Submitted by Purnawan Kristanto on

Biar tidak terlalu serius terus, kita santai sejenak dulu ah. Tertawalah jika Anda anggap lucu, mumpung tertawa itu belum dipajaki

1. Operasi Ringan
Seorang pria berlari terbirit-birit keluar dari ruang operasi.
Isterinya yang menunggu di koridor rumah Sakit menjadi heran dan cemas.
"Apa yang terjadi?" tanya sang Isteri.
"Aku tadi mendengar perawat berkata, 'Nggak usah khawatir. Ini hanya operasi ringan, kok. Semuanya akan berjalan lancar,'" jawab Pria itu.
"Perawat itu berusaha menenangkanmu! Apa yang kau takutkan?"
"Bukan begitu. Soalnya, Perawat itu tidak berbicara kepadaku, tetapi kepada dokternya!!"


2. Menyembunyikan Pengungsi
Di Belanda, ada seorang kakek yang sedang mengakui di dosa di hadapan Pastur.
"Saya telah berdosa Pastor. Pada Perang Dunia II saya menyembunyikan seorang pelarian dari kejaran tentara Nazi di loteng rumah saya."
"Itu bukan suatu perbuatan dosa, Anakku."
"Tapi saya menarik ongkos 20 Gulden setiap minggu dan dia setuju."
"Itu tidak baik. Kalau mau menolong seharusnya tanpa pamrih. Tapi melihat situasinya, hal ini dapat dimengerti. Jadi, tidak apa-apa."
"Terimakasih, Pastur. Oh, ya satu pertanyaan lagi. . . ."
"Apa itu?"
"Apakah saya harus memberitahu dia bahwa perang sudah berhenti?"


3. Khotbah yang Awet
Usai ibadah, Pengkhotbah menyalami jemaat di depan pintu gereja. Tiba giliran seorang Bapak yang selama setengah tahun tidak beribadah ke gereja.
"Khotbah Anda sangat bagus!" puji Bapak itu.
"Saya berharap khotbah saya hari ini tidak sehebat khotbah yang terakhir kali Anda dengar?" jawab Pengkhotbah.
"Mengapa begitu," tanya Bapak itu dengan heran.
"Karena khotbah itu sangat awet dan dapat bertahan selama enam bulan."

4. Akal Bulus
Di wilayah perang, seorang serdadu menjual belatinya karena kehabisan uang. Supaya tidak ketahuan, dia menggantinya dengan belati kayu. Rencananya, kalau maju perang lagi, dia akan mengambil belati milik serdadu yang sudah mati.
Rencana belum terlaksana, tiba-tiba komandannya melakukan inspeksi. Komandan ingin memeriksa belatinya.
“Maaf Komandan,” jawab serdadu. “Saya sudah bersumpah pada ayah bahwa saya tidak akan mencabut belati ini dari sarungnya, kecuali jika akan dipakai untuk membunuh musuh.”
Namun Komandan tetap ngotot ingin memeriksa belatinya.
Sambil memandang ke langit, si Serdadu berkata, “Kiranya Tuhan mengubah belatiku menjadi kayu, karena aku telah melanggar sumpahku.”

5. Pemungutan Suara
Pada sebuah rapat di gereja, seorang pendeta mengusulkan sesuatu. Tapi usulan ini ditolak oleh para penatua gereja. Namun sang pendeta tak mau mengalah begitu saja. Dia mengusulkan diadakan pemungutan suara. Hasilnya 10:1.
"Hasil pemungutan suara menunjukkan Anda kalah suara," kata ketua penatua kepada pendeta.
"Tapi itu bukan berarti bahwa saya salah dan kalian benar di hadapan Tuhan!" sergah pendeta,"Saya akan minta tanda dari Tuhan bahwa saya benar dan kalian yang salah!"
Pendeta itu lalu berdoa. Tiba-tiba ada kilatan cahaya menyambar meja kayu depan mereka dan membakarnya. Para penatua terhenyak. Mereka bergeming.
“Bagaimana pendapat Anda tentang tanda itu?"tanya pendeta pada ketua penatua dengan senyuman puas.
"Benar, Tuhan memberikan suara-Nya pada Anda," jawab penatua gemetar,"tapi karena hasilnya 10:2, kami masih menang suara."

