Sejak kecil aku selalu bertanya-tanya, seperti apakah salju itu. Adakah ia sama dengan bunga es yang biasa kujumpai di lemari es ibu? Bagaimanakah rasanya ketika ia meleleh di tanganku? Dan bila kurasa dengan lidahku, adakah ia manis, tawar, atau asin? Pertanyaan-pertanyaan yang dulu pernah kucoba cari jawabnya dengan memasukkan tubuh mungilku di lemari es ibu yang juga mungil.
Hingga kini, ketika aku bukan lagi bocah usia empat tahun yang belajar dunia dari halaman-halaman majalah Bobo, aku masih sering bertanya-tanya bagaimana rasanya menyentuh salju. Aku belum pernah tahu. Saking besar keinginanku untuk menyentuh benda putih dari langit itu aku pernah punya satu permintaan yang agaknya sukar terkabul. Pintaku pada TUHAN, turunkanlah salju di kotaku; atau bawalah aku ke tampat dimana aku bisa menyentuh salju; terutama ketika Natal tiba dan Salju putih berkilauan menyelimuti bumi. Bukannya aku tak tahu prinsip-prinsip geografis yang dulu pernah diajarkan semasa Sekolah Dasar; tapi bukankah tiada yang mustahil bagi DIA?
Ah, selama seperempat abad hidupku, DIA belum juga mengabulkan permintaanku. Natal tahun ini aku benar-benar berharap ia menurunkan salju di kotaku ketika sepi benar-benar mendominasi warna hari-hariku. Ketika aku begitu ingin beranjak dari kotaku yang mungil dan sedikit terpencil. Namun betapapun aku memohon IA tak jua menjawabnya. Hingga malam Natal itu, seorang teman menawarkan untuk mengikuti ibadah Natal di gerejanya. Sejenak aku mempertimbangkan tawarannya; terbayang sudah perayaan Natal di gerejaku. Tata caranya tergambar jelas, dan aku begitu menikmatinya. Namun entah mengapa akhirnya aku memutuskan untuk mengiyakan tawaran temanku itu. Jadilah malam Natal itu kurayakan di gereja temanku yang ukurannya lebih kecil dan tata caranya lebih singkat. Kecil, sekecil kotaku yang tak pernah bersalju, dan hangat sehangat kotaku pula yang memang berada di wilayah tropis. Entah mengapa, aku telah terlupa pada apa yang dikatakan pendeta di gereja itu atau kata-kata temanku ketika kebaktian usai. Aku hanya ingat betapa tersentuhnya aku pada suasana malam itu. Jarak antara aku dan pendeta saat itu terasa begitu dekat; tak sejauh ketika aku berada di gerejaku sendiri yang ukurannya lebih besar. Dan seketika aku merasa begitu dekat denganNYA; begitu dekat hingga aku dapat menyentuh tanganNYA.
Pada saat itu pun aku terhenyak; terhempas pada satu kesadaran yang menohokku telak. Selama ini aku selalu ingin berada di tempat lain, merasakan hal-hal yang bukan milikku, menginginkan apa yang tak kumiliki; rumah orang lain, keluarga lain, keahlian orang lain, kesempatan orang lain... kehidupan orang lain; di tempat lain. Segala keinginan yang membabi buta ketika DIA sudah memberikan sebuah hidup yang indah buatku; sebuah rencana yang indah... Aku sudah lupa isi homili Natal, ataupun warna baju yang dikenakan temanku dan dekorasi gereja mungil itu yang semarak menyambut Natal. Namun aku tak pernah lupa betapa aku telah menyentuh salju di kotaku yang tropis ketika aku melepaskan segala keinginanku dan berserah pada rencanaNYA; ketika aku mencukupkan diriku dengan apa yang ada padaKU.
Ternyata inilah rasanya menyentuh salju.
GBU
anita
Submitted by
clara_anita
on