masih tersisa derap langkah kakimu
di atas lantai kayu rumah ini
masih bergaung nyaring lengkingmu
ketika tangan tua ini menyerikan pahamu
ah anak muda anakku lanang
betapa hati ini selalu tertegun
bila terbaca di sudut-sudut koran
ada narkoba terselip dalam tas sekolah
anggur merah tertumpah di ranjang anak dara
dan berita belati di perut terkoyak
terletup tanya di dada tua
adakah engkau anakku lanang
terselip di berita nista ?
masih ingatkah derap langkah kakimu
di atas lantai kayu rumah ini ?
masih ingatkah tamparan tangan tua ini
menera kasih di paha kecilmu ?
ah anak muda anakku lanang
betapa hati ini selalu tertegun
bila mereka yang datang dari kota
membawa berita tentang kaummu
yang merubah sekolah menjadi medan laga
yang membuang nista dalam gereja
yang menukar nyawa dengan nikmat sesaat
menggeletar tanya di hati tua
adakah engkau anakku sayang
berdiri di antara mereka ?
ah anakku lanang anakku sayang
betapa rinduku melihat matamu nyalang
seperti dulu ketika kau marah disebut banci
hanya karena kau tak mau diajak mencuri
ingin aku melihat kau kembali
membawa ilmu untuk desa kecil ini
dan membawa nyalang matamu tetap
hingga dapat kucungkil bongkah-bongkah bangga :
- anakku tak berubah di kota sana
PS : Salam untuk Joli.