6. Keledai
Ada seorang wanita yang menikah dengan pria yang perilakunya sangat menjengkelkan. Dia sering menggerutu dan mengomeli istrinya dengan alasan yang tak jelas. Suatu hari, dia pergi dengan menunggangi keledai. Sudah jadi kebiasaannya, sepanjang jalan dia mengomel-omel. Tapi yang jadi sasarannya adalah keledainya. Lama-lama keledainya merasa jengkel juga dan menendang majikannya hingga tewas.
Pada upacara pemakaman, setiap menyalami pelayat pria, sang istri yang kini jadi janda itu selalu menganggukkan kepala. Anehnya, ketika bersalaman dengan para wanita, dia menggelengkan kepala. Pendeta yang memimpin upacara itu menjadi heran.
"Mengapa Anda mengangguk pada kaum pria, tapi menggeleng pada kaum wanita?” tanya pendeta heran.
"Para pelayat pria itu mengucapkan ikut berbela sungkawa. Saya jawab, ‘ya’ sambil mengangguk,” jawab sang janda, ”sedangkan para wanita bertanya, ‘apakah keledai itu akan dijual?’, saya menggeleng dan menjawab: ‘tidak’”.

7. Kiat Bertengkar
Seorang pemuda bertanya kepada pasangan kakek-nenek tentang rahasia keawetan pernikahan mereka. “Sejak dari awal pernikahan, kami sudah sepakat jika kelihatannya akan bertengkar hebat, maka saya akan mengambil topi dan pergi berjalan-jalan,” jawab sang kakek.
“Setelah itu bagaimana?” sergah pemuda itu, tak sabar mendengar kelanjutan cerita.
“Setelah beberapa lama, saya akan pulang dan melempar topi melalui pintu rumah,” lanjut sang kakek,”jika isteri saya melempar keluar topi saya, maka mengambil topi itu dan pergi berjalan-jalan lagi.”

8. Tertidur
Seorang pendeta ingin menegur seorang bapak yang sering tertidur ketika sedang disampaikan firman Tuhan. “Saya lihat Bapak sering terkantuk-kantuk di gereja. Apakah Bapak kurang tidur?” tanya pendeta.
“Saya sebenarnya sedang mengamalkan Mazmur 127:2,” jawab bapak yang memang terkenal senang ngeyel itu. “Kata ayat itu, Allah menyediakan berkat-berkat-Nya justru ketika kita sedang tidur,” lanjut bapak itu.
Pendeta hanya tersenyum kecut. “Maksud ayat itu bukan seperti itu,” katanya,”katanya,”maksud sebenarnya, jika manusia berusaha sendiri—tanpa mengingat Tuhan—maka segala usahanya hanya sia-sia saja.”
“Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah—sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.” (Mazmur 127:2)

9. Gembala VS Tukang Jagal
Seorang pendeta memimpin jemaatnya berziarah ke Israel. Saat akan mengunjungi padang penggembalaan, dia membacakan perumpamaan tentang gembala yang baik. Dia mengatakan bahwa sebentar lagi mereka akan melihat gembala yang hampir mirip dengan gembala pada zaman kehidupan Yesus.
Pendeta ini lalu menerangkan ciri-ciri gembala yang baik: Selalu berjalan di depan; siap menghadang bahaya di depan untuk menjaga kawanan ternaknya. Namun ketika rombongan sampai di padang penggembalaan, pendeta justru kehabisan kata-kata. Pasalnya, rombongan itu justru menyaksikan seorang pria yang berada di belakang kawanan domba.
Dengan muka merah, pendeta menghampiri pria itu. “Selama ini saya pikir gembala selalu berjalan di depan untuk memimpin kawanan dombanya,” kata pendeta, ”tapi mengapa Anda justru ada di belakang? Bahkan malah kelihatan seperti mengejar-ngejar domba?”
"Bapak memang benar,” jawab pria itu terengah-engah,” gembala yang baik memang harus begitu. Tapi saya bukan gembala. Saya adalah tukang jagal.”