Sabtu lalu beberapa teman berhasil membuat saya menonton pertunjukkan musik langsung di kota kami. Hal ini di luar kebiasaan saya yang tidak suka berada di tengah kerumunan orang banyak dan hingar bingarnya sistem bunyi yang cukup keras untuk menyakiti indra pendengar saya yang terbilang sensitif. Namun demi berkumpul bersama teman-teman dan mengikuti anjuran beberapa orang untuk sesekali mencoba bersenang-senang akhirnya saya berangkat juga ke pertunjukkan dua band papan atas Indonesia itu. Kebetulan kedua band itu cukup saya gemari; dan akhirnya saya harus mengakui betapa saya menikmati pertunjukan itu.
Mbak Maria, salah seorang temanku yang amat "tergila-gila" pada salah satu personil band yang tampil, adalah yang paling bersemangat menyaksikan pertunjukkan itu. Berulang kali dia mengajak kami untuk nekat menyerbu ke backstage seusai pertunjukkan demi sebuah kesempatan berfoto dengan pujaannya. Suatu keinginan yang kelihatannya mustahil. Pasalnya, penjagaan begitu ketat. Rasanya tak mungkin kami (sekumpulan gadis-gadis berukuran tubuh lumayan kecil) menerobos barikade pengamanan.
Ketika band pertama baru mulai tampil, Mbak Maria menerima panggilan di telepon genggamnya, dan tiba-tiba meminta kepada kami untuk menjaga tempatnya, karena ia harus keluar sebentar. "I'll be back in twenty minutes," katanya sambil bergegas meninggalkan arena pertunjukkan di lapangan basket kampus kami. Namun, hampir satu jam kami menunggu ia tak jua kembali. Khawatir terjadi apa-apa, saya mencoba menghubungi; tapi gayung tak bersambut, panggilan saya ditolak. Duh, kemana sih kakak satu ini? Kami semakin kesulitan saja menjaga space. Pasalnya dalam acara tersebut penonton dirancang untuk duduk lesehan, dan kerumunan penonton di belakang kami makin mendesak saja ke depan.
Akhirnya, setelah band pertama selesai tampil dan intermisi hampir selesai, datanglah temanku yang hitam manis ini menggandeng seorang pria yang telah kukenal. Pria itu tidak lain adalah ayahnya yang kebetulan bekerja di yayasan perguruan tinggi tempatku dulu kuliah dan sekarang bekerja. Dengan sumringahnya ia menunjukkan foto-foto yang berhasil diambilnya bersama pujaannya. Ternyata kepergiannya selama "20 menit" itu dalam rangka misi menyelundup ke ruang transit di Gedung Administrasi Pusat. "Untung ada papa," katanya dengan senyum terkembang.
"Kamu beruntung," itu reaksi pertamaku.
"Iya, aku beruntung bisa dapat foto ini," jawabnya bangga.
"Bukan. Bukan itu," timpalku lagi.
"Kamu beruntung punya ayah sebaik papamu," kataku lagi sambil tersenyum ke arah ayahnya.
"Iyalah Nit, apa sih yang nggak buat anak," ujar papanya penuh kebanggaan karena telah berhasil membahagiakan anaknya.
Seketika sebuah gelombang emosi yang mengharu biru menghempasku. Aku rindu pada Bapak, dan gemerlap lampu warna-warni yang terang benderang tiba-tiba mengabur. Sekuat tenaga aku mengendalikan air mata itu dan tetap tampil cerah ceria.
Sembilan tahun sudah aku tinggal terpisah dari ayah. Ayah bekerja di kota lain, sementara aku bersama ibu dan kedua adikku tinggal di kota kecil ini. Ibu dan ayah selalu berpesan karena aku anak tertua maka aku harus dapat mengganti peran ayah ketika ia jauh. Bahkan saat ibu memutuskan kembali bekerja beberapa tahun lalu, aku dikondisikan untuk menggantikan posisi keduanya. Teman-teman kala itu bahkan menjulukiku "nona rumah tangga."
Selama sembilan tahun itu, aku sangat menikmati menjadi pribadi yang independen; aku telah terbiasa mengabaikan keinginan-keinginan "kecil" macam berfoto dengan idola (aku bahkan tak punya artis idola), dan berusaha menyelesaikan masalah-masalah kecil sendiri karena tak mau membuat orang tuaku khawatir. Tapi ketika melihat betapa besarnya kasih ayah temanku itu, seketika aku tak ingin menjadi dewasa dan mandiri. Aku ingin kembali ketika aku masih seorang gadis kecil dengan tubuh gempal bak telur menggelinding dan rambut kepang dua yang berani menangis tersedu-sedu mencari dekapan bapak ketika dulu aku diganggu teman-temanku. Kemudian, Bapak akan mengelus rambutku dan memperingatkan teman-teman yang menggangguku itu. Aku tak ingin jadi kuat. Aku tak ingin jadi tangguh. Aku hanya ingin jadi gadis kecil yang berani punya mimpi; berani menangis, lemah dan rapuh.
Adakah bapak masih sayang padaku?
Beruntung sebelum air mataku tumpah, band mulai mengajak penonton melantunkan lagu favoritku,
... kau adalah darahku
kau adalah jantungku
kau adalah hidupku
lengkapi diriku
oh sayangku engkau begitu
sempurna....
... dan aku tahu meski Bapakku di dunia kadang terasa jauh, tapi Bapaku yang di Sorga tak pernah; IA bahkan selalu bersedia menyambutku sebagai gadis kecil yang datang sambil menangis sesenggukan ketika lututku berdarah dan bajuku belepotan terkena lumpur dalam dekapan-NYA tanpa takut aku akan mengotori bajunya yang putih bersih
BAPA yang tak peduli betapa dekil dan kotornya aku; dan betapa dunia (dan bahkan diriku sendiri) memandang alangkah tak karuannya aku...
IA tetap melantunkan
Nita sayangku
kau begitu sempurna
dimataKU kau begitu indah . . .