Submitted by
king heart
on
Sepak bola, topik apalagi yang lebih santer dan gayeng dibicarakan selain sepak bola. Lupakan sejenak pembicaraan masalah kemiskinan, kelaparan, bencana atau korupsi. Dari rakyat biasa samapai pejabat semua berbicara tentang sepak bola. Komentator atau pengulas sepak bola dadakan yang ahli bermunculan seperti cendawan di musim hujan. Bak seorang yang pernah mengecap kedahsyatan sepak bola tinggat dunia, semua dengan gayanya mengulas bahkan sampai hal hal yang teknis. Pesta olah raga empat tahunan ini, memang memikat dengan semua pernak perniknya.
Jerman tak pelak menjadi tim yang banyak dibicarakan dan diulas berkat kemenangan sensasionalnya atas Inggris dan Argentina yang lebih diunggulkan dan tentu saja dengan permainannya yang apik dan ciamik.
Beberapa ulasan di media, menggambarkan Jerman merupakan tim yang menggabungkan keunggulan fisik, bakat, teknik dan system yang tertata sangat rapi. Tentu tidak boleh dilupakan kejeniusan sang pelatih Joachim Loew dalam meramu susunan pemain. Semua ini bermuara pada Klinsman yang didapuk sebagai pelatih Jerman pada Piala Dunia sebelumnya dengan Loew sebagai asistennya. Meski jasa Klinsman dalam merevolusi sepak bola Jerman begitu besar, tentu tanpa kejeniusan Loew, tim yang hebat tidak bakal bisa dibentuk seperti sekarang.
Menarik sekali jika coba dipetakan mengenai tim lain dengan gaya khas masing masing. Belanda dan Brazil disebut sebagai tim yang kehilangan roh permainan yang menjadi ciri khasnya. Brazil di bawah pelatih Dunga disebut lebih mengedepankan gaya pragmatisme dibanding gaya bermain indah yang menjadi ciri tim Brazil berpuluh puluh tahun. Yang penting memenangkan pertandingan bukan permainan, tak terlihat lagi gaya gocekan bola sambil tersenyum riang kelihatan bergembira seperti Ronaldinho yang sangat terkenal itu. Semua menjadi serba teratur, lupakan keindahan jika keindahan itu menyebabkan kekalahan.
Belanda juga sudah melupakan Total Football mereka. Sama dengan Brazil mereka juga menomor-satukan kemenangan. Hanya dikarenakan lebih beruntung dan bermain lebih tenang dan menjaga emosi, mereka bisa mengalahkan Brazil. Ketika tim Oranye ini masih mengusung gaya Total Football di masa jayanya, seorang pemain dikabarkan berlari belasan kilometer dalam satu pertandingan. Posisi pemain menjadi kurang penting di dalam permianan mereka. Masih akan kita lihat bagaimana kiprah Belanda selanjutnya.
Lain dengan Inggris, dari awal mereka terkenal dengan permainan cepat mereka yang mengandalkan kekuatan fisik. Di tambah satu dua pemain hebat, maka kloplah perpaduan mereka menjadi tim yang menakutkan lawan. Dulu jarang sekali pemain Inggris bermain dengan pola operan pendek. Sekarang dengan mejannya pemain bintang mereka akibat kelelahan selama kompetisi liga maka kekalahan memang sulit sekali dielakkan.
Argentina lain lagi. Argentina merupakan tim dengan Dewa / Tuhan Bola sebagai konduktornya. Sindhunata dalam ulasannya di Kompas menulis Maradona disebut El Dios de Futbol, si Dewa / Tuhan Sepak Bola. Dios bahkan ditulis dengan D 10 S, angka 10 merupakan angka punggung keramat si Tangan Tuhan. Dari awal karir melatihnya, Maradona sudah dicibir karena tidak mempunyai pengalaman melatih. Argentina lolos ke putaran final Piala Dunia pada saat saat terakhir dengan tidak meyakinkan. Hanya karena permainan mereka yang membaik dan menjadi juara gruplah membuat banyak kalangan cukup optimis terhadap mereka. Lihat saja bagaimana Maradona membebaskan Messi beroperasi di manapun ia suka dengan alasan agar jalan kreativitas jeniusnya bisa dikeluarkan. Pendeknya pakem bermain sepak bola coba diterobos oleh Maradona dengan caranya melatih. Ia tampaknya percaya kejeniusan bisa mengalahkan skema dan sistem apapun dalam sepak bola. Barangkali moto Argentina adalah “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” mengutip Roma 8:31
.jpg)
Jerman akhirnya mempecundangi Argentina dengan telak, sangat telak bahkan 4-0. Maradona mengibaratkan dirinya menerima hunjaman pukulan dari Muhamad Ali. Komentar menarik datang dari George Ratzinger, seorang imam saudara Paus Benediktus XVI :” Argentina mempunyai tangan Tuhan, tetapi Paus Benektus XVI mengacungkan jempolnya untuk Jerman.”
Ada hal menarik lain berkenaan dengan Piala Dunia ini yaitu Castrol Index. Castrol Index adalah sistem yang menghitung secara objektif performa pemain di Piala Dunia. Data statistik pemain seperti kecepatan lari, ketepatan mengumpan, daya jelajah dan lain lain merupakan sumber utama indeks ini dibuat.
Nama nama Gary Wedel, Waldo Ponce, Christian Riveros yang pernah mengisi top ten indeks beberapa waktu lain, tak pelak merupakan nama yang asing dan barangkali berasal dari negeri antah berantah. Jika bukan maniak bola atau komentator yang akan membahas tim dengan pemain pemain di atas, dipastikan nama itu cuma sekedar dilirik dan dilupakan dengan cepat.

Castrol Index Legends yang memuat pemain legenda di Piala Dunia pun tidak kalah mengherankan karena nama Pele tidak termasuk dan indeks angka Maradona lebih kecil dibandingkan dengan Gerd Muller bomber asal Jerman. Jika ditanyakan kepada pencinta bola, maka Castrol Index ini akan dibuang ke tempat sampah.
Jika Castrol Index dipakai sebagai acuan memilih pemain maka dipastikan kita akan kehilangan tontonan menarik dan barangkali pemain bintang sulit sekali masuk line up pemain untuk mempertontonkan kepiawaiannya bermain bola. Seni bermain bola akan berlalu begitu saja. Barangkali boleh disebut sepak bola yang kehilangan konteksnya ha ha ha ha

Beberapa blogger di SS barangkali secara sederhana bisa di keompokkan seperti cara bermain tim sepak bola di atas. Ada yang mengutamakan cara yang teknis sekali sehingga pembacanya semakin membaca semakin tidak mengerti dan garuk garuk kepala. Ada yang mengutamakan “Tuhan” tetapi berlaku konyol sehingga ketika terjerembab dan terjengkang pun tidak sadar. Ada yang merasa sudah mengalahkan lawannya namun tidak mengerti mereka hanya menggiring bola berputar putar di tengah lapangan. Ada yang semua harus tertata rapi, komposisi harus jelas ( mau 442, 433, 451 dst ) tetapi sedikit diserang sudah kelabakan sehingga tackling keras menjadi senjatanya. Dan lain sebagainya. Untungnya di SS, kartu kuning maupun merah jarang sekali dikeluarkan jika keadaan tidak memaksa.
Ya, lupakan itu semua, yang penting bergembiralah dan nikmatilah pertunjukan ( sepak bola maupun SS ). Mau jelek maupun cantik itulah permainan. Selama masih bisa tertawa meskipun kecut berarti masih ada hiburan. Ha ha ha

Partai menarik di depan adalah Spanyol dan Jerman. Apakah Matador Spanyol nan rupawan mampu mengelakkan serangan Banteng Jerman yang barangkali bisa waton nyeruduk kemudian menancapkan pedangnya yang mematikan. Atau barangkali si Banteng malah yang menghunjamkan tanduknya di perut si Matador ? Walahualam, kita tunggu saja.
Saya akan sangat bergembira jika Jerman dan Belandalah yang ada di partai final. Sayang, yang dari Spanyol sudah ada dan siap tampil tetapi yang dari Hongkong tidak tampak batang hidungnya. Jika tidak, Spanyol VS Hongkong mungkin akan menjadi tontonan yang sangat menarik he he he,.
Selamat menikmati.