kebiasaan “memenggal” suatu teks, haruslah dihindari, sebab akan menyebabkan teks menjadi gampang untuk dimanipulir atau diselewengkan. Karena itu, sangat perlulah untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang “mengitari” seluruh teks tersebut (lebih baik lagi kalau menyertakan konteksnya juga), supaya jawaban-jawaban yang diperoleh bisa mencakupi sisi keseluruhan dari teks tersebut juga.
Saya akan berusaha untuk membuat persoalannya menjadi benar-benar GAMBLANG kepada kita semua, yaitu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sederhana dan jawaban-jawaban yang bisa dilihat secara langsung di dalam ayat Alkitab tersebut (plus dari konteksnya). Tidak ada cara-cara rekayasa yang canggih yang diterapkan di sini dan tidak ada manipulasi yang licik diikut sertakan di sini. Semuanya hanyalah pendekatan yang sederhana dan jujur dalam mengamati sebuah teks (sekalipun tidak meluputkan ketelitian dalam pengamatan tersebut).
Marilah segera saja kita melangkah ke dalam pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban atas teks kita di atas tadi.
- Tanya: Mengapa dikatakan manusia itu “telah menjadi seperti salah satu di antara Kita”?
+ Jawab: Sebab, manusia itu (kini) telah mengetahui yang baik dan yang jahat.
- Tanya: Siapakah yang dimaksudkan dengan “Kita” di sana?
+ Jawab: Yang dimaksud dengan “Kita” itu ialah Allah Tritunggal (Bapa, Yesus, dan Roh Kudus).
- Tanya: Siapakah yang dimaksudkan dengan “manusia” di sana?
+ Jawab: Adam dan Hawa (kita bisa memastikan hal itu dari fakta bahwa bukan hanya Adam sendiri yang kemudian di usir ke luar dari taman eden [untuk menghindarkan mereka dari memakan “buah pohon kehidupan” itu], melainkan mereka berdua, yaitu Adam dan Hawa).
- Tanya: Kalau begitu, mengapa digunakan bentuk tunggal (“manusia”/”the man”) di sana?
+ Jawab: Itu adalah semacam gaya bahasa (majas) yang menyebutkan sesuatu (yang tunggal) untuk mewakili atau sebagai wakil dari/bagi yang lainnya (bnd. Pars pro toto adalah sebuah majas yang digunakan sebagian unsur untuk seluruh - wikipedia.org/wiki/Majas).
- Tanya: Siapa sajakah yang (kini) mengetahui yang baik dan yang jahat, selain dari Allah Tritunggal?
+ Jawab: Sama seperti yang di atas, yaitu Adam dan hawa.
- Tanya: Siapakah yang dimaksudkan sebagai “telah menjadi seperti salah satu di antara Kita” itu?
+ Jawab: Masih sama juga seperti yang di atas, yaitu Adam dan Hawa.
- Tanya: Jadi, apakah arti dari frasa “menjadi seperti salah satu di antara Kita” itu?
+ Jawab: Itu hanyalah suatu gaya bahasa semata, yang maksudnya, tidak lain, hanyalah untuk mengatakan bahwa Adam dan Hawa (kini) telah menjadi seperti Allah Tritunggal (bandingkan ayat yang kita bicarakan ini dengan terjemahan BIS, yang tidak mengikuti gaya bahasa tersebut, demi kesederhanaan artinya untuk dapat ditangkap oleh orang kebanyakan: TUHAN Allah berkata, "Sekarang manusia telah menjadi seperti Kita dan mempunyai pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Jadi perlu dicegah dia makan buah pohon yang memberi hidup, supaya dia jangan hidup untuk selama-lamanya." Kejadian 3:22 BIS).
- Tanya: Apakah hal itu berarti bahwa Adam dan Hawa kini telah menjadi setara dengan Allah Tritunggal?
+ Jawab: Tidak! Kalau diperiksa lagi, kita akan tahu bahwa kesamaan (kesepertian) yang dimiliki oleh Adam dan Hawa dengan Allah Tritunggal itu sangatlah terbatas, yaitu hanya dalam satu hal yang tertentu saja.
- Tanya: Dalam hal apakah Adam dan Hawa dikatakan (kini) telah menjadi seperti Allah Tritunggal?
+ Jawab: Hanya di dalam satu hal ini saja, yaitu dalam hal mengetahui yang baik dan yang jahat.
Kesimpulannya:
Berikut ini hanyalah untuk menyebutkan beberapa kesimpulan yang bisa kita tarik dari penelaahan yang kita lakukan di atas tadi.
1. Yang dikatakan telah mengetahui yang baik dan yang jahat pada saat itu (yaitu ketika Allah Tritunggal berbincang mengenai Adam dan Hawa, setelah keduanya jatuh ke dalam dosa) ialah kelima oknum/pribadi yang berikut ini:
1) Allah Bapa
2) Allah Anak/Yesus
3) Allah Roh Kudus
4) Adam
5) Hawa
Jadi, bukan hanya 2 pribadi saja (yaitu Allah Bapa dan Adam), tetapi ada 5 pribadi yang pada ketika itu sudah memiliki pengetahuan mengenai yang baik dan yang jahat itu.
2. Allah Tritunggal (Bapa, Yesus, dan Roh Kudus) sama-sama sudah memiliki pengetahuan itu sebelumnya, sedangkan Adam dan Hawa baru mengetahui hal itu setelah mereka jatuh ke dalam dosa.
3. Dengan demikian, Adam dan Hawa (sejak saat itu) menjadi SEPERTI Allah Tritunggal, tetapi kesepertian yang dimaksud di sana terbatas hanya pada satu hal tersebut saja, yaitu: mereka juga kini sudah mengetahui yang baik dan yang jahat, seperti Allah Tritunggal (yang selamanya sudah mengetahui mengenai yang baik dan yang jahat itu).
4. Dalam menafsirkan, mengartikan, memahami (atau istilah apa pun lainnya lagi yang Anda sukai) ayat-ayat Alkitab, kita tidak boleh melakukannya secara tendensius dan juga tidak boleh dengan “mengangkangi” kaidah-kaidah bahasa yang ada, yaitu yang sudah diakui secara umum (yang diselidiki, dikaji, dan kemudian dirumuskan oleh para ahli bahasa).
Demikian sajalah dulu tulisan ini. Semoga tulisan yang singkat ini bisa menolong kita semua untuk bisa melihat permasalahan yang satu ini secara lurus dan proporsional. Gloria in excelcis deo!