Submitted by Miyabi on

Membaca dennis dan dreamz menyinggung the law of deminishing return, saya pun jadi ingin membahas istilah ekonomi yang lain, yaitu soal broken window fallacy, sebuah kesalahan berpikir yang mengabaikan hidden cost (biaya tersembunyi) yg terjadi ketika kita merusak barang milik orang lain.

Diceritakan ada seorang anak yang bermain bola dan memecahkan sebuah jendela di toko milik ayahnya. Sang ayah kemudian mengeluarkan uang, membeli kaca baru untuk memperbaikinya. Kemudian ekonomi berputar, pemilik toko kaca menerima uang itu dan membelanjakannya sebuah sepatu baru. Tukang sepatu kemudian membelanjakan uang itu untuk keperluan lain dan seterusnya. Skenario serupa telah menjadi bagian dari hidup sehari-hari. Kemalangan satu pihak menjadi sumber manfaat bagi banyak orang. Sedemikian biasanya, dan sedemikian kita mendapat manfaat dari kejadian tersebut, sehingga perhatian kita teralih dari fakta bahwa ada satu pihak yang telah dirugikan.

Satu hal yang kemudian terpikirkan oleh saya adalah, bagaimana jika perbincangan ekonomi tersebut kita geser ke persoalan sosial, di mana kerugian ekonomi (biaya perbaikan jendela pecah) kita tukar dengan kerugian non-ekonomi?

Bagaimana jika seseorang melakukan tindakan tidak menyenangkan bagi seseorang yang lain. Namun dari peristiwa tersebut orang-orang di sekitarnya mendapatkan hikmah/pelajaran. Apakah ini termasuk dalam broken window fallacy?

Am I being too sensitive? Ataukah apa yang disinyalir oleh JF sebagai "ampas" dalam salah satu blognya ADALAH indikasi adanya hidden cost yg ditanggung orang tertentu demi pesta pora pembelajaran sejumlah besar orang lain.

Menurut Derrida, naluri membunuh tidak bisa dihilangkan, dan menulis adalah salah satu petak permainan dari naluri membunuh dalam diri kita

Menulis adalah terapi yang baik untuk menyalurkan hasrat merusak. Bila saya punya pengalaman lampau yang ungu, maka dampak dari ungu tersebut bisa saya salurkan melalui menulis. Menulis apa yang ungu tentu sehat bagi saya, meski tidak berarti demikian bagi yang membaca. Orang-orang tertentu yang sensitif terhadap warna ungu tentu akan merasa tidak nyaman bila terpapar terus menerus dengan warna ungu dalam tulisan saya. Barangkali saya akan dilarang menulis dalam suatu jurnal masyarakat yang sensitif terhadap ungu.

Ketika menulis dan berkotbah kita membangun wacana. Ada practice of power ketika kita berwacana. Kita berwacana dengan mendesak wacana lain. Tidak ada ruang kosong di mana kita bisa berwacana secara lugu. Selalu ada yang lain yang kita desak ketika kita berada. Ada pembunuhan. Ada kekerasan. Ada korban. Ada jejak.