Submitted by greeny on

           "Yes!! Rapatnya lebih cepat selesai dari perkiraan, jarum jam menunjukkan 16.05.  Tanpa berlama-lama langsung menuju sarang. Niat hati ingin langsung menyambar tas dan pergi, tapi kasur itu begitu menggoda. "Ahh tak apa-apa, toh janjinya pukul 17.00".

         "Opps, berbaringnya ternyata keterusan" Bangun-bangun, langsung buru-buru perbaiki penampilan supaya tetap oke. Dalam hitungan menit, sudah duduk dengan manis di samping sopir angkot:)

       Setelah mengalami salah naik angkot, muter-muter tidak jelas. Akhirnya sampai juga di teras kota. Bertemu dengan dua saudari yang tak kalah cantiknya dengan aku:). Setelah ba bi bu, pandang kanan kiri belakang, hmm lumayan juga tempat ini buat tempat tongkrongan. Belum ramai saja karena masih baru. Hal yang tak kalah pentingnya, langit-langitnya berwarna
hijau "Gua banget gitu loh".

       Destinasi utama tentu saja ke megablitznya. Hasil permufakatan
di antara kami bertiga adalah nonton GI Joe, tentu saja dengan alasan aktornya ganteng:). Filmnya seru, lucu dan punya pesan yang bagus seputar teamwork, cinta dan ketulusan.

     Jarum jam menunjukkan 22.00, brrr di luar terasa dingin sekali. Rupa-rupanya langit  sedang menghujani tanah dengan butiran-butiran cinta yang bening dan deras. "Kamu naik taxi aja,udah malam, ujan lagi" kata teman yang berambut panjang, disambut anggukan setuju dari teman yang rambutnya cepak. Iya juga, pikirku. Lebih baik keluar uang lebih besar sedikit
dibandingkan jika naik angkot, daripada kehujanan dan naik angkot gelap-gelapan, serem.

       Pukul 22.20, sudah asyik ngobrol dengan sopir taxi. Obat mujarab daripada tertidur di taxi sangking dinginnya kan lebih parah lagi. Tiba-tiba ada sesuatu yang lain di dalam taxi ini. Biasanya di atas dashboard terpampang identitas si sopir taxi. Di dalam taxi ini lain. Sebuah foto perempuan kecil umur lima tahun terpampang dengan manisnya di situ.
"Dia itu anak saya ito umur lima tahun, namanya rini, malam ini saya berjuang untuk dia"
Berjuang ? Iya, anak saya masih di rumah sakit karena minggu lalu sakit typus. Sekarang  sudah sembuh tetapi tidak diperbolehkan keluar oleh pihak rumah sakit karena biayanya belum terlunasi.

         Saya langsung teringat materi yang sedang saya susun tentang simpati dan empati.  Bapak N ini meletakkan foto anaknya yang ditahan oleh pihak rumah sakit, supaya mengguggah semangatnya untuk mencari uang sebanyak-banyaknya malam itu. Dengan adanya foto itu, bapak semakin giat supaya anaknya yang sudah sembuh tidak berlama-lama di rumah sakit, karena tentu tidak nyaman bagi rini. Mengesampingkan pertalian darah antara ayah dengan anak, saya melihat di sini tidak hanya simpati yang ada tetapi ada empati yang sangat dalam. Tidak hanya sekedar ikut merasakan, tetapi si bapak memahami bagaimana berada di posisi Rini.
Untuk itulah dia berjuang.

    
    Lalu, saya ada di posisi mana? Simpati? Iya! Tetapi sekedar simpati saja tidak  cukup.

"Ito, saya tidak malu untuk mengatakan saya memang butuh uang, kalau mau tolong saya tidak malu untuk menerimanya" Perkataan Bapak N membuyarkan pikiranku tentang simpati empati.
Empati? Harus diakui memang butuh perjuangan. Empati melampaui rasa, emosi bahkan kata-kata indah sekalipun.

         Beri selembar apa dua lembar apa semuanya yang di dompet ya? Bagaimana kalau dia menipu? Bagaimana nanti sudah tidak punya uang sama sekali? Aduh Tuhan, Ampuni anakmu ini.  Terlepas bapak N berbohong atau tidak mengenai anaknya, tetapi yang jelas sudah terbukti
bahwa berkata-kata itu gampang. Menyusun materi tentang simpati empati sampai 10 lembar pun bisa dalam waktu singkat. Tetapi giliran melakukannya banyak sekali pertimbangan-pertimbangan konyol berseliweran di kepala.

        Hati ini sedikit lega walau hanya bisa membantu sedikit, tetapi setidaknya melalui peristiwa itu itu, saya belajar hal yang sungguh berharga. Bahwa memang berkata-kata manis dan baik itu sangat gampang, tetapi melakukannya butuh perjuangan.
 

       Meminjam kalimat dari Pak N, "Saya berjuang untuk anak saya Rini", saya mau katakan bahwa masih banyak yang membutuhkan perjuangan kita dan yang mesti kita perjuangkan, melampaui kata atau wacana.



Tenderness and kindness are not signs of weakness and despair, but manifestations of  strength and resolution (Kahlil Gibran)