Submitted by andryhart on


Yesus dilecehkan, disiksa dan disalib dengan kawalan pasukan tentara Romawi
dan sorakan penduduk yang semuanya telah menghakimi Yesus tanpa keadilan sama
sekali. Tidak ada seorang penjahat besar pun pernah mengalami peristiwa kejam
seperti itu pada saat dirinya akan dihukum mati. Kepada seorang penjahat yang
akan dihukum mati biasanya masih diberikan kesempatan untuk mengajukan
permintaan terakhir yang akan dipenuhi oleh pihak penjara. Yesus sama sekali
tidak mendapatkan hak untuk mati sebagai manusia. Yesus telah dihina dan
disiksa sebelum hukuman mati dijatuhkan. Hukuman mati itu pun berupa penyaliban
yang kejam karena tidak segera membuat-Nya meninggal.

Ketika disalib, sebilah paku sepanjang 15 hingga
20 cm dengan bagian ujung yang tajam sepanjang 6 cm ditancapkan pada kedua pergelangan
tangan (bukan telapak tangan) Yesus. Tusukan paku ini telah menyebabkan
putusnya tendon (urat-urat) yang berjalan dari tangan ke bahu. Putusnya tendon
ini membuat Yesus tidak bisa bernafas dengan otot-otot bahunya sehingga dia
harus menggunakan otot-otot punggungnya untuk membantu-Nya bernafas dengan
menopangkan berat badannya pada kedua belah kakinya. Sebilah paku yang
ditancapkan kepada kedua kaki yang disatukan membuat Yesus tidak bisa menopangkan
berat badannya dengan baik sehingga Dia harus berganti-ganti posisi untuk tetap
bisa bernafas. Peristiwa ini berlangsung selama 3 jam sebelum kematian terjadi.
Dan perlu diingat bahwa sebelumnya Yesus juga sudah mengalami kelelahan karena
harus memanggul salib seberat hampir 30 kilogram dan berjalan sepanjang 2
kilometer di bawah siksaan tentara Romawi serta lemparan batu dari orang-orang
yang menyaksikan tanpa mendapat kesempatan untuk minum. Karena itu, ketika
lambungnya ditusuk dengan tombak sudah tidak ada setetes pun darah yang
mengalir. Yesus telah kehabisan 3,5 liter darah! Hanya cairan di dalam rongga
tubuhnya yang masih tersisa dan mengalir keluar lewat luka tusukan tersebut.

Mendengar
kisah penderitaan yang luar biasa ini, seorang teman Muslim mengatakan kepada
saya, “Di situlah letak perbedaan iman
kita. Kitab suci saya mengajarkan bahwa Yesus tidak disiksa sedemikian rupa
karena telah diselamatkan Allah pada saat-saat terakhir dengan mengangkat-Nya
langsung ke surga. Karena Allah begitu mahakuasa dan Allah tidak akan
membiarkan diri-Nya dilecehkan oleh umat-Nya sendiri.
” Saya tidak ingin
berdebat tentang iman kepercayaan kami tetapi bersedia berdiskusi dengan dia
asalkan tidak menggunakan emosi tetapi akal sehat. Iman saya memang mengajarkan
bahwa Allah melakukan semua itu untuk menebus dosa umat-Nya yang telah
melanggar perjanjian antara manusia dan Allah lewat ketidakpatuhan Adam dan
Hawa. Tubuh dan darah Yesus diperlukan sebagai lambang perjanjian baru yang
dibuat antara Allah dan umat-Nya. Dan, saya juga mengatakan kepada teman saya
bahwa rencana Allah sungguh mahatinggi dan di luar nalar manusia. Dalam Injil Yesaya 55:8-9, Allah mengatakan, "Sebab
rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah dan jalanmu
bukanlah jalan-Ku. Seperti tingginya langit dari bumi demikianlah
tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu."

Namun terlepas dari iman kepercayaan ini, menurut
logika saya, ada lima hal penting yang telah diajarkan kepada kita lewat
peristiwa penyaliban. Yesus telah mengajarkan kepada umat manusia untuk:

  1. Memimpin
    dengan cara melayani. Lihat teladan yang diberikan Yesus dengan
    membasuh kaki para murid-Nya (Injil Yohanes 13:5-14). Jika kepemimpinan
    dengan kuasa tidakakan langgeng (karena orang yang dipimpin tidak akan
    patuh lagi setelah kekuasaan hilang), maka kepemimpinan dengan cara
    melayani bersifat abadi dan hal ini terbukti dengan bertahannya agama
    Kristen kendati Yesus sudah meninggalkan umat-Nya. Kita harus ingat
    bahwa para pengikut Kristus dalam masa gereja perdana selama 300 tahun
    mengalami kesengsaraan di bawah penindasan kerajaan Romawi.
  2. Mengampuni
    orang yang berbuat dosa tetapi tidak mentolerir dosanya. Yesus berkata
    dalam Injil Yohanes 8:11, kepada wanita yang berdosa, "Aku tidak
    menghukum engkau. Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi."

    Kalimat Aku tidak menghukum engkau dan pergilah
    berarti Yesus mengampuni wanita itu tetapi kalimat jangan berbuat dosa lagi
    menunjukkan bahwa Yesus tidak bisa mentolerir dosanya. Kita harus
    meneladani Yesus dengan berfokus kepada kesalahan bukan orangnya ketika
    menghadapi orang-orang yang menyakiti hati kita atau berbuat kesalahan
    kepada kita.
  3. Tidak boleh bersikap sombong dan
    menghakimi orang lain baik dalam bentuk kata-kata maupun perbuatan. Dalam
    Injil Matius 26:51-52, Yesus memberikan teladan dengan menyembuhkan
    telinga pasukan yang menangkapnya di taman Getsemani ketika salah seorang
    murid-Nya memotong telinga orang itu dengan pedangnya. Dalam kisah
    tersebut, Yesus berkata, “Barangsiapa
    menggunakan pedang akan binasa oleh pedang."
    Begitu pula dalam Injil
    Matius 7:1, Yesus juga berkata,
    Jangan kamu menghakimi supaya kamu
    tidak dihakimi.
  4. Tidak boleh menaruh dendam di dalam
    hati kita tetapi sebaliknya kita harus mengasihi musuh sekalipun. Peristiwa
    seperti perperangan yang tidak pernah berhenti antara orang-orang
    Palestina dan Yahudi, terorisme yang terjadi ketika para pembajak
    menabrakkan pesawat ke gedung WTC, penyerbuan tentara Amerika ke Irak dan
    seterusnya terjadi karena kedua pihak menggunakan ayat “Mata ganti mata, gigi ganti gigi" seperti tercantum
    dalam kitab Taurat/Perjanjian Lama (Keluaran
    21:24, Imamat 24:20, Ulangan 19:21). Sebaliknya dalam Matius 5:38-39 yang
    bagi orang-orang bukan Kristen merupakan ayat kontroversial, Yesus
    mengajarkan untuk tidak membalas kejahatan. Pelajaran ini bisa dipahami
    karena dari pengalaman kita selama ini,
    dendam bukan hanya menghasilkan permusuhan
    turun-temurun yang membuat hilangnya kedamaian di muka bumi, tetapi juga
    merugikan jiwa dan kesehatan orang yang menyimpan dendam.
  5. Tidak hanya memiliki orientasi kepada
    kehidupan jasmani (kekayaan, kekuasaan dll.) tetapi juga berorientasi
    kepada kehidupan spiritual secara seimbang. Pengetahuan membuktikan bahwa di
    samping kemampuan intelektual, kemampuan emosional dan spiritual juga sangat
    penting bagi keberhasilan seseorang dalam menyelenggarakan kehidupan dan
    pekerjaannya.

Demikianlah
semua ini hanya merupakan renungan pribadi yang terbuka terhadap koreksi. Tuhan
memberkati... (andryhart).