Fantastis kesebelasan Jerman menghantam Argentina 4-0, kesebelasan Argentina yang bertabur bintang-bintang pemain dengan daya kreatifitas serangan yang sangat luar biasa yang ada di Messi, Tevez, Higuain, Aguera, Milito tak berkutik menghadapi ppartan kolektifitas “panser” Jerman. Meski saya sebelumnya memfavoritkan Inggris, ternyata Inggris begitu mengecewakan dan tampil jauh dibawah form seharusnya.
Mengulik-ulik strategi Jerman dengan Argentina, sebenarnya Argentina sama seperti Brazil yang tidak memperhatikan kesimbangan dan harmonisasi tim, Argentina mengusung formasi yang sebenarnya sama dengan formasi Jerman. 4-2-3-1. Namun Maradona dalam memilih pemain nampaknya terlalu berjudi dan tidak sama sekali memperhatikan faktor strategi lawan, lebih “nekat”nya lagi Maradona hanya menempatkan satu geladang yang memiliki kemampuan bertahan yang cukup baik yaitu Mascherano, yang memang mempunyai karakter permainan yang juga spartan dan dapat menjadi jangkar permainan. Sementara blunder yang dilakukan oleh Maradona adalah menempatkan Maxi Rodriguez sebagai pemain tengah membantu mengorganisasi lapangan tengah, padahal posisi aslinya adalah attacking midfielder, entah kenapa Maradona tidak membawa Zaneti, Gago, Cambiaso yang memang punya karakter kurang lebih sama dengan Mascherano.

Permainan atraktif Argentina sungguh mengagumkan karena talenta terbaik para creator serangan memang paling banyak dimiliki oleh kesebelasan Argentina, tidak cukup Messi, ada Tevez, tidak cukup juga ada Higuain, masih kurang ada Militio, ditambah lagi Aguero, belum lagi the next rising star seperti De Maria dan Pastore. Untuk masalah kreasi penyerangan Argentina no.1 jauh melebihi kesebelasan lain bahkan Brazil sekalipun, namun Brazil lebih baik karena, bek sayapnya pun bisa overlapping jauh sampai ujung pertahanan lawan, sedang Argentina hanya pemain yang memiliki posisi menyerang yang mampu melakukan itu, titik lemah Argentina adalah timpangnya lini tengah dalam menahan serangan balik dari lawan, bahkan Argentina tidak mau belajar dari kekalahan 4-1 Inggris dari Jerman sebelumnya, padahal Inggris memiliki bek tengah dan geladang bertahan terbaik di dunia tak sanggup menahan dahsyatnya counter attack darah muda “pasukan” Jerman.
Dengan posisi klasik 4-4-2 Inggris harus menyerah 4-1 dari Jerman sedang Maradona masih memaksakan formasi 4-2-3-1, dengan dua gelandang tengah yang timpang yang ada di Maxi Rodriguez, dengan membawa 6 striker murni? Dan lebih banyak mengandalkan permainan individu dibanding kerjasama tim.

Sementara Jerman dengan posisi 4-2-3-1, bermain secara kolektif dan penuh kosentrasi, jarak pemain satu dengan pemain kawan lainnya cukup dekat, sehingga mudah untuk mengalirkan bola dan ketika kehilangan bola cepat untuk mengcover dan memberikan pressing untuk menahan gempuran serangan lawan.

Schweinsteiger dan Khedira merupakan kombinasi yang luar biasa ampuh melebih kombinasi Gerard dan Lampard atau Xavi dan Iniesta. Bagai tembok yang kokoh untuk sulit ditembus, mereka berdua juga memberikan aliran bola yang taktis dan bahkan sesekali melakukan overlapping kedepan untuk memberikan assit, dalam kemengangan Jerman terhadap Inggris yang sebenarnya adalah Schweinsteiger, walau tidak mencetak gol tapi memberikan 2 assist dan membuat pemain sekelas Messi, Tevez dan Higuain tak berkutik.
Nah selanjutnya Jerman akan melawan Spanyol, buat saya pribadi inilah sebenar-benarnya Final ideal menurut performa kedua kesebelasan di Afrika Selatan kali ini, meskipun Spanyol kurang tampil impresif namun dari Kiper sampai penyerang depan Spanyol nyaris sempurna, hanya saja Sponyol kurang memiliki bek kiri yang berkelas dunia, itu saja kekurangan Spanyol, bakhkan lebih menakjubkan lagi pemain sekelas Fabregas, Silva, Navas, Pedro, Valdes, Reina harus rela jadi cadangan, Spanyol yang jika kehilangan satu pemain baik dari posisi Kiper sampai dengan posisi penyerang tak terlalu signifikan artinya, bahkan walaupun Torres bermain kurang baik, masih ada deretan pemain yang dapat mengantikannya.

Spanyol juga mempunyai keseimbangan tim yang sangat baik dalam bertahan maupun menyerang, dalam menyerang ada Iniesta dan Xavi, yang juga sangat baik dalam bertahan, dalam bertahan ada Xabi Alonso dan Sergio Busquets yang juga dapat membantu serangan, bilamana Spanyol ingin merubah formasi dengan mengunakan winger, Navas, Silva, Pedro, Mata adalah winger2 terbaik kelas dunia.
Jika Jerman bertemu dengan Spanyol, Spanyol memiliki “deep bench” dibandingkan Jerman, Spanyol juga memiliki fleksibiltas dalam merubah formasi, namun entah mengapa permainan Spanyol kurang menarik dan kurang menghibur dibandingkan permainan Jerman, Jerman slalu tampil lepas dan enak ditonton, tidak terlalu banyak menahan bola dan tidak terlalu banyak mendribling bola, jumlah gol Jerman juga yang paling banyak dalam perehatan piala dunia kali ini, bahkan Jerman memiliki 3 calon penerima sepatu emas, Podolski, Klose dan Muller, sedang Spanyol terlalu bergantung kepada Villa untuk mencetak gol. Karena itu dalam hati walau saya ingin bahwa kali ini Jerman bisa mengatasi Spanyol, bukan karena gaktor favorit-favoritan, namun berdasakrkan performa dan apa yang Nampak sampai saat ini.
Dan ketika Belanda yang akan bertemu Jerman, (karena saya tidak suka dengan cara Uruguay menang dengan bantuan tangan curang), Belanda juga memiliki formasi taktik 4-2-3-1 yang sama dengan Jerman, namun jika dibanding dengan Jerman, dua pemain tengah Belanda belum sebaik pemain tengah Jerman, dan kemenangan Belanda atas Brazil, jika saja Dunga bisa membaca tanda-tanda tidak efektifnya Melo yang terlalu temperamental di lapangan, mungkin bisa saja hasilnya berbeda, namun sama seperti Argentina, Belanda memiliki geladang serang atau winger yang luar biasa mengagumkan “comeback”nya setelah “dibuang” Real Madrid, baik Robben dan Sneijder, lebih baik sedikit ketimbang Muller dan Ozil. Tusukan dan tembakan jarak jauh Robben dan Sneijder dari luar kotak pinalti sering merupakan ancaman yang serius buat setiap penjaga gawang. Walau Belandapun penampilannya jika dibandingkan oleh Jerman masih kalah impresif

Tapi sepakbola itu bundar, bola bisa membentur gawang, dan masuk namun tidak disahkan sebagai gol, bola yang akan masukpun tanpa malu-malu bisa ditahan oleh tangan, temperamen satu pemainpun bisa meruntuhkan moral satu tim dan pelatih, pemain terbaik dunia seperti Messi dan Ronaldopun tak menampilkan permainan seperti biasanya, bahkan masih banyak orang yang tidak begitu familiar dengan Muller, Ozil dan Schweinsteiger, namun mereka tampil lebih gemilang daripada football superstar seperti Messi, Rooney dan Ronaldo
Lalu apa hubunganya dengan sabda space?
Teologi? Filsafat? Puisi atau cerita tentang makna sesuatu?
Tidak
Kali ini saya ingin bicara bola saja tanpa teologi, tanpa filsafat atau tanpa sesuatu yang “berat” untuk dipahami, karena bola tanpa harus dipahami, mengapa bisa terjadi gol?, kenapa bisa bola terkena tiang?, tidak perlu dipahami terlalu menjlimet, dinikmati saja dan diteriaki kalau perlu…entah itu teriakan gol, aahhh, wuah, atau apapun teriakan saja karena sebentar lagi moment ini selesai, dan untuk menantikannya selama 4 tahun, kita akan kembali menunggu apa yang akan terjadi 4 tahun lagi di piala dunia berikutnya…
Semoga Jerman yang jadi Juara kali ini