Suatu sore, setelah bergumul selama lebih dari satu minggu saya memutuskan untuk memangkas rambut saya. Rambut sepunggung hasil penantian selama tiga tahun akhirnya terpangkas cepak hanya dalam waktu beberapa menit saja.
Keputusan ini bukannya tanpa dasar. Rambut saya makin rontok saja dari hari ke hari. Untunglah tekstur rambut yang bergelombang menyembunyikan kerontokan itu. Alasan kedua, seperti kata pamannya Spiderman, "With great power comes great responsibilities"; rambut yang makin panjang menimbulkan ritual yang makin panjang pula. Butuh waktu lebih lama untuk menata rambut, shampo yang lebih banyak, kondisioner yang lebih banyak, dan anggaran untuk membeli jepit rambut yang lebih banyak pula. Sayangnya, saya makin keteteran saja "memikul" tanggung jawab akibat rambut yang semakin panjang itu. Atas dasar efisiensi dan efektifitas itulah, saya putuskan untuk memangkas rambut saya pendek-pendek.
Keesokan harinya, saya benar-benar berhasil mengejutkan teman-teman saya di kantor. Tapi tak lama kemudian sayalah yang dikejutkan dengan komentar mereka.
"Kamu patah hati ya?"
ealah.... patah hati? Lha wong pacar saja nggak punya, gimana mau patah hati? Memangnya kalau mau potong rambut harus patah hati dulu ya?
Sepanjang hari itu, komentar yang berwujud pernyataan yang menyakitkan itu (pasalnya, mereka seharusnya sudah tahu saya masih single , masak harus ditekankan berulang kali) mengalir dari berbagai penjuru. Dari ibu di copy centre, teman-teman kuliah, bapak ibu pustakawan, sampai bapak pemilik warung di depan gang masuk rumah semuanya menanyakan hal yang sama. Mulanya saya berusaha menjelaskan, tapi kemudian saya sadar bahwa penjelasan saya tak berguna. Toh mereka lebih terhibur oleh asumsi mereka sendiri :(
"Insiden" rambut pendek itu kemudian menjadi bahan perenungan saya. Betapa mudahnya manusia tertipu oleh persepsinya sendiri. Persepsi yang kadang berasal dari generalisasi yang belum pasti kebenarannya. Betapa mudahnya manusia tertipu oleh apa yang dilihat mata, dan enggan memahami makna yang lebih dalam. Betapa mudahnya manusia menganggap mengenal sesuatu, padahal ia belum tentu emahami makna hakikinya.
Rambut pendek saya memberikan satu pelajaran berharga buat saya. Sebelum menghakimi, mengkritik, atau menilai seseorang, saya harus benar-benar memahaminya dulu. Bila tidak, bukan tidak mungkin saya akan melompat pada kesimpulan yang salah dan memberikan komentar secara "blink blink." Seperti kata pepatah, jangan nmenghakimi seseorang sebelum kau berjalan satu mil menggunakan sepatunya.
Saya akui sulit memang. Sebagai manusia, kita memiliki banyak keterbatasan; salah satunya memahami hati orang lain yang tak kasat mata. Namun, ijinkan saya membagi tips yang saya dapat dari hasil perenungan ini. Sebelum berucap, mari tanyakan pada hati kita apakah ucapan kita itu bermanfaat, apakah ucapan itu benar-benar objektif ataukah menyimpan motif-motif pribadi, dan apakah kiranya ucapan kita akan membawa manfaat. Bila jawabnya ya, ucapkanlah; bila tidak, pikirkan lagi sebelum berucap.
.... dan akhirnya saya menyadari benarlah adanya: manusia melihat rupa tapi TUHAN melihat hati . . .
Salatiga
Juni 2008