Submitted by y-control on

Sampai kapan kau akan menungguku?

Sampai beruban? Dan waktu terus berlalu

Hey, tidakkah kau bosan menyanyikan keluhan?

Mengharap belas kasih atas mental pengangguran



Pasti ada jalan untuk mencari uang

Pasti ada cara untuk bersenang-senang

Badai pasti datang, kita tak akan menang

Mengapa harus bimbang?



Kita orang pintar dengan otak bersinar

Hanya perlu semangat untuk hidupi rakyat

Kita orang pintar dengan otak bersinar

Nyanyikan lagu perang untuk membungkam setan



Kamu berdendang lagu putus cinta

Mencari harapan kembali dengannya

Kau kumandangkan syair keluguan

Berharap keadilan di muka dunia



Keluguan menjerumuskan

Melukai teman tanpa kesadaran

Dan keluguan menjerumuskan

Melukai teman, ikatkan diri pada kesengsaraan



Sampai kapan kau akan terus menunggu?

Mendengar buaian lagu merindu

Dari seorang biduan yang punya banyak pasangan

Dari seorang pahlawan yang menambah garis kemiskinan

Dari seorang sastrawan yang menulis sejarah kebohongan

Dari seorang bersinar hitam yang mengaku dirinya Tuhan



Kita bukan penguasa, kita rakyat jelata

Bekerja dan berdoa

Kita bangsa yang besar

Berdirilah yang tegar!



Jangan menghina, tapi lirik lagu Nyanyikan Lagu Perang dan beberapa lagi yang ada di album Black Light Shine On betul-betul menjadi mesin pemompa darahku. Mungkin itu semacam lagu Working Class Hero atau Redemption Song versi anak muda (tapi bukan mahasiswa) kelas menengah Indonesia. Liriknya harusnya bisa membuat orang-orang yang dituju (anak muda kelas menengah tadi) malu kalau dirinya cuma bisa mengobrolkan protes kenaikan harga sembari makan siang sampai kenyang, membahas headline berita di media-media nasional tentang kebusukan pemerintah, mengumpat orang atau institusi yang nun jauh di sana. Atau harusnya juga membuat malu sarjana-sarjana pengangguran seperti aku dulu yang mengeluh industrialisasi, kapitalisme, stereotipe dan diskriminasi, dekadensi masyarakat, sampai mencaci maki lagu pop, padahal sebenarnya akunya sendiri yang malas, manja, dan bahkan sikap seperti itulah yang mendukung semua hal yang kucaci maki.



Semakin hidup itu susah, semakin mudah caci maki keluar. Makin banyak juga orang yang sudah bangga karena bisa mencaci maki, ngrasani, atau biar lebih keren hal itu disebut diskusi. Banyak juga yang merasa sudah pintar karena membaca koran atau melihat berita di TV tanpa kroscek dari minimal lima sumber dan media berbeda. Itu hanya sedikit dari beberapa jargon yang akhir-akhir ini sering datang, melintas di kepala dan kuamini. Ada lagi, jangan mengharapkan revolusi (boleh dibaca: perubahan) kalau bisanya baru demonstrasi. Seringnya berita demonstrasi mahasiswa yang diliput media massa (meski mestinya juga dipilih-pilih) malah bikin orang jenuh, menganggapnya bodoh, seperti sinetron, atau masih mending sinetron ada ceritanya daripada demonstrasi yang tidak ada hasilnya selain benjol. Payahnya lagi, selain banyak orang mudah menelan mentah omongan media, banyak juga tukang generalisasi. Kalau di TV, mahasiswa banyak yang demo dengan cara sama (yang hasilnya juga sama: nol), lalu ada juga mahasiswa yang pakai jaket almamater (supaya meyakinkan) lalu ikut acara-acara diskusi atau lawak dengan sisipan kritik politik dan mempertanyakan hal-hal klise. Padahal sehari-harinya, masyarakat juga melihat banyak mahasiswa yang katanya membela rakyat itu kok sok-sokan, eksklusif, suka aneh-aneh, malam minggu cuma pacaran, main game online, kumpul kebo (masyarakat yang sok moralis juga masalah lain), atau ada juga yang kriminal. Pudarlah sudah citra mahasiswa (juga LSM, mungkin), berkat propaganda korporasi media plus konyol dan naifnya mahasiswa sendiri. Suka menggeneralisasi mungkin sifat bawaan kita (termasuk aku), entah karena mental primordial, poskolonial, akibat kontrol pemerintah represif selama puluhan tahun, atau apa.



Kalau melihat lebih lanjut, aku sering kali membatin kalau ada hal lain yang membuat masalah di negara ini selalu bertambah dan pihak yang salah tetap tenang-tenang saja. Masalahnya adalah orang sering tidak memahami makna. Memang makin banyak orang (mungkin kadang termasuk aku) yang suka memakai istilah rumit-rumit, atau mengutip pemikiran pakar yang lagi ngetren. Apakah ia benar-benar paham dengan yang dikatakannya, itu soal lain. Barangkali itu biar kelihatan kosmopolit. Padahal, membedakan antara kritis dan sinis saja banyak orang masih kesulitan. Sinis didasari oleh rasa benci atau iri. Sedangkan kritis didasari oleh rasa ingin memperingatkan dan membantu orang lain menjadi lebih baik. Sedangkan yang lain menyamakan protes dengan kritik. Karena itu sering dengar, kalau memprotes pemerintah atau DPR mestinya juga disertai solusi. Tapi kalau pendapatku, jadi pemerintah kok bego, tidak punya solusi. Menurutku orang protes karena merasa dirugikan secara fisik. Jadi, misalnya ada dokter menangani pasien yang sedang sakit dan teriak-teriak "Aduh.. aduh!". Apakah dokter itu mesti bertanya "kamu itu bisanya kok cuma aduh aduh, beri tahu saya harus ngapain dong!" Kalau tahu, buat apa ke dokter? Lain lagi dengan kritik. Itu lebih kepada ide, pemikiran, dan mestinya juga disertai solusi. Jadi, lebih seperti dialog. Positif ketemu negatif untuk menghasilkan kesimpulan yang baik untuk keduanya, dan terus berkembang sampai tahap-tahap tak terhingga.



Dan baru-baru ini aku juga mendapat kosakata baru "Bonoisasi" dari (artikel tentang) buku Shock Doctrine karya Naomi Klein yang sedang banyak dibahas di mana-mana itu. Bonoisasi ini adalah tentang orang masa kini yang memilih ngomel dan mengkritik lewat blog, milis, forum diskusi maya, komentar di situs-situs berita, petisi online, atau cara-cara aman lainnya ketimbang terlibat langsung menjadi aktivis. Seperti vokalis U2, Bono yang memang meneriakkan hapus utang negara ketiga, tapi itu dilakukan di atas hingar bingar panggung konser. Lagi-lagi katarsis, pelampiasan emosi belaka. Dan lagi-lagi aku pun sedang melakukannya saat ini. Naomi Klein mungkin mengkritik dalam konteks negara seperti Inggris atau AS, yang iklim demokrasi, kesejahteraan dan akses-aksesnya pada sumber informasi, atau juga pragmatismenya jelas beda dengan negara seperti Indonesia, tapi intinya adalah ia mempertanyakan apakah suatu langkah yang didasari keinginan mengalami perubahan itu ada hasilnya atau tidak. Apakah rame-rame mengadakan pawai kebhinnekaan keliling kota sudah membawa hasil bagi yang dibela atau tidak? (moga-moga saja sih, paling tidak semoga organisasi kelompok bajingan penakut itu dibubarkan dan kepala bajingan berjenggot itu bisa benar-benar dipenjara lama, meski aku sedikit agak pesimis). Apakah kampanye Mayday tiap tahun sudah pernah berhasil menaikkan UMR, menghilangkan sistem kontrak, atau meningkatkan kesejahteraan buruh atau tidak. Kalau tidak, hal seperti hanya akan menjadi katarsis atau ajang rame-rame saja.



Mental pengangguran dipadukan pengetahuan yang cuma sedikit tapi merasa sudah tahu banyak. Hasilnya tak jauh dari sekadar pandai teriak-teriak, mengeluh, mengumpat, menjadi benalu, atau direkrut organisasi penjahat dan intelektual palsu. Tapi ini bukan berarti aku setuju dengan ucapan seorang pendiri usaha konsultasi perencana keuangan yang beberapa waktu lalu seminarnya kudatangi demi tugas kantor, yang waktu itu ia bilang, kita tidak usah memikirkan kenaikan harga karena kenaikan harga tidak memikirkan kita. Ndasmu! Kata-kata yang kelihatan indah tapi egois dan bodoh. Meski keadilan itu utopis tapi memperjuangkannya adalah upaya realistis. Setiap orang tetap wajib melengkapi diri, baik untuk menghidupi dirinya sendiri maupun untuk memperjuangkan perubahan bersama-sama, tentunya dengan cara yang efektif. Sederhana tapi sulit, bukan? Namanya juga katarsis. Hahaha...



*) maaf, ini tulisan ruwet.. pikiran saya sedang seperti tong sampah setengah penuh yang tak sengaja tertendang, tumpah