Submitted by ebed_adonai on

Mungkin kekasih-kekasih kaum hawa ada yang pernah mengalaminya di suatu tempat di suatu waktu. Untuk itu pertama-tama ijinkanlah saya menyampaikan rasa simpati atas kesialan yang dialami. Ini bukan guyon. Saya mengerti, untuk tipe kepribadian tertentu, pengalaman ini akan sangat menghantui di sepanjang hidup yang bersangkutan. Traumatis. Semoga anda bisa melewatinya seiring berlalunya waktu.

Saya akan membahasnya secara rileks aja. Dari sudut pandang seorang awam, bukan psikolog, sosiolog kriminal, dll. Hanya dari nurani seorang suami dan ayah dari dua putri yang mulai beranjak dewasa, thus, rentan untuk mengalami peristiwa seperti ini.

Not long ago, topik ini menjadi bahasan yang menarik di FB. Klise memang cara-cara yang dilakukan. Pura-pura ngantuk, pura-pura mepet karena penumpang penuh, lalu "kerajinan tangan" diperbanyak. Terkadang si korban cepat tersadar, kadang juga tidak. Mungkin tergantung dari level keawasan si korban juga. Sedang mengantuk, mikiran pacar, atau apalah, sehingga yang bersangkutan tidak sadar kalau ada tangan-tangan nakal yang mulai menggerayangi bagian-bagian tubuh tertentu.

Ada seorang temin semasa kuliah dulu. Do'i tergolong cewek sangar. Tipikal Angelina Jolie dalam Tomb Raider. Cakep, berambut panjang, tinggi semampai, dan berani pula pembawaannya (saya sendiri pernah kena getahnya diseneni waktu sama-sama kerja praktek di Kudus dulu). Tapi hatinya baik kok (miss u a lot, non..). Sekali tempo, begitu nyampe di ruang kuliah, do'i cerita kalau tadi di angkot sempet diraba-raba oleh seseorang yang tidak kenalnya. Spontan do'i marah-marah ke orang tersebut. Saya jawab, "Eits, hati-hati non, kalau dia jadi tersinggung berat dan malah lebih mengerasimu ntar bagaimana? Kalau dia jadi betul-betul kasar?"

Do'i terdiam...

Imho, itulah masalah yang terbesar. Bagaimana tindakan yang tepat, langsung di tempat, tanpa mengorbankan safety si korban. Saya sampai pada kesimpulan begini. Orang-orang seperti itu selalu tersedia di mana-mana. Rasa-rasanya, tidak akan ada cara yang efektif, supaya villains seperti itu tidak berkeliaran di dalam alat-alat transportasi umum maupun ruang publik.

Lha piye carane jal?

Mana ada alat yang bisa mendeteksi keberadaan manusia dengan perilaku jahil seperti itu (atau ada?). Jangan dibayangin mereka itu mesti kumal, lusuh, tampang cabul, sangar, dengan kumis melintang seperti pak Raden. Kata mantan pacar, yang sudah beberapa kali kena kasus serupa, penampilannya baik-baik aja kok. Rapih. Wajah juga lumayan (ini nih kadang yang bikin saya heran, kok sempat-sempatnya dia ngamatin kalau pelakunya ca'em juga, hihi..). Tapi tahu-tahu, retsleitingnya diturunin.

"Lalu ngapain dianya?" tanya saya lebih lanjut sok cool di depan komputer, pura-pura nggak tahu (memang sengaja saya bawa-bawain ringan aja, supaya do'i nggak traumatis).

"YA DITONGOLIN LAHHHH....., ADUHHH KAMU INIII..!!"

Demikian omelannya, seraya meninggalkan saya masuk ke kamar. Kalau sudah begini, siapa memang yang nggak kaget tujuh turunan, biar kata itu ibu-ibu yang sudah pengalaman bertahun-tahun menghandle perkakas sejenis. Itu ibu-ibu. Yang noni-noni? Jangan ditanya lagi.

Ngerinya, pernah lihat di tv, mengenai kasus sejenis yang menimpa seorang pengguna wanita gadungan (sedang menyamar) di dalam bus Transja***ta. Ada tuh manusia iseng nyang mulai bikin tindakan sexual harassment ke si mbak agen rahasia tadi. Si mbak komplain ke sekuriti yang ada di dalam. Ealah, do'i diem-diem aja. Begitu juga para penumpang nyang laen. Kata Iwan Fals, "..Busettt..."

Karena itu, saya lebih fokus pada metode penanganan masalahnya aja. Dengar-dengar nih, di Jakarta misalnya, mau dipasang semacam kamera pengintai di tempat-tempat umum. Katanya baru sebatas untuk pelanggaran lalin. Nggak tahu ke depannya. Tapi terus-terang saya agak skeptis dengan kehandalannya (di tempat-tempat mana aja, seberapa cepat reaksi mengatasinya?). Kalo di luar negeri, katanya pake pepper spray. Tapi kalau di sini mungkin masih sulit untuk dicari. Mau minta tolong, kayaknya sulit (lih. di atas). Kalau di dalam angkutan umum, sepertinya jalan yang simpel dan efektif, ya, minta turun. Tapi itu juga agak susah, kalau pas melintas di area yang tidak boleh berhenti misalnya. Apalagi kalau kasusnya lumayan ekstrim, seperti yang pernah dialami istri saya.

Dan jika demikian, paling tidak ada satu senjata pamungkas terakhir. Ini terserah mau dianggap porno, main-main, atau apa. Saya tidak bermaksud untuk untuk mengajari menyakiti seseorang. Sekali-kali tidak. Juga bukan maksud saya untuk menjadikan ini sebagai suatu hal yang wajib untuk dilakukan (please read this carefully), karena situasi seperti itu bisa menjadi sangat kritis. Concern saya cuma satu: Save yourself. Bagi yang nggak punya nyali, sebaiknya jangan saja. Alihkan saja perhatian anda, berdoa, dan turunlah secepat mungkin di mana ada kesempatan. Namun kalau memang sudah terpojok betul, kuatkan diri, julurkan tangan, dan secepat kilat GREMEKKK "itu"nya sekuat-kuatnya (bagi yang hobinya ngulek sambel cobek, saatnya untuk mengeluarkan power anda semaksimal mungkin)..

DIJAMIN, untuk beberapa saat dia akan kehilangan tenaga mengusili anda...

(....Rasain lu....)

Lalu cari timing yang pas.., dan tinggalkanlah lokasi secepat mungkin.. Selamat sampai di rumah...

 

------------------------------------------------------------------------------------------------------------
PS: Kok saya jarang mendengar kasus serupa dialami kaum Adam ya? Aneh